Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Memahami Dunia dan Isi Pikiran Raymond Carver

Mandi di waktu pagi selain bisa memberi kesegaran juga bisa membuat pikiran jadi fokus. Saya coba terapkan ini agar lebih bersemangat membaca buku di waktu pagi. Saya jadikan target membaca satu jam dalam sehari. Buku yang saya baca kumpulan cerpen dari Raymond Carver "What We Talk About When We Talk About Love" saya baca secara acak melihat dari judul yang membuat penasaran, dua cerpen itu diantaranya "Satu Hal Lagi" dan "Bilang Ke Cewek Cewek Itu Kita Pergi" 

Cerpen pertama menceritakan tentang konflik keluarga L.D seorang ayah yang disuruh pergi oleh Istrinya Maxine. Keduanya punya seorang anak Rae yang usianya masih lima belas tahun. L.D. punya banyak masalah di keluarganya yang disebabknya oleh apa yang ada di pikirannya. Beberapa penyakit yang disebabkan pikiran seperti diabetes, kanker semua itu disebabkan oleh pikiran. 

L.D. menyebut rumah tinggalnya sebagai 'rumah gila' ia terus saja bertengkar dengan istrinya sampai tiba waktu L.D. keluar dari rumah dengan tekat yang bulat. Beberapa barang milknya dikemasi karena dia menyalahkan istrinya Maxine yang telah membuat rumah menjadi gila. Saat semua barang sudah dikemasi L.D. seolah ingin menyampakain pesan tapi ia malah lupa satu hal yang ingin disampaikannya. 

Cerpen kedua yang saja baca ceritanya tentang persahabatan Bill Jamison dan Jerry Robert keduanya sudah lama bersama sama dari sejak SD dilanjut SMP sampai Bill tidak melanjutkan sekolah memilih untuk bekerja di mini market kemudian menikah. Lain ceritanya dengan Jerry yang melanjutkan pendidikan hingga dia bisa bekerja lalu menikah dengan Linda. 

Cerita antara keduanya ini menjadi menarik karena setelah sama sama bekeluarga Bill dan Jerry masih sering berkumpul setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak mereka bermain sedangkah orangtuanya membakar barbque. Saat melihat Jerry sedang murung Bill berniat mengajak pergi keluar untuk sekedar main biliar dan minum wisky. 

Di tempat billiard langganan tidak terlihat ada cewek tentu saja hal itu ditertawakan mereka berdua. Sampai muncul ide dari Bill untuk pergi keluar dan mengejar cewek cewek. Bill dan Jerry pergi naik mobil mengejar cewek yang terlihat dari jauh dengan menggunakan seperda. 

Bahasa yang digunakan di cerpen ini seperti slank jadi saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia bahasanya santai tidak baku karena memang untuk menguatkan tokoh Bill dan Jerry. 

Cewek cewek yang mereka kejar itu pergi menaiki gunung Bill dan Jerry sama sama terus mengejar cewek itu sampai ke atas. Mereka sudah berbagi cewek mana yang akan dikencani lebih dulu. Sampai diatas puncuk gunung Bill tidak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jerry. 

Saya bisa mulai mengerti tokoh, setting dan alur cerita dua cerpen ini setelah membacanya dua kali pelan pelan sambil saya juga mulai berpikir seperti apa akarakter dari Raymond Carver ini. 

Minggu, 30 Agustus 2020

Kuliner Malam di Bandung Selama Masa New Normal

 Di malam Minggu, saya pergi ke Bandung bersama keluarga dengan menggunakan mobil. Sore hari di sepanjang jalan Asia Afrika kembali lagi ramai dengan warga yang keluar untuk hiburan ditambah beberapa cosplay boneka, karakter anime robot sampai dengan cosplay dari dunia lain. Orang bandung sering menyebutnya jurig, jurig jenisnya macem macem tidak hanya pocong, ada juga kuntilanak mereka semua nekat kalau ada mobil yang membuka jendela langsung mendekat. Entah itu membaca jampi jampi atau berkenalan. Kalau beruntung dari tiap mobil bisa mendapatkan uang paling besar ada yang pernah dapat seratus ribu. 

Di jalan Cikapundung timur kuliner di Bandung tidak pernah sepi, dari nasi goreng, sate padang, soto sambil kuliner malam yang berjajar jajar di masa pandemi ada yang masih sadar menggunakan masker ada juga yang acuh tak acuh. Orang orrang sudah bosan diam dirumah ingin perlu keluar rumah bertemu dengan banyak orang. Cemar salah satu warung nasi legendaris terkenal dengan semur jengkolnya terus dipenuhi oleh orang yang makan. 

Akses ke jalan Braga di malam Minggu tidak ditutup, jalan ini spot bagi orang orang yang jatuh cinta untuk jalan berdua menikmati malam. Lampu di jalan Braga terasa gelap seperti kurang perhatian dari pemerintah kota. Satu tempat yang paling ramai sampai terjadi antrian adalah Kedai Jurnal Risa, awalnya dari vlog tentang tempat tempat misteri di Bandung. Dari Youtube kini buka coffeeshop di tengah jalan Braga. 

Gedung gas dirubah menjadi hotel, tadinya disini sering digunakan untuk pameran pameran sekarang berubah jadi hotel dengan nama the Gas Block Braga. Daya tarik Braga tidak pernah mati terus berubah dari satu usaha ke usaha lainnya.Ada yang kuat bertahan ada yang mati ditengah jalan.

Titik terakhir saya di malam Minggu adalah Wedang Ronde Gardu Jati mnjual ronde yang ditambah moci ada yang ukurannya besar dan ada yang kecil dan kembang tahu. Dipinggir pinggir juga banyak penjual lain seperti cakueh, nasi goreng pete, bola umi. Kalau ingin lebih lengkap lagi kuliner malam bisa dicoba dengan datang ke Cibadak atau Sudirman Street 

Jumat, 28 Agustus 2020

Motivasi Berlari 3 Hari Berturut-turut di Lapangan Saparua

 Jumat, 28 Agustus 2020 

Saat lari di sore hari satu kata yang jadi ingatan saya yaitu penghayangan. Saya sampai ke saparua lewat jalan yang berbeda dari biasanya masuk dari taman maluku yang ketika itu masih dipenuhi oleh motor para pegawai daerah sana saya lanjutkan menuju area parkir di saparua. Mathari sore terasa begitu terang mungkin karena pengaruh musim kemarau hingga sore masih ada matahari.

Beberapa pedagang yang biasa berjualan belum membuka lapaknya masih sebatas mendorong gerobak, ada juga yang sudah memasang tenda. Sore hari lapangan saparua selain digunakan untuk jogging track, ada juga yang menggunakannya sebagai tempat nongkrng. Terutama anak muda yang masih berpacaran. Kalau untuk yang lari bisa dibilang semua usia ada, dari anak anak, remaja sama orang dewasa. 

Kegiatan saya lari di lapangan saparua kalau dihitung sudah 3 hari berturut turut. Sore dipilih karena ada keramaian yang membuat semangat untuk berlari ditambah setelah lari banyak yang berjualan dari mulai sate madura, sate kulit, gado gado, dimsum, roti bakar dan gerobak kopi juga ada di saparua. 

Saya punya target olahraga lari selama seminggu berturut turut untuk tempat yang dipilih nanti tidak harus di saparua lebih baik yang lokasinya berdekatan dengan rumah. Di masa pandemi lapangan saparua masih ditutup dan belum diperkenankan untuk digunakan olahraga oleh umum. 

Kamis, 28 Februari 2019

Dimensi Febuari

Belum ada satu pun jejak tulisan yang saya tinggalkan di blog ini selama bulan Febuari. Saya menjadi kerap merasa resah ketika dalam beberapa hari tidak ada satu pun alat yang terjual. Saya juga berpikir bagaimana caranya bisa menjalankan usaha lainnya dengan menjual barang lain  yang diambil dari orang lain istilahnya dropship. Saya coba menjadi dropshipper alat alat outdoor, fokusnya ke hammock. Diawal awal hammock single untuk peroranganya dijual dengan banyak pilihan warna.

Pagi hari saya bisa lebih produktif setelah berrcocok tanam dimulai dengan melakukan pembibitan sayuran yang jangka panennya tkerbilang cepat. Ada kangkung, Pakcoy dengan sistem tanam langsung tanpa pot sehingga perkembangan akar bisa lebih besar. Saya melengkapi juga beberapa jenis tanaman yang belum lengkap seperti cingcau, jenis tanaman herbal thyme. Untuk cabe jenis domba sudah memasuki panen yang dalam satu pohonnya banyak buahnya.

Saya mulai membuat rancangan untuk kebun dilantai 2 rumah. Tadinya ingin  ditanami dengan cabai dengan tujuan memperbanyak hasil panen yang bisa dijual. Luas diluar lebih mungkin untuk ditanami Strawbeey masukan dari tetangga strawberry itu tanamannya menggantung kalau buahnya ada ditanah bisa busuk.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman, kalau tahun ini adalah shio babi tanah yang bagus untuk memulai bisnis. Berbagi soal dunia bisnis paling tidak dengan teman yang dikenal akan terus membuka perpektif bahwa tujuan bisnis itu adalah untuk laku. Point penting dari bisnis itu bagaimana kedepannya bisa maju. Membuat catatan keuangan adalah penting.

Ada satu waktu di mana saya merasa kesal dan marah juga cemas pada saat teman mulai. Saya diajak untuk membuka stand di acara kumpul alumni anggota sipil tepatnya di komplek KPAD karena ini acaranya di komplek tentara maka saya disarankan untuk datang tepat waktu. Esok harinya setengah jam sebelum acara dimulai, saya sudah datang ke lokasi.

Saya kira teman juga akan datang selang beberapa menit. Aula untuk kumpul alumni luasnya tidak terlalu besar. Sudah lewat satu jam teman saya tidak datang juga dihari itu dia juga ada acara dokumentasi arisan. Saya terus menunggu hingga satu jam. Pelajaran pentingngan, tidak perlu menunggu untuk menanyakan sesuatu.

Senin, 21 Januari 2019

Nurhadi Aldo

Hal paling menyenangkan saat waktu luang adalah menenggelamkan diri dalam kesenangan duniawi. Seperti pergi jalan-jalan atau menikmati secangkir kopi. Kalau ditambah dengan membaca artikel yang baik bisa menyejukan pikiran. Pernah tumbuh keinginan dalam diri ini menjadi pekerja akhir pekan. Anggaplah ini sebagai pengganti hari biasa yang jarang sekali padat. Untuk menulis satu catatan saja sulitnya minta ampun banyak godaan juga faktor malas yang lebih dominan.

Salah satu bacaan favorit saya adalah opini dari A.S. Laksana yang pernah diterbitkan oleh Jawa Pos dalam rubrik bernama "Ruang Putih" kecakapannya dalam merangkai cerita tidak diragukan lagi. Saya membaca tulisannya di situs Beritagar.com judulnya Pendidikan Bermutu Untuk Cebong dan Kampret yang isinya tentang pendidikan bagi anak Indonesia, nilai nilai apa saja yang harus diajarkan, soal Vanessa Angel, sampai sindiran yang dibalut komedi.

Selama bertahun-tahun sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menghasilkan manusia yang bernilai. Belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun tidak juga membuat murid-murid lancar berbahasa inggris. Banyak sekali sekolah swasta dengan konsep ramah lingkungan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya saja, untuk anak miskin jangankan sekolah di sana. Makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

Selesai membaca, saya membuat beberapa Cuitan isinya tentang pengalaman seseorang melamar kerja sampai 750 kali sampai akhirnya diterima kerja. Itu seperti peristiwa ajaib yang benar benar terjadi. Cuitan selanjutnya hanya keisengan mengungkapkan diri sebagai follower baru dari Nurhadi Aldo salah seorang caleg yang ramai dibicarakan. Saya sering mendengar namanya, tapi tidak tahu apa aja kontroversinya. Menurut saya, beberapa isi cuitannya tidak biasa dan jenaka. Memang tidak mudah untuk menjadi caleg yang lucu kebanyakannya hanya pencitraan semata.

Dua cuitan iseng saya ini direspon oleh akun twitter @irfantp seorang teman yang berkerja di Jakarta, tapi selalu betah di Bandung. Kebiasaannya menulis satu paragraf dilanjut dengan tidur begitu terus sampai tulisannya selesai. Rahasia menulisnya adalah tidur. Cuitan saya dibalas dengan kritikan dan sinisme. Kritik soal penggunaan kalimat yang tidak efekif. Sinisme karena telah terbawa oleh tren pemberitaan Nurhadi Aldo. Komentar itu membuka celah untuk sedikit membahasnya.

Kalimat yang efektif digunakan semata mata untuk mengurangi kalimat yang tidak efektif. Sebutlah itu pemborosan kata. Seorang yang menulis untuk tujuan tertentu, misalnya artikel, berita, tulisan akademik, dll memang perlu memperhatikan hal ini. Sedangkan untuk sosial media yang sifatnya pribadi perlukah memperhatikan hal itu? Saya rasa tidak perlu juga, karena bahasa itu mencerminkan diri kita. Seorang akademisi jelas berbeda dengan komedian untuk menunjukan siapa dirinya di sosial media. Lupakan aturan dan tetek bengek bahasa yang memberatkan. Membuat bahasa bergerak sebebas bebasnya terasa lebih menyenangkan.

Ketika bicara soal tren, ada baiknya bercermin pada Tirto.id tempat bekerja teman saya ini. Diawal-awal menulis, Irfan dibebaskan untuk menulis apa saja berdasarkan data dan buku yang ia baca. Semua sifatnya tidak harus kebaruan. Waktu berputar, umur bertambah kerja media perlu menyeimbangkan dengan perkembangan tren. Pola kerja dari pemberitaan harus dirubah oleh pihak redaksi, semua ulasan yang sifatnya lama harus bisa relevan dengan isu yang terjadi saat ini. Menulis tentang teh tidak bisa dari sisi sejarahnya saja harus ada relevansi dengan isu terkini bangkrutnya perusahaan teh sariwangi. Menolak atau keluar dari kubangan tren bagi pekerja industri media nasional adalah omong kosong. Belum lagi pola pergaulan yang menggiring pada tren konsumtif, membeli brand tertentu atau pergi menghabiskan waktu di cafe yang sedang tren.

Tidak ada tulisan lanjutan yang akan membawa pada kesimpulan. Anggap saja tulisan ini sebagai tarikan nafas sebelum menulis beberapa resensi film dan cerita menohok lainnya. Terakhir, ada pesan dari Nurhadi Aldo "Salam cinta untuk sang pemilik cinta, salam rindu untuk sang baginda, salam sayang untuk kamu yang tersayang."

Minggu, 20 Januari 2019

Selasa, 23 Oktober 2018

Trikuto

Di Cihapit semua serba ada, saya kira dari awalnya pasar yang sebatas nama tanpa bayangan apa-apa. Sampai ke pasar yang saya perhatikan detail setiap lokasinya. Cihapit punya kue balok dan surabinya, juga yang paling detail terpampang retail ayam goreng dengan berbagai macam pilihan sambal. Kalau datang di pagi hari, saya biasa membeli kue balok dilanjutkan membeli bahan-bahan untuk keperluan kedai seperti sirup, thai tea, susu, dll.

Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.

Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.

Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.

Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.

Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.

Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.

Senin, 22 Oktober 2018

Rumah Kedua Bukan Istri Kedua


Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.

Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.

Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.

Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.

Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha

Minggu, 21 Oktober 2018

Sabtu, 29 September 2018

Survei dan Kekesalan

Saya sadar betul akan pentingnya survei lapangan dalam sebuah tur atau pemanduan. Servei punya tujuan untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus juga menentukan titik titik penting. Titik penting bisa untuk tempat penceritaan atau membawa perjalanan sehingga peserta dalam kondisi aman. Dengan tanpa Agus siang hari itu, saya berangkat bersama Gista untuk survei.

Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.

Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.

Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.

Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.

Senin, 17 September 2018

Kemuliaan Sejati

Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.

Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.

Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.

Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.

Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.

Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.

Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"

Selamat istirahat kamu

Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung

Kamis, 13 September 2018

Heran

Suatu waktu, saya dibuat heran saat disodori sebuah tawaran untuk menjual kopi. Kopi yang sama sekali belum saya ketahui jenisnya, tugas saya adalah menjualnya. Kopi itu ternyata didapatkan dari Kapal Selam, ada kopi Gayo, Toraja, Bali dan kopi Lembang. Ada tujuan untuk mengajak berbisnis kopi. Dalam menjual kopi, saya punya pertimbangan tidak bisa disodori begitu saja. Bahkan seolah ada paksaan juga didalamnya. Perlu ada obrolan kecil untuk merumuskan konsep juga mengenal kopi yang kita jual.

Saya sedang dalam langkah membangun usaha yang baik dengan omset juga sistem yang harus diterapkan. Jika sebatas usaha biasanya maka hasilnya akan biasa juga. Saya mulai punya rekanan usaha yang paling tidak mengerti apa yanga ada dibalik pikiran saya ini, dia juga cenderung tenang tidak ada paksaan. Langkah lain yang mulai saya coba juga adalah fokus membuat produk entah itu biji kopi atau kopi dalam kemasan.

Lepas dari kopi juga usaha lain yang ingin dijalani, sebenarnya masih ada keinginan dalam hati untuk melanjutkan kembali proses berkarya. Proses kreatif entah itu melakukan proses peliputan, menjadi kontributor atau menulis cerpen dengan cerita yang memikat. Saya sadar betul jika proses kreatif contohnya membaca terus ditinggalkan apalagi tidak diniatkan maka yang ada semua tidak akan pernah terlaksana berakhir pada rencana. Sementara perubahan demi perubahan terus terjadi.

Setelah semua obrolan saat Kamisan selesai, saya melanjutkan kembali membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, saya tidak ingin terus berdiam di bab awal, Bandung tempo dulu punya cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri bab per babnya dari yang saya baca seperti telaga Bandung, alun alun yang telah berubah fungsi, pembangunan kota yang harus mempertimbangkan alam, kuliner khas di Bandung dan masih banyak lagi. Point penting yang saya ambil dari pembacaan hari ini, penulisan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya menggunakan kata kata yang sederhana. Tentu saja dalam penulisan karya Ilmiah populer tentunya harus menggunakan kata kata yang dijumplalitkan.

Generasi muda juga tentunya harus memperhatikan pertimbangan kotanya. Sejarah masa dulu jadi pembelajaran untuk kedepannya.

13 Septmber 2018

Rabu, 05 September 2018

Ngopi Bareng KAI 2

Kejadian konyol yang saya alami hari ini adalah menyobek uang kertas, tentu saja itu terjadi tidak sengaja. Tidak main main juga uang yang disobek nilai mata uangnya cukup besar yaitu seratus ribu. Uang yang telah sobek itu membuat saya berpikir untuk menempelkannya kembali atau dibelanjakan sesuatu. Ini ada pengaruhnya dengan nilai tukar tolar yang mencapai Rp 15.000 uang sobekan seratus ribu saya simpan dulu didalam dompet.

Siang hari di hari Rabu, saya belum menyesap kopi. Saya sejenak datang ke Pos Kopi yaitu kedai kopi yang lokasinya berada didalam kantor pos. Konon yang saya lihat dari Instagram ada stok kopi baru yaitu Sunda Typica. Saat datang untuk ngopi, saya selalu bertanya tentang perihal kopi baru, ada 4 pcak kopi yaitu puntang, patuha, sunda typical dan yellow cattura. Untuk yellow cattura ini diperkenalkan pada saat pemerintahan Ahmad Heriawan Sebagai gubernur Jabar. Semua kopi diambil dari Cimaung, kebanyakan mix varietas itu bisa mencapai 4 varietas. Lini S, Sigararutang, Ateng, dll.
 
Metode penyeduhannya biasa dengan filter, V60 alat yang umum digunakan. Dengan metode menyediuh ala Testu Kasuya rumusnya 4:6 saya mencoba kopi sunda typicanya. Aroma yang disajikan memang wangi. Di sela sela menyeduh kopi kemasan yang banyak dipesan diantarnya adalah robusta, tidak jauh dari kedai ada juga yang mengolah kopi dalam bentuk kemasan jalur distribusinya lewat GOJEK. Di meja display dijual gula aren yang membuat saya tertarik untuk mencobanya.

Bagi sebagian orang minum kopi dengan gula merah menambah nilai tersendiri, karena gula merah bubuk ini diambil dari Baduy. Selesai ngopi, saya diberikan sampel kopi puntang natural. Kopi ini seperti yang diceritakan pernah sampai dicupping oleh seorang Q Grader, untuk cupping diperlukan sampai 50 cup. Ada cupping dan ada juga tasting. Saat sudah ditemukan note apa saja yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama sebagai branding dari kopi. Seperti rasa lemon yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama Puntang Lemonade. Seperti branding kopi yang dibuat oleh Space Roastery, roaster dari Yogya dengan kopinya “Halu Pink Banana”

Malam harinya, ada technical meeting kecil kecil dalam rangka acara bagi bagi kopi gratis dalam rangka acara KAI. Tepatnya tanggal 10-11 September 2018. Acara ini memang terbilang mendadap dari 20 peserta yang ikut 10 orang ditempatkan dalam kereta api dan sisanya membuka stand penjualan di stasiun. Adapun kopi yang dibagikan gratis totalnya 250 cup kurang lebih 3 kg. Saya berkenalan juga dengan om Budi yaitu salah satu pengolah dari Cikole, kopi dari Tangkuban Perahu tepatnya. Karena lokasi dekat dengan kawah kadang ada rasa belerang yang menempel.

Pada saat pembagian, anehnya orang yang mendapat kesempatan di kereta adalah orang orang yang tidak hadir dilokasi.


5 September 2018

Selasa, 24 Juli 2018

Sistematika

Jangkauan pemikiran saya mungkin belum sampai untuk membaca sistematika korporasi atau pemerintah dalam menjalankan programnya untuk misi tertentu. Yang paling sering terjadi adalh ekpos tiada henti bahkan kadang berlebihan tentang tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Indonesia. Saya pikir menjual angka kemiskinan adalah cara termudah untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari pihak asing. Dengan begitu pinjaman uang untuk membangun negara akan dipermudah. Lalu muncul pertanyaan setelah pinjaman uang itu cair, apakah akan sampai kepada rakyat yang benar benar miskin? Silahkan jawab sendiri.

Dunia semakin canggih, dunia teknologi menjadi penguasa saat ini. Bukti kekuasaannya mudah ditemukan, seseorang yang tidak bisa lepas dari handphonenya. Tidak ketinggalan bermain games tidak mengenal tempat dan waktu. Itulah kebahagiaan baru. Naik mobil yang harganya ratusan juta bisa dilakukan dengan bermodalkan aplikasi saja. Liburan dan travelling sebagai bukti eksistensi, setelah lelah bekerja leha leha ditempat liburan nan indah adalah obat paling ampuh.

Untuk menjawab kegelisahan itu, saya diminta ikut kelas literasi, kelas untuk berdiskusi pembauran berbagai pemikirian yang diadakan di Pasir Jaya sebagai sekretariat baru Komunitas Aleut. Tak ada jam pastinya yang jelas kelas akan dilaksanan pada malam hari, yang datang yang punya waktu luang. Setiap malam Minggu jelas waktu saya teramat luang karena tidak ada wanita yang dikencani apalagi untuk sebuah kencal yang nakal.

Malam itu masih terasa seperti perkumpulan biasa, masing masing mengerjakan pekerjaannya. Ada yang tertawa-tawa, ada yang sudah merencanakan untuk mengejar cinta kala itu. Satu topik hangat yang dibicarakan adalah tentang penghancuran rumah hasil rancangan Ir. Soekarno sangat disayangkan memang sebagai bangunan cagar budaya (BCB)yang dilindungi dalam kategori B dengan mudahnya dihancurkan, bagi pemiliknya rumah yang bentuknya kembar itu tidak punya arti sejarah.

Sejak tahun 1983 ada sekitar 8 rumah hasil rancangan Ir. Soekarno yang dihancurkan. Sukarno memang dikenal sebagai seorang Insiyur yang beberapa hasil karyarnya tersebar di Bandung. Beberapa orang teman kala itu membuat gerakan lewat sosial media tentang penghancuran rumah Bangunan Cagar Budaya ini. Gerakan kecil ini paling tidak bisa membuat masyarakat tahu tentang rumah yang pernah diarsiteki oleh Ir. Soekarno.

Pembahasan tentang topik ini terus berlanjut sampai mengumpulkan beberapa buku tentang karya Soekarno. Kelas Literasi sepertinya akan ditunda atau dipindah ke lain hari. Upaya pembodohan secara sistematis itu belum terbahas dengan tuntas. Malam minggu selalu ada topik diluar kisah percintaan yang layak untuk dibahas, bagi yang belum tidur melanjutkan obrolan di grup Whatsapp.

Obrolan dalam grup Whatsapp saya baca satu persatu pagi harinya. Teman teman yang tergabung dalam grup menceritakan tentang sosok orangtua mereka. Pola didik, kedekatan, pendekatan semua diceritakan dengan jujur. Bagi sebagian ada yang mengalami kekerasan pada waktu kecil, kedekatan tidak hanya melulu melekat pada sosok ibu kadang ayah bisa lebih mengerti tentang cara menghadapi ibu dalam segara kondisi. Jujur saja, setelah membaca semua cerita itu, saya merasa tersentuh juga turut ingin menceritakan sosok bapak dan mamah yang mendidik saya yang belum menikah ini.

Perbedaan cara didik dan pertengkaran kecil sering terjadi. Kedua orang saya terutama mamah adalah orangtua yang paling tidak bisa merelakan anak anaknya jauh darinya. Juga sering kali cerewet atau bawel saya menyebutnya hanya karena hal hal sepele. Saya yang tidak rajin ini sudah jutaan kali dinasehatinya.

Singkatnya dibalik kelebihan dan kekurangan, kedua orangtua saya menyenangkan dan saya menyayangi mereka. Belum banyak yang bisa saya berikan sebagai anak, hanya doa tulus dan ucapan terima kasih banyak.

Sabtu, 21 Juli 2018

Kamis, 19 Juli 2018

Jalan Menuju Batu Nisan

Sudah hampir 8 tahun Hani ditinggalkan ayahnya ketika itu masih berstatus sebagai mahasiswa pada masa-masa UTS dan UAS. Hani menyarankan pada Riska untuk segera mengurus surat kematian dengan menfoto kopinya. Surat ini nantinya bisa digunakan untuk mengurus gaji karena ayahnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Surat bisa diserahkan langsung kepada dinas pertamanan dan pemakanan, Disdukcapil, dan Taspen. Padang menjadi tempat peristirahat terakhir ayahnya Hani ini.

Malam hari itu Riska harus segera pulang ke rumah dan bergegas pergi ke rumah sakit. Tidak banyak hal yang ia ceritakan, keesokan harinya di sebuah grup Whatsapp Riska minta doa untuk kesembuhan ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit. Abang menyarankan kepada beberapa teman agar siap siaga kalau pun diperlukan bantukan. Sore menjelang malam kabar duka itu datang, Amanda seolah berat menyampaikan kabar duka itu. Tidak ada yang bisa menahan akan datangnya kematian, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Saya tidak dapat menbayangkan kondisi dirumah sakit setelah kejadian itu terjadi. Seorang ayah meninggalkan anak perempuan yang menjaganya dilain ada beberapa temannya juga turut menemani sebagai bentuk simpati dan dukungan secara batin. Ucapan duka dan doa perlahan datang, teman yang lain juga diminta untuk memandu dirumah sakit dan sebagian langsung begegas ke rumah duka. Di ruangan Elizabet ICU Lantai 3 kamar 3 almarhum ayahnya Riska meninggal.

Rumah duka, rumah yang ditinggali oleh ayah dan ibu Riska letaknya ada di pinggir jalan. Rumahnya masuk menjorok ke dalam, dari luar terlihat beberapa orang yang berdiri. Dari dalam entah apa yang sedang dibicarakan, ada kesedihan di sana. Hal yang harus disegerakan setelah seseorang meninggal adalah memandikannya. DKM punya tugas untuk membantu mengurusi ini semua atau paling tidak RT dan RW setempat. Beberapa peralatan seperti kain kafan, kafas alat pemandian mayit harus siap sedia.

Ada proses lain yang harus ditempuh, tidak hanya memandikan. Tapi, juga mengkafani, menyolatkan dan mencarikan tempat pemakaman untuk almarhum. Saya tidak mendengar langsung obrolan apa yang terjadi, dari yang didengar dari anggi pihak keluarga seperti saling melempar atau mengandalkan. Maka urusan memandikan jenazah sepenuhnya ditangani olah orang jadi Percikan Iman lewat Yayasan Istiqomah. Peran Yayasan utamanya yang bergerak dalam keagamaan akan amat membantu bagi umat yang tidak tahu atau buta tentang sebuah perkara. Baik itu Zakat, Umroh, pembagian harta warisan dan juga tentang mengurusi jenazah.

Saya dan teman-teman yang datang pada waktu itu dimulai dari Akay, Aip, Gista, Ana, Mei, Nisa, Yasna, Upi, dll semuanya belum makan malam. Kita semua datang sebagai bentuk dukungan moril, kita makan malam bersama dengan lahap malam itu ada yang makan nasi goreng dan kwetiaw. Dalam kondisi seperti ini bantuan, dukungan dan doa dari teman teman akan bisa meringankan duka dari keluarga yang ditinggalkan. Semoga, akan banyak kelompok masyarakat yang terbentuk untuk saling mau membantu sesama dengan tulus, untuk semua tidak terjadi dengan sendirinya tanpa dibangun dan ada yang menggerakan.

Kamis, 19 Juli 2018

Kamis, 08 Februari 2018

Secangkir Long Black di Kamar Tujuh Koffie

"Cilamaya disebalah mana pak?"
"Dari sini puter balik kebawah, Cilamaya jalannya nggak panjang dibelakang gedung sate"

Saya lalu mulai menikmati sepiring baso tahu hokkie untuk mengurangi lapar sore itu. Saat itu disebalah saya duduk seorang bapak yang umurnya cukup tua, saya mengomentari tentang gedung sate yang ukurannya cukup besar. Sebelumnya pada pedagang bebas berjualan didalam, bapak penjualnya ikut bercerita pada saat mengirmkan pesanan baso tahu para pegawai gedung sate, dia dibuat bingung untuk mengelilingi gedungnya. Dibuat diputar putar, menuruni tangga demi tangga yang lokasinya masih jauh. Masa pemerintahan Walikota Aa Tarmana dan Dada Rosada pernah dialaminya. Begitu juga walikota Ateng Wahyudi,

Dari obrolan walikota berlanjut ke obrolan presiden, bapak ini pernah merasakan hidup dimasa pemerintahan Soeharto yang tumbang menurutnya tahun 1997. Pada masa pak Harto orang orang yang sedikit saja menentang pemerintah akan bilang banyak mahasiswa ITB yang hilang. Ia berpikiran pola pemerintahan untuk mengilangkan seseorang itu dengan iming iming akan diberi pekerjaan, saat ia dibawa kesuatu tempat langsung menembaknya ditempat. Musisi sepeti Iwan Fals saja sempat dipenjara beberapa kali begitu juga Rhoma Irama, karena lagu Oemar Bakri dan Bento iwan Fals ditahan Rhoma Irama karena lagu yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Setiap pemerintahan dalam sudut pandang masyarakat biasa punya kekejaman masing-masing. Pada era SBY konon terjadi kriminalisasi KPK, pada masa Jokowi kasus penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga diusut tuntas. Pelaku sekaligus aktor intelektualnya belum terungkap. Waktu Pilkada juga Pilpleres menjadi waktu yang rawan mengingat belum ada saingan berat bagi seorang Jokowi selain dari Prabowo. Mengulang masa lalu, saya kira Prabowo seharusny jadi presiden Indonesia karena ada kecurangan maka Jokowilah yang terpilih. Dengar dari cerita Megawatilah yang berperan untuk itu semua, daerah Papua yang pro prabowo hasil TPS dibuat kelaut oleh orang suruhannya. Daerah Madura yang semuanya mendukung ketua Gerinda itu hasil perhitangan suaranya hilang.

Lewat penjual baso tahu tadi membuat orbolan baru yang cukup sekian lama tidak terjalanin. Mengawali pertanyaan kecil tentu menjadi efektif. Saya melanjutkan ke Cilamaya tepatnya Kamar Tujuh Koffie dengan niatan menyelesaikan tulisan. Lokasi kedainya ada di area hotel bumi asil dengan bangunan lama yang masih asri dan dipertahankan. Saya memilih tempat duduk diluat yang masih kosong lalu memesan secangkir kopi long black didalam. Kedai itu lebih menyerupai coffee shop didalamnya tidak banyak tempat duduk memang sengaja dibuat seperti bar. Saya menunggau secangkir long black diantarkan sambil mulai membuka laptop untuk mencari cari informasi tentnag beasiswa LPDB.

Tidak lama berselang datanglah Ghera, ketika itu belum ada kursi yang kosong. Saya ikut mencarikan tempat duduk, dia memesan kopi aja saya tergantung dari selera barista yang membuat kopinya. Dia baru pulang dari survei, datangnya tidak sendirian bersama sama dengan teman-temannya ada Ricky, kemudian seorang pria yang anggota aleut juga pada era Atria. bersama pacarany juga yang berhijab. Didepannya ada Ricky Arnold yang pernah bekerja di Provoke. Wajah saya sendiri sebenarnya tidak asing lagi karena katanya pernah ditemuai saat meliput bersama disebuah acara.
Pekerjaan Ghera memag dibilang cukup banyak, saya diminta untuk menuliskan tentang topik destitnasi. Semua berkaitan dengan wisatawan. Obrolan juga seidkit menyinggung tentang media hari ini.

Topik obrolan seru adalah tentnag keyakinan, ada yang dalam otaknya sudha tertanam mitoligo kalau orang Cina itu dari RRC dan kristen maka pergaulan semacam ini bagi beberapa orang amat dihindari. Lalu ulasan tentang banyak orang berhijrah dengan landasan utamanya tentnag kematian kalau dari segi perempuannya sendiri karena persoalan jatuh cinta lalu berhijrah. Semua itu berlanjut pada permasalah bagaimana seseorang bisa menikah dengan seseorang yang tidka dikenalanya dengan baik.

Dampak dari itu kadang sulit bagi yang menikah menemukan kekeurangan dari pasangnya. Disela sela obrolan "Perempuan itu harus rela dimadu dan lelaki diracun" seketika saja syaa tertawa.  Ada yang menganggap kenapa tidak dikomunikasikan saja segala kekurangan pasangan agar mudah dimengerti nantinya. Tentu saja utnuk dirananh rumah tangga hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk ukurna Psikolog saja bisa cerangan apalagi bagi orang bisa. Tidak pernah ada cinta yang jalinannya manis tuan dan nona.

Datanglah seorang perempuan yang mengeluhkan kondisi rumahnya yang berisik akan sura sound dari trans tv. Kasus tentang pembunuhan seorang guru juga sempat dibahas. bahkan sadisnya sampai ada permainan untuk menghantam guru.

Kamis, 30 November 2017

Postingan Iseng di Akhir Bulan November 2017

Hal tidak terduga di bulan November ini, saya terdaftar sebagai peserta dalam kompetisi tahunan Manual Brew Community. Sejak dibuka pendaftarannya kuota peserta hanya untuk 96 orang saja. Semua kuota terisi hanya dalam waktu 15 menit saja. Metode yang akan saya gunakan nanti adalah aero press seiring waktu aero press kemudian diganti dengan menggunakan V60, beberapa roastery baru mulai saya coba hasil biji kopinya.

Saat mengunjungi salah satu kedai di daerah Dago, seorang roaster bilang perlu dibedakan antara seduhan untuk jualan dan seduhan untuk kompetisi. Dalam kompetisi nanti bukan hanya hasil seduhan yang perlu dipersiapkan tapi juga, kelengkapan lainnya karena kalau itu tidak diperhatikan akan mengurangi penilaiannya juri.

Mudah mudahan saat kompetisi nanti saya bisa menghasilkan seduhan terbaik dan hasilnya juga baik. Itu saja.

Kamis, 30 November 2017 

Selasa, 01 Agustus 2017

Ramalan Marshall McLuhan Lebih Bisa Dipercaya Daripada Ramalan Cinta

Sekali dalam hidup kamu pasti pernah mempercayai sebuah ramalan. Paling mudahnya sih ramalan cuaca agar rencana ketemuan sama gebetan bisa berjalan lancar. Ada kalanya kekonyolan lain berlanjut  dengan membeli sebuah majalah remaja dengan tujuan membaca ramalan zodiaknya saja, saat ada yang sesuai dengan si dia maka hati akan berbunga-bunga sekali pun itu bunga bangkai. Generasi Millennials kita harus waspada saat mendengar kata ramalan karena saat hati sedang baper bapernya maka yang terdengar menjadi lamaran wkwkwkw.

Di negeri kita ini dibalik sebuah ramalan ada kepentingan politis. Ramalan dari politisi misalnya tujuannya apalagi selain untuk mendapatkan kursi dan proyek-proyek keduniawian. Padahal penjual kursi begitu banyaknya mau kursi dari plastik sampai kursi dari bahan empuk. Kalau ramalan dari seorang teman tidak akan jauh dari perkara hati, kadang banyak yang percaya sekali pun hasilnya sering mengada-ngada.

Generasi millennial kita harus belajar meramalkan sesuatu yang revolusioner, belajarlah dari seorang filsuf asal Kanada Marshall McLuhan hasil dari ramalahnnya telah terbukti hari ini. Jarak yang tadinya begitu jauh dari satu negara ke negara lain kini terasa begitu dekat. Yang dia ramalkan adalah kedatangan internet jauh sebelum internet sendiri ditemukan.

Ramalan ini juga datang dengan sebuah ancaman, bukan sebuah ancaman bom bunuh seperti yang sering dilakukan oleh para penyebar teror. Ancaman yang lebih serius tentang kehancuran lain yang akan terjadi setelah lahirnya penemuan ini. Internet konon akan menghilangkan hal-hal yang bersifat fisik yang sudah dirasakan adalah matinya sebagian industri media cetak. Baik di dalam dan luar negeri, semua pemberitaan media cetak banyak yang beralih ke dunia online. 

Istirahatnya sebagian media cetak membuat profesi loper koran sulit ditemukan. Baik yang menjajakan langsung ditempat atau yang berkeliling. Membaca koran bukan lagi sesuatu yang seksi, koran harian dibaca mingguan saat akhir pekan saja. Majalah turut merasakan kehancuran dari ramalan ini berhenti menerbitkan edisi cetak sudah jadi jalan yang harus ditempuh. Majalah HAI di tahun ini memutuskan berhenti dari edisi cetak lalu mengalihkan kontennya ke online.

Perputaran berita di media online yang begitu cepat berganti turut melahirkan mahluk-mahluk baru didunia pergunjingan atau istilah kerennya para pembully. Kehidupan artis yang tidak sempurna seolah-olah jadi lahan empuk untuk terus menerus diserang tanpa ampun. Di dunia sosial media mereka adalah yang maha benar, ikut bicara di isu apa saja sudah jadi sebuah kewajiban. Sosmed terutama Instagram telah mengajarkan tentang pencitraan hidup yang sempurna dan kajian estetika tingkat tinggi.

Di satu sisi masyarakat kita telah banyak diuntungkan dengan adanya internet, presiden saja bisa membahagiakan rakyatnya dengan membuat video blog tentang kehidupan pribadinya dan keluarga. Sosialita jadi-jadian bisa meraup banyak untuk dari bisnis jasa titip dari merek-merek fesyen kekinian. Lalu bagaimana dengan nasib kamu?

Masih terjebak nogtalgia? Masih mencari yang sempurna? Belum sembuh dari penyakit patah hati yang menahun? Jadi korban ditikung teman sendiri berkali-kali? Sabarlah kawan hidup memang berat dijalani sendiri. Jadi penyair saja agar hidup lebih puitis paling tidak orang yang kamu sukai bisa dihadiahi puisi. Perempuan hari ini mana ada yang suka puisi? Rasanya masih ada dan jadi barang langka dipasaran. Pernahkah kamu percaya akan ramalan cinta dari seorang teman?

Ramalan teman tentang cinta ini akan lebih seringnya cocok-cocokan. Tingkat subjektifitas lebih tinggi dari objektivitas. Saat ada teman dekat yang baru jadian dengan kecengan kita maka sudah jelas kamu sendiri yang akan meramalkan tentang hubungan mereka yang tidak akan berlangsung lama. Alhasil malah sebalilknya hubungan mereka bisa panjang sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak. Jadi, masih mau percaya dengan ramalan cinta? Lebih baik buat ramalan yang lebih revolusioner seperti halnya suhu Marshall McLuhan.

Senin, 08 Mei 2017

Selamat Pensiun Bapak

Bapak bekerja menjadi tulang punggung keluarga selama 32 tahun, hari ini 28 April 2017 masa tugasnya berakhir. Bapak resmi pensiun dari Pegawai Negeri Sipil sebagai Kepala Bidang di Dinas Sosial. Dinas sosial menjadi pelabuhan terakhir, setelah dipindah pindahkan tugas mulai dari Disnaker, BKD, Dinas Catatan Sipil sampai terakhir di Dinas Sosial. Di hari perpisahannya semua pegawai turut bersedih itulah yang diceritakan sebelum tidur. Siang hari saat pulang ke rumah mobil dinas Suzuki Avanza sudah tidak terlihat lagi di tempat parkir biasa. Masa pensiun ini harus siap dihadapi oleh bapak dari hari ke hari.

Bekerja menjadi seorang PNS bukanlah hal yang mudah. Sejak awal-awal bekerja profesi ini tidak menjamin karena gajinya yang terbilang sedikit. Oemar Bakti lagu yang dinyanyikan Iwan Fals mewakili kondisi sebenarnya bagaimana seorang guru PNS harus bergelut dengan kehidupannya. Bagi saya bapak adalah seorang pekerja keras, mau belajar sesuatu yang baru dan seorang yang menganyomi kepada bawahannya. Momentum pensiun yang seharusnya dirayakan hanya angan-angan belaka, punya atasan yang pelit minta ampun imbasnya adalah setiap pegawai yang pensium dibiarkan pergi begitu saja. Dari yang sejak awal di Dinas Sosial tidak ada perayaannya sama sekali.

Hal yang terlihat dari pensiunnya bapak adalah beberapa barang miliknya yang dikemasi dari kantor dipindahkan ke rumah. Mulai dari tas, foto-foto, arsip sampai barang lainnya. Fasilitas kantor kini tidak bisa dinikmatinya lagi, menjelang pensiun bapak sering bercerita kalau kondisi ruangnnya sudah nyaman dilengkapi dengan TV dan cukup luas. Pada saat menjalani kunjungan kerja, bapak sering kali membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga, saudara dan teman-teman yang ada dirumah. Dia tidak pernah lupa membagikan oleh-oleh. Saya tak kuasa untuk menahan kesedihan ini. Semangat dan kerja keras bapak perlu dicontoh.

Di dinas sosial tugas bapak adalah menghadapi orang-orang yang bermasalah mulai dari orang gila, anak jalanan sampai tunawisma. Tidak jarang pernah suatu malam bapak datang ke porles karena mendengar kabar penjualan manusia. Selain itu para penyandang cacat turut menjadi bagian dari tugasnya. Bapak mungkin akan rindu makan siang di kantin langgananannya, menu favoritnya adalah pepes iklan. Setiap kali berkunjung ke kantor, saya tidak lupa diajak makan siang di kantin. Mungkin pemilik kantin juga akan merasa kehilangan, kalau seandainya tahu bapak kini sudah pensiun dan bapak jelas tidak memberitahukan hal ini. Saya menulis catatan ini sambil berkaca-kaca turut merasakan kesedihan yang bapak rasakan.

Mobil dinas digunakan terakhir kali saat makan malam bersama di Pick Me pada hari Kamis, di malam itu yang jadi bahan obrolan tidak lepas dari soal pensiun diselingi dengan obrolan untuk mengisi kegiatan yang kosong. Bagi seorang pegawai masa pensiun mungkin tidak pernah diinginkan namun semua itu tentu akan tetap datang. Pesan yang masih diingat dari bapak adalah, setelah masa pensiun saat mengadakan pesta pernikahan belum tentu semua yang diundang akan datang karena di waktu itu mungkin pikiran orang sudah berubah, tidak ada lagi jurang pemisan juga ikatan antara atasan dan bawahan itu juga yang membuat orang-orang akan cuek. Dalam hati, saya berharap hal itu jangan sampai terjadi. Selamat menikmati masa-masa pensiun bapak, semoga menjadi manusia yang selalu bahagia dan bersyukur sampai nanti ajal menjemput. Perjalanan hidup masih panjang, karena masa pensiun bukan berarti akhir dari segalanya. Yang utama adalah keluarga kita.

Rabu, 19 April 2017

Seni Mendengar dan Kerecetan Yang Meracau

Orang bisa bicara apa saja tentang hidup mereka, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang dengan relanya membagikan cerita hidup mereka. Bukan sekadar tentang cinta saja, ada tema-tema yang sederhana yang diceritakan saat kapan pun. Pada saat pagi menjelang siang, saya duduk sambil sedikit membaca-baca berita online atau apa saja yang penting ada kegiatan. Seorang lelaki yang usianya sudah paruh baya mendekati saya, kedatangannya belum bisa ditebak ingin menyampaikan apa. Lebih seringnya menceritakan tentang kisah hidup yang panjang dan bertele-tele itu bisa membuat saya kesal lalu pergi begitu saja. Dirinya seolah menyangka orang-orang akan betah atau kuat berlama-lama mendengarkan ceritanya.

Ocehannya hari ini kurang lebih tentang perubahan tetangga yang hidup di sekitar rumahnya. Sebagian tetangga kini menjadi peminum kopi, dirumahnya punya gilingan sendiri, mengenal jenis-jenis kopi. Hal secamam itulah yang mengundang tanya pada dirinya, tentu ocehan itu tidak bisa lepas dari unsur membicarakan orang lain. Faktor ini biasanya membuat saya kehilangan gairah untuk mendengarkan.Tidak hanya tentang kopi, ada cerita tentang sepupunya yang bekerja sebagai barista di Ngopi Doeloe, sepupunya banyak direkrut dan jarang memasukan lamaran pekerjaan.

Karena saya sudah punya firasat kalau obrolan ini akan berujung panjanpug, maka saya putuskan untuk sudahi saja. Saya perlu keatas untuk tiduran sambil memikirkan tentang bagaimana orang kuat untuk mendengar. Mendengar seni menurut saya dalah seni, di mana apa yang disampaikan belum tentu sama dengan apa yang diterima. Kendala yang dihadapi biasanya berkenaan dengan rasa acuh, tidak peduli, kurang simpati dan obrolan yang jelas tidak menarik. Sisi kepribadiaan seseorang juga mempengaruhi contohnya seorang boss akan sangat nihil, kalau karyawannya tidak mendengar apa yang disampaikan karena itu akan memutuskan hubungan kerja.

Faktor psikologis juga sesungguhnya mempengaruhi. Orang yang sering melewati hari-harinya persendiri tanpa ada ruang untuk bercerita tentu akan merasa senang ketika menemukan tempat yang bisa menampung juga mendengar cerita-ceritanya. Lewat mendengar dengan baik juga, saya percaya akan mudah menebak mana cerita yang sebenarnya dan cerita yang hanya dibuat-buat belaka. Kejujuran memang penting. Baiknya juga saat menceritakan sesuatu perlulah batasan jangan sampai membuat muak seseorang.

Mari kita lompat ke hal lain, wanita sering ingin didengar. Diamnya memberi pertanda seseatu bisa itu baik atau buruk tengah terjadi. Mengenal seorang wanita itu bisa dari suaranya. Suara satu orang wanita itu bisa menciptakan pasar dadakan. Suara cuitannya bisa menggema ke mana-mana, jangan heran kerap panggilan cerewet kerap dengan mereka. Banyak contoh wanita yang saya temukan di lingkuran pergaulan.

Kejadian yang paling membuat saya terkecoh adalah pada saat kedatangan Ghina, dia bagian dari anggota Komunitas Aleut senang hal-hal tentang India. Sepertinya perasaaannya tengah gantung karena hanya sebatas mendengarkan janji-janji manis. Yang paling cukup mengusik adalah suaranya yang cukup cempreng, seperti suara trible yang sudah mencapai volume maksimal. "Recet" itu mungkin bisa mewakili. Di malam itu, dia menginap di kedai karena faktor cuaca dan minimnya angkot. Saya terlentang di lantai atas tanpa pikiran apa-apa. Saat Tami dan Ghina sudah saling berdekatan terjadilah ledakan-ledakan yang tidak diinginkan. Suara recet itu benar-benar meracau. Sebagai lelaki, saya tidak ingin ikut campur dalam obrolan itu. Obrolan yang diangkat tentang kosmetik dan cara-cara perempuan memanipulasi kecantikannya. Dari mata, hidung sampai muka semua bisa diakasli dengan make up. Saya sudahi saja tulisannya karena sejatinya terlalu panjang menulis akan membuat kabur akan inti hal yang akan disampaikan. Biarkanlah wanita tentang meluapkan ocehan-ocehannya yang penting lelaki tidak perlu mengikuti ocehan panjang seperti wanita.

Salam rindu,

Kamis, 30 Juni 2016

Bulan Juli Bersemi

Acchhh...sudah bulan Juli lagi di bulan ini juga umat islam akan bertemu dengan hari Raya Idul Fitri atau lebih dikenal hari Lebaran. Kemarin malam, saya baru mendapat gaji dari Abang hasil menjaga kedai beberapa hari. Hanya sekedar gaji alakadarnya bukan THR. Saat datang waktu buka, saya bersama beberapa orang teman sepakat untuk membeli mie ayam dan baso di jalan Karawitan. Semangkuk baso harganya tidak mahal hanya Rp 10.000 saja dan mie ayam Rp 8.000,- untuk mie ayam ditambah baso harganya bisa jauh diatas rata-rata yaitu Rp 17.000 hal itulah yang membuat saya kaget juga penasaran. Untuk memastikannya, saya bertanya langsung dan benar saja harganya memang segitu.

Mari kita bicara Sari sekarang, dia adalah seorang anggota Komunitas Aleut yang baru. Sehari-hari bekerja di bidang travel, nama perusahaannya adalah M-Tour dulunya adalah Cipaganti. Sekarang kepemilikannya ada investor dari Filipina. Dulu Cipaganti sempat mengalami masa kejayaan juga pelopor dalam bidang travel karena ada kesan terlalu terburu-buru dalam mengembangkan usahanya. Pada akhirnya yang terjadi perusahannya malah gulung tikar, perputaraan uang investor lembat menjadi salah satu penyebabnya.

Bekerja di bidang travel mengharuskannya menggunakan baju yang rapi. Setiap Senin dan Selasa menggunakan baju resmi, hari Rabu dan Kamis menggunakan stelan rapih sedangkan hari Jumat dan  Sabtu bisa menggunakan kaos berkerah. Sari ini belum banyak saya ketahui asal usulnya, status percintaan masih sendiri dan di Bandung tinggal di kosan yang letaknya ada di jalan BKR. Karena masih sendiri tidak jarang dia dan temannya yaitu Thinthin sering menjadi korban bully sampai hari terakhir menjelang lebaran, ia belum diberi libur rencananya di hari lebaran akan mudik ke kampung halamannya.

Absennya Iwan di hari Rabu membuat saya harus masuk menggantikannya, suasana sore itu belum ada sesuatu pun yang menunjukan akan adanya pengujung. Bekerja di kedai kopi membuat harus mempersiapkan hal-hal yang perlu yaitu teh yang siap untuk dituangan dan es batu untuk minuman dingin. Malam hari terasa sepi ditambah hujan mengguyur Solontongan, Bilven datang malam itu bersama dengan temannya membawa buku Pernik KAA 2015 yang sudah dicetak. Buku ini dicetak bekerjasama dengan penerbit Ultimus dan sempat ada kesalahan cetak di alamat website milik penerbit buku ini.

Di hari terakhir bulan Juni masih ada Kamisan, Iwan absen bekerja. Saya jadi teringat orbolan malam ini tentang tujuan hidup lalu teringat akan keinginan di lebaran tahun lalu. Kalau sudah bekerja ingin memberikan THR kepada keponakan dan saudara-saudara yang ada di kampung halaman. Yang terjadi pekerjaan jelas belum ada, kalau tidak ingin bekerja di orang lain bekerjalah untuk diri sendiri. Betapa nikmatnya bisa menentukan THR sesuai dengan keinginan sendiri.

Selasa, 31 Mei 2016

Purwakarta Hari Ini

Hari ini 12 orang anggota Komunitas Aleut akan berangkat menuju kabupaten Purwakarta. Perberangkatan yang tadinya dimulai pukul 5 pagi mengalami sedikit keterlambatan. Travel yang dipesan mengalami kendala dijalan sehingga kita semua harus berangkat jam 7 kurang sepuluh menit. Perjalanan kesana bisa dibilang lancar tidak mengalami kendala macet dijalan sehingga jam 8 lebih sudah sampai ditempat.

Peserta semuanya berkumpul di depan balai panyawangan dan terlebih dulu mengharuskan untuk daftar ulang. Para peserta yang lebih dulu datang terlihat sudah menggunakan kaos putih bertuliskan "Purwakarta Walking Tour 2016" disela-sela daftar ulang ulang ada juga komunitas lain yang baru saja datang mereka adalah komunitas Pecandu Buku. Setelah selasai registrasi ulang para peserta diarahkan oleh panitia ke tempat ganti baju

Semua peserta kini telah berkumpul di halaman balai panyawangan. Panitia yang bertugas saat ini langsung menginformasikan tentang tata terbib dan rute yang dilewati nanti. Tidak lupa ada sambutan dari kepala bidang dinas pariwisata kabupaten Purwakarta. Ada sekitar 5 kelompok pada acara Walking Tour kali ini, setiap kelompok akan dipandu oleh 2 orang LO yang datang dari mojang dan jajaka. Setiap rutenya pada peserta akan diberi kata kunci untuk menuju rute wisata selanjutnya. Adanya acara ini dimaksudnya untuk mengenalkan Purwakarta yang kini kondisinya sudah berubah.

Aku masuk kedalam kelompok Yudistira yang rute pertamanya adalah Balai Panyawangan. Lokasinya tidak jauh dari tempat berkumpul tadi cuma perlu melangkah kaki beberapa langkah saja. Dari depan pintu masuk sudah berdiri beberapa orang petugas yang siap menyambut kedatangan kita. Balai Panyawangan adalah sebuah museum yang mendokumentasikan semua sejarah tentang Purwarkarta. Usianya sendiri baru satu tahun disini bisa ditemukan sejarah tertulis dilengkapi dengan objeknya tidak ketinggalan ada audio digital dalam bentuk buku yang menceritakan sejarah secara informatif. Museum ini dibuka setiap hari dan tidak dikenakan biaya. Inovasi digital lain yang tidak kalah menarik adalah sepeda digital yang didepannya ada layar yang ketika dikayauh pedalnya seolah-olah kita sedang berjalan menyelusuri Purwakarta.