Tampilkan postingan dengan label Resensi film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2018

Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)


Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.

Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.

Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.

Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.

Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.

Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.

Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.

Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.

Senyumannya mirip Raisa 

Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.

Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.

Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.

Rabu, 01 November 2017

Resensi Film Posesif (2017)



Di ruang lingkup pergaulan sineas indie nama Edwin sering dikaitkan dengan film besutannya "Babi Buta Ingin Terbang" yang berhasil menembus festival film internasional di luar negeri. Nama Edwin sebagai sutradara kembali muncul dalam film "Posesif" tak ingin melewatkan kesempatan ini, saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Sebelum diputar serentak di bioskop, Palarifilms sebagai rumah produksi pernah memutarkan filmnya pertama kalinya di Kineruku pada saat malam Minggu. Edwin dikenal sebagai sutradara fiilm arthouse, arthouse film adalah film yang dibuat secara mandiri tanpa kepentingan komersil. Jaringan distribusinya terbilang terbatas dilingkup komunitas saja. Bagi saya posesif ini adalah film komersil yang digarap pertama kalinya oleh Edwin.

Film ini dibuka dengan sebuah adegan lompat indah dengan soundtrack dari musisi indie yang masih asing. Menceritakan tentang kisah percintaan remaja diperankah oleh Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken) tidak seperti film remaja kebanyakan. Film ini malah menyajikan kisah percintaan remaja yang manis diawal namun beracun diakhir. Putri Mario yang berperan sebagai Lala sebelumnya saya kenal pernah membintangi webseries Axe edisi Keenan Pearce, dia juga salah seorang pendatang baru di dunia film.

Sejak Lala dan Yudhis dihukum oleh guru olahraga di jam istirahat awal ikatan mereka sudah terasa. Yudhis yang menurut Lala cukup nekat langsung diajak untuk jalan ke tempat tempat baru. Mereka berdua datang ke sebuah galeri yang lokasi settingnya diambil di Bandung, di tempat itu Lala bercerita kalau dia dan sekaluarga disebut sebagai keluarga penguin. Ditempat itu juga Yudhis mencari satu kesamaan dengan Lala maka ditemukanlah Paus mereka berdua sepakat menggambar Penguin dan Paus di tangannya masing-masing.

Lala yang sehari harinya sibuk dengan latihan dari pagi membuat Yudhis seolah tidak diperhatikan keinginannnya. Setiap emosi baik itu ikatan keluarga yang kuat antara Lala dan Ayahnya atau hubungan mereka yang tidak biasa membuat saya menikmati setiap adegan yang ditawarkan.
Awal Yudhis membuat masalah pada saat Sheila salah satu saingan Lala disenter matanya saat latihan. Yudhis sempat didatangi oleh ayahnya Lala lalu terjadi perdebatan antara mereka. Saat itu juga Lala memutuskan keluar dari tim dan pergi bersama pacarnya. Emosi dalam film semakin terasa saat Lala dipaksa Yudhis untuk kuliah di Bandung, Lala yang sudah lama hidup dengan ayahnya tidak bisa menerima tawaran Yudhis.

Latarbelakang Yudhis menjadi Posesif tentu dipengaruhi oleh ibunya. Ibu Yudhis yang diperankan oleh Cut Mini dikenal sebagai seorang yang ringan tangan. Adegan paling mengerikan di film ini Yudhis dipukuli oleh ibunya saat bilang nama papanya. Gerak tubuh dari Cut Mini menunjukan kalau dia tipikal seorang ibu yang ringan tangan.

Setiap adegan dalam film Posesif memberi emosi tersendiri, soundtrack lagu yang dipilihnya terbilang pas seperti lagu hits Dipha Barus feat Kalula "No One Can't Stop Us" muncul saat adegan Lala dan Yudis berenang berdua. Belum lagi ditambah soundtrack dari musisi indie lainnya seperti Banda Neira dan lagu "Dan" dari Sheila On 7.

Gina C Noer sebagai penulis skenario mampu membuat percakapan yang mewakili dunia remaja. Teknik senimatografinya juga dibuat berwarna dan punya nilai seni. Secara keseluruhan film Posesif ini menewarkan cerita cinta yang tidak melulu manis namun sebuah hubungan juga bisa berakhir dengan tragis. Sempat dibuat poster meme juga dari film ini dengan modelnya presiden Soekarno dan Soeharto tulisannya "Soekarno presiden pertama Indonesia" "Soeharto Ingin Selamanya". Tamatlah sudah resensi film ini.