Univeristas Pendidikan Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai UPI punya sebuah museum pendidikan nasional yang umurnya baru 1 tahun. Tidak hanya itu, museum ini juga dilengkapi dengan sebuah teater terbuka dengan kursi melingkar dan diatasnya ditutup oleh jaring-jaring dengan bentuk seperti laba-laba. Sebuah grup musik keroncong menamakan diri mereka Badami selesai menyanyikan beberapa lagu. Meja bulat yang jumlahnya sekitar empat buah mulai diisi oleh beberapa pembicara dari kalangan penulis, praktisi dan tokoh pendidikan dalam sebuah tema stop pemberangusan buku.
Diskusi yang diadakan dalam bentuk panel itu dipandu oleh seorang moderator perempuan ini. Begitu lihai membuka dengan basa-basi yang indah. Kesempatan pertama bicara diberikan kepada Muhidin M Dahlan, seorang aktivis literasi.Ia bercerita pernah mengalami beberapa kali pemboitan bukunya pada tahun 2006 kemudian berlanjut pada tahun 2016.
Moderator menyerahkan kesempatan bicara selanjutnya pada Anton Kurnia, seseorang yang dikenal sebagai penerjemah, ia bercerita tentang pengalamannya di Jakarta tentang pemberangusan buku pada acara Asean Literary Festival (ATF) cara penyampaiannyan memang lebih sering mengaitkan dengan sastra sastra dunia yang dia terjemahkan. Sebebelumnya semua masalah perijinan sudah diurus dengan baik
Dari Anton lalu berpindah ke Ahda, cara penyampaiannyan tidak bisa lepas dari peran kepenyairannya. Membuka dengan salam lalu menyapa mahasiswa tidak ketinggalan menyapa mahasiswinya juga dengan penuh rasa cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar