Hari ini 12 orang anggota Komunitas Aleut akan berangkat menuju kabupaten Purwakarta. Perberangkatan yang tadinya dimulai pukul 5 pagi mengalami sedikit keterlambatan. Travel yang dipesan mengalami kendala dijalan sehingga kita semua harus berangkat jam 7 kurang sepuluh menit. Perjalanan kesana bisa dibilang lancar tidak mengalami kendala macet dijalan sehingga jam 8 lebih sudah sampai ditempat.
Peserta semuanya berkumpul di depan balai panyawangan dan terlebih dulu mengharuskan untuk daftar ulang. Para peserta yang lebih dulu datang terlihat sudah menggunakan kaos putih bertuliskan "Purwakarta Walking Tour 2016" disela-sela daftar ulang ulang ada juga komunitas lain yang baru saja datang mereka adalah komunitas Pecandu Buku. Setelah selasai registrasi ulang para peserta diarahkan oleh panitia ke tempat ganti baju
Semua peserta kini telah berkumpul di halaman balai panyawangan. Panitia yang bertugas saat ini langsung menginformasikan tentang tata terbib dan rute yang dilewati nanti. Tidak lupa ada sambutan dari kepala bidang dinas pariwisata kabupaten Purwakarta. Ada sekitar 5 kelompok pada acara Walking Tour kali ini, setiap kelompok akan dipandu oleh 2 orang LO yang datang dari mojang dan jajaka. Setiap rutenya pada peserta akan diberi kata kunci untuk menuju rute wisata selanjutnya. Adanya acara ini dimaksudnya untuk mengenalkan Purwakarta yang kini kondisinya sudah berubah.
Aku masuk kedalam kelompok Yudistira yang rute pertamanya adalah Balai Panyawangan. Lokasinya tidak jauh dari tempat berkumpul tadi cuma perlu melangkah kaki beberapa langkah saja. Dari depan pintu masuk sudah berdiri beberapa orang petugas yang siap menyambut kedatangan kita. Balai Panyawangan adalah sebuah museum yang mendokumentasikan semua sejarah tentang Purwarkarta. Usianya sendiri baru satu tahun disini bisa ditemukan sejarah tertulis dilengkapi dengan objeknya tidak ketinggalan ada audio digital dalam bentuk buku yang menceritakan sejarah secara informatif. Museum ini dibuka setiap hari dan tidak dikenakan biaya. Inovasi digital lain yang tidak kalah menarik adalah sepeda digital yang didepannya ada layar yang ketika dikayauh pedalnya seolah-olah kita sedang berjalan menyelusuri Purwakarta.
Selasa, 31 Mei 2016
Jumat, 27 Mei 2016
Hantu yang Menakutkan
Univeristas Pendidikan Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai UPI punya sebuah museum pendidikan nasional yang umurnya baru 1 tahun. Tidak hanya itu, museum ini juga dilengkapi dengan sebuah teater terbuka dengan kursi melingkar dan diatasnya ditutup oleh jaring-jaring dengan bentuk seperti laba-laba. Sebuah grup musik keroncong menamakan diri mereka Badami selesai menyanyikan beberapa lagu. Meja bulat yang jumlahnya sekitar empat buah mulai diisi oleh beberapa pembicara dari kalangan penulis, praktisi dan tokoh pendidikan dalam sebuah tema stop pemberangusan buku.
Diskusi yang diadakan dalam bentuk panel itu dipandu oleh seorang moderator perempuan ini. Begitu lihai membuka dengan basa-basi yang indah. Kesempatan pertama bicara diberikan kepada Muhidin M Dahlan, seorang aktivis literasi.Ia bercerita pernah mengalami beberapa kali pemboitan bukunya pada tahun 2006 kemudian berlanjut pada tahun 2016.
Moderator menyerahkan kesempatan bicara selanjutnya pada Anton Kurnia, seseorang yang dikenal sebagai penerjemah, ia bercerita tentang pengalamannya di Jakarta tentang pemberangusan buku pada acara Asean Literary Festival (ATF) cara penyampaiannyan memang lebih sering mengaitkan dengan sastra sastra dunia yang dia terjemahkan. Sebebelumnya semua masalah perijinan sudah diurus dengan baik
Dari Anton lalu berpindah ke Ahda, cara penyampaiannyan tidak bisa lepas dari peran kepenyairannya. Membuka dengan salam lalu menyapa mahasiswa tidak ketinggalan menyapa mahasiswinya juga dengan penuh rasa cinta.
Diskusi yang diadakan dalam bentuk panel itu dipandu oleh seorang moderator perempuan ini. Begitu lihai membuka dengan basa-basi yang indah. Kesempatan pertama bicara diberikan kepada Muhidin M Dahlan, seorang aktivis literasi.Ia bercerita pernah mengalami beberapa kali pemboitan bukunya pada tahun 2006 kemudian berlanjut pada tahun 2016.
Moderator menyerahkan kesempatan bicara selanjutnya pada Anton Kurnia, seseorang yang dikenal sebagai penerjemah, ia bercerita tentang pengalamannya di Jakarta tentang pemberangusan buku pada acara Asean Literary Festival (ATF) cara penyampaiannyan memang lebih sering mengaitkan dengan sastra sastra dunia yang dia terjemahkan. Sebebelumnya semua masalah perijinan sudah diurus dengan baik
Dari Anton lalu berpindah ke Ahda, cara penyampaiannyan tidak bisa lepas dari peran kepenyairannya. Membuka dengan salam lalu menyapa mahasiswa tidak ketinggalan menyapa mahasiswinya juga dengan penuh rasa cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)