Kamis, 30 April 2015

Sebuah Pengamatan

Saat masih membaca salah satu esai  Mengenal Orang Jakarta: Mungkinkah? yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma di paragrap  awal diceritakan tentang Budi Darma yang menulis buku Orang-Orang Bloomington, konon buku kumpulan cerita itu ditulis berdasarkan pengamatan ketika sang penulis sedang menimba ilmu di Bloomington. Saya sempat berpikir juga untuk menulis berdasarkan dari pengamatan seperti apa yang dilakukan oleh beliau.

Jujur, rasanya saya kurang sekali mengamati apa yang terjadi, saya adalah orang kabupaten yang pernah berpikir picik tentang tidak adanya hal yang bisa diamati di kabupaten.Ternyata, jika lebih jeli pikiran itu telah menyesatkan. Beberapa hari kemarin, saya mengamati beberapa billboard yang memampang wajah dari bupati kabupaten Bandung, Dadang Nasher. Pada suatu waktu ada sebuah billboard yang bertuliskan “Pilih Mana, dapat uang dari sampah atau banjir karena sampah” saya langsung ingat juga tentang sebuah gerakan kreatif yang digagas oleh walikota Bandung Ridwan bertuliskan “Pilih mana, denda karena nyampah atau traktir aku,” dengan gambar seorang mahasiswi cantik bernama Iis. Komentar saya waktu itu, bupati kabupaten Bandung benar-benar tidak kreatif.

Billboard yang dibuat oleh bupati tidak usah dipedulikan lagi karena pengamatan lain harus berlanjut. Pagi hari, ayah memberikan informasi ringan, kalau hari ini ada pesta rakyat dengan beragam kegiatan ada pentas musik, pameran dan tentunya wisata kuliner rakyat. Sore harinya, saya pergi karena ingin tahu seperti apa pesta rakyat yang dimaksud. Dengan tidak memakan banyak waktu, saya sudah sampai lagi di tempat. Dari jauh belum terdengar kebisingan apa-apa, panggungnya masih kosong hanya suara pembawa acaranya saja yang mencoba mengundang keramaian. Di depan pintu masuk terlihat ada tiga orang remaja yang berselfie ria (tebakan saya) pasti hasil fotonya akan diupload ke facebook atau twitter. Partisipasi aktif masyarakat sekitar belum begitu terasa pada gelaran pesta rakyat ini. Latar belakang ekonomi dan pengaruh akhir bulan bisa jadi faktor, kenapa banyak masyarakat yang enggan untuk keluar rumah.

Selepas shalat maghrib, saya kembali keluar untuk membeli makanan yaitu sate kambing, ditambah gehu  pedas dan cah kangkung. Saat lampu merah menyala, saya berhenti dengan membawa sedikit rasa penasaran. Apakah pesta rakyat malam ini akan ramai oleh masyarakat? Di dekat belokan ada beberapa anak baru gede pengamatan saya tertuju pada sesosok abg yg wajahnya tidak terlalu jelas karena hanya disinari cahaya lampu remang remang. Saya berpikir ketika itu dari manakah abg itu berasal, apa rumahnya berada di gang atau di jalan besar. Apa tujuan dia nongkrong malam ini beda dari malam malam sebelumnya? Lampu hijau kini sudah menyala berakhirlah pengataman saya waktu itu.

Ada satu lagi makanan yang harus saya beli yaitu cah kangkung, mengingat makanan itu harus di masak terlibih dahulu saya menunggu di luar sambil kembali mengamati apa yang terjadi malam itu. Persis satu meter di depan penjual sea food, ada kios batu akik yang terasa sekali masih ramai oleh orangtua dan anak muda yang tergila gila pada pesona batu akik bisa itu dari jenis, warna atau mungkin cerita dibaliknya. Maaf, karena bukan pecinta batu akik tidak ada satu pun namanya yang saya tahu. Beberapa meter motor vespa dan motor jenis lainnya terparkir rapih. Ada beberapa abg yang juga berdiri seperti tidak merasakan dingin karena mereka hanya menggunakan kaos, juga ada yang menggunakan kemeja kotak-kotak. Agar makan malam lengkap saya pun membeli susu murni sekaligus ingin mengamati seperti apa konsep yang disajikan. Nama tempatnya adalah Nyusu Doeloe sepintas bisa mengingatkan pada sebuah kedai kopi dengan nama Ngopi Doeloe atau lebih dikenal dengan Ngopdul konsep tempatnya dikemas menarik tata ruang sederhana tapi tidak mengecewakan. Nyusu Doeloe juga punya logo khusus dengan gambar seorang lelaki khas retro. Kelebihan lainnya adanya free Wi Fi, hari ini siapa yang bisa menolak untuk berlama-lama kalau disuguhi Wi Fi gratis?

Tidak hanya susu, roti bakar, teh dan kopi kemasan, kedai ini juga menyajikan shisa yaitu rokok arab yang punya beraneka rasa. Biasanya pilihan rasanya dari buah-buahan. Bentuk shizanya kecil bisa untuk banyak orang di meja lain ada beberapa anak muda yang dengan lepasnya santai. Oh iya lagu yang diputar malam itu lagu dari Payung Teduh, saya memesan susu dingin rasa coklat. Harganya murah hanya 4.000 rupiah saja.

Berdasarkan dari hasil pengamatan tadi anak muda yang tinggal di daerah mana pun baik itu dekat perkotaan atau punya akses yang jauh, punya keinginan yang berdarah-darah untuk merasakan seperti apa nongkrong dan kebebasan itu. Tidak hanya nongkrong aktivitas lainnya juga bisa dilakukan seperti merokok, bergosip ria, internetan di gadget atau mungkin cuci mata juga bukankah sering kita lihat remaja sekarang itu gaya pacarannya sering kali lebih romantic dari pasangan dewasa yang sudah lama berpacaran. Modal pas pasan pun mereka masih bisa mengajak makan pacaranya walaupun di tempat yang tidak seberapa mungkin juga tidak bergengsi. Sebuah pengamatan ini janganlah dianggap serius karena hanya jejak mata atas sebuah fenomena.

Senin, 20 April 2015

Untuk Apa Datang ke IDEA FEST?

Baru saja, saya menghadiri sebuah diskusi yang sampai acaranya berakhir tidak ada kopi, cemilan apalagi, untuk segelas air mineral gratis pun tidak diberi. Kalau kata penyanyi dangdut Cita Citata “Sakitnya Tuh Disini”

Diskusinya sendiri diadakan di Bandung Creative City Forum atau disingkat BCCF Simpul Space #3 pihak penyelenggara bukanlah dari BCCF tapi promotor acara IDEA FEST di pintu masuk terpampang x banner yang sudah jelas sebagai strategi untuk mempromosikan acara. Pemaparan awal datang dari seorang lelaki asal Surabaya yang merantau ke Jakarta, ia berkecimpung di industry kreatif selama 15 tahun diantara karya karyanya adalah portal online Kapanlagi.com dan Vimela.com

Adapun tema yang diangkat untuk acara nanti adalah “Creativity With Purpose” di mana para pelaku usaha diajak untuk membuat usaha yang membawa nilai sosial yang bisa memecahkan masalah yang ada di lingkungan masyarakat sekitar. Dari setiap pemaparan dengan adanya pengulangan acara beberapa kali jelas sudah nilai “promosi” jadi yang utama. Mungkin nilai nilai lain bisa disampaikan setelah sekiranya proses promosi acara berhasil. Itu

Hadirnya fastival kreatif seperti ini baik itu di Jakarta atau Bandung terkadang membawa kita pada titik jenuh atau bosan apabila pembicaranya itu itu melulu. Tapi rasa bosan itu tidak akan terjadi, kalau pembicaranya bisa memberi angin segar baru dari apa yang disampaikannya nanti. Pembicara populer yang akan hadir adalah Andy F Noya host acara KickAndy disebutkan juga nama lain seperti Rene Suhardono dan Yoris Sebastian.

Baiklah, Indonesia tidak kekurangan tokoh inspiratif di bidang social atau bidang lainnya. Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa Andy F Noya harus kembali menjadi pembicara mengingat di IDEA FEST edisi pertama, dia juga pernah menjadi pembicara. Apa mungkin pihak penyelenggara sudah kehabisan sosok orang inspiratif yang bisa mengundang banyak peserta? Pihak penyelenggaranya sendiri yang bisa menjawab. Bukankah pernah dibawas juga bahwa Rumah Zakat adalah sebuah lembaga social, lalu kenapa tidak coba terobosan baru dengan mengundang pendiri rumah zakat. Bukankah itu relevan dengan tema yang diangkat?

Nama Rene Suhardono saya kenal lewat artikelnya tentang passion di salah satu media online dan bukunya sudah menjadi national best seller, saya pernah melihatnya di toko buku Gramedia. Anak anak muda Jakarta yang punya passion atau mimpi tentu mengenal baik sosoknya bahkan pernah membaca bukunya. Pihak penyelenggara tentu pintar melihat sosoknya yang mampu menarik peserta dari kalangan anak muda. Saya tidak ada rasa benci sedikit pun pada mas atau bang Rene, dalam hal ini saya punya sudut pandang yang lain. Bukanlah seorang yang kreatif itu harus punya sudut pandang yang beda, saya ingin pembicaranya adalah Romy Rafael karena lewat dia, para peserta bisa belajar bagaimana caranya membaca pikiran, neuro linguistic program, micro expression dan body language reading.

Bicara dunia kreativitas di Indonesia nama Yoris Sebastian pasti selalu dilibatkan baik itu sebagai juri, pemateri dan pembicara. Sepak terjang dan karya karyanya sudah tidak diragukan lagi. Tapi, apakah setiap acara harus melibatkannya sebagai pembicara? Bagi orang yang belum mengenalnya tentu akan menjadi sesuatu yang berkesan, tapi bagi yang sudah menghadiri seminarnya tentu akan merasa (sedikit) bosan. Kota kota lain di Indonesia masih dipenuhi oleh orang-orang kreatif yang karya mereka mampu memberi solusi atas setiap permasalahan di lingkungannya, salah satu dari merekalah yang harus mulai dikenalkan ke public yang lebih luas. Pada akhirnya, akan dating waktu di mana orang tidak populer akan dicari daripada yang sudah populer. Alsannya sudah jelas karena bosan.

Tidak tersedianya kopi tentu bisa sedikit terobati dengan melihat dua sosok bidadari dari kota metropolis pertama operator yang duduk bersebelahan dengan moderator. Sosoknya sedikit garang, sungguh mengundang rasa penasaran dan bidadari keduanya adalah mbah uti yang benama lengkap Chaerany Putri founder dari GerakCepat.com, kalau kamu punya ide untuk solusi permasalahan sosial, silahkan kirimkan ide tersebut lewat www.ideafest.id lumayan hadiah totalnya 200 juta untuk tiga orang pemenang.