Selasa, 29 Maret 2016
Di sebuah cafetaria kala itu masih pagi, ada seorang pria berkacamata menghampiriku dia bertanya apa di lingkungan kampus ini diperbolehkan untuk merokok. Aku menjawab kalau merokok itu diperbolehkan karena tempat ini memberi ruang untuk para perokok. Toh di negeri kita ini bebas mempromosikan produk rokok secara besar-besaran. Ia pun tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkanku. Ada kemungkinan, ia mulai mencari tempat untuk menyulut rokoknya.
Pesanan kopi susu yang aku pesan baru saja diantarkan ke meja oleh pramusaji wanita biasanya dipanggil teteh. Membiarkan kopi menjadi dingin selagi masih panas bukanlah hal yang nikmat maka aku segera menyeruput kopi itu. Selain kopi ada teman pelengkap yang sengaja dibawa yaitu donat dengan taburan gula merah. Aku kembali melanjutkan membaca novel yang memasuki halaman 200 lebih. Di meja depan ada beberapa orang mahasiswa yang berkumpul, membicarakan banyak hal termasuk gosip yang terjadi di kalangan teman-teman mereka.
Aku masih terhanyut dalam cerita dari novel "O" karya Eka Kurniawan. Ada sesuatu terjadi yang tidak kusadari, pria separuh baya berkacama itu kembali menghampiriku untuk kedua kalinya. Kursi yang kosong didudukinya. Lalu ia mulai mencairkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan ring
an dan obrolan yang sudah dipersiapkannya. Guna menanggapi, aku mencoba menyimak obrolannya dengan saling menatap mata. Ini bukanlah bentuk dari pendekatan hati melainkan sebagai bentuk penghormatan juga apresiasi.
Statusnya saat ini adalah seorang bapak yang sedang mengantar anaknya untuk ikut lomba di kampus hari ini. Profesinya adalah seorang jurnalis di majalah forum dia bukan berasal dari Bandung melainkan dari pulau Sumatera tepatnya Bangka Belitung. Aku pun ditanyai banyak hal mulai dari jurusan, asal darimana sampai organisasi yang diikuti di kampus.
Dia memaparkan kalau tingkat pendidikan perguruan tinggi itu ada empat diantaranya politeknik, institut, sekolah tinggi dan universitas. Aku pun baru tahu soal ini lalu ia sempat bertanya apa di kampus ini ada fakultas kedokteran? kalau pun nanti akan ada fakultasnya baiknya dimulai dari fakultas MIPA seperti jurusan biologi, matematika, fisika, kimia, dll.
Saat bicara soal oganiasi kampus, ia malah menyarankan untuk masuk HMI bukan karena alasan politik tapi lebih untuk tahu apa saja yang terjadi dalam organiasi ini. Ia pun mengaku saat jadi maasiswa di Universitas Padjajaran sempat aktif di HMI namun menolak dengan kelas untuk turun demo ke jalanan. Caranya untuk mengkritisi menulis dan ikut organisasi pers di kampus. Senior dan teman-temannya di HMI dulu kini ada yang di Belanda dan menjadi politikus. Alasannya senang di bidang profesinya sekarang karena bisa bertemu dengan banyak orang.
Ada pesan yang bisa menjadi bahan refleksi diri contohnya apa-apa yang kita baca dalam buku, kalau tidak diterapkan maka itu akan menjadi kosong. Ilmu itu ketika dibuang bukanlah berkurang tapi akan semakin bertambah. Setelah sebotol fresh tea habis diteguknya, kedua mata berkacamata itu mulai giat menengok ke kiri dan ke kanan. Melihat lomba sudah dimulai, ia pun berpamitan untuk pergi. Aku sempat bertanya bersalaman dan bertanya siapa nama lengkap dari bapak, ia pun menjawab Prakamitra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar