Selasa, 01 Agustus 2017

Ramalan Marshall McLuhan Lebih Bisa Dipercaya Daripada Ramalan Cinta

Sekali dalam hidup kamu pasti pernah mempercayai sebuah ramalan. Paling mudahnya sih ramalan cuaca agar rencana ketemuan sama gebetan bisa berjalan lancar. Ada kalanya kekonyolan lain berlanjut  dengan membeli sebuah majalah remaja dengan tujuan membaca ramalan zodiaknya saja, saat ada yang sesuai dengan si dia maka hati akan berbunga-bunga sekali pun itu bunga bangkai. Generasi Millennials kita harus waspada saat mendengar kata ramalan karena saat hati sedang baper bapernya maka yang terdengar menjadi lamaran wkwkwkw.

Di negeri kita ini dibalik sebuah ramalan ada kepentingan politis. Ramalan dari politisi misalnya tujuannya apalagi selain untuk mendapatkan kursi dan proyek-proyek keduniawian. Padahal penjual kursi begitu banyaknya mau kursi dari plastik sampai kursi dari bahan empuk. Kalau ramalan dari seorang teman tidak akan jauh dari perkara hati, kadang banyak yang percaya sekali pun hasilnya sering mengada-ngada.

Generasi millennial kita harus belajar meramalkan sesuatu yang revolusioner, belajarlah dari seorang filsuf asal Kanada Marshall McLuhan hasil dari ramalahnnya telah terbukti hari ini. Jarak yang tadinya begitu jauh dari satu negara ke negara lain kini terasa begitu dekat. Yang dia ramalkan adalah kedatangan internet jauh sebelum internet sendiri ditemukan.

Ramalan ini juga datang dengan sebuah ancaman, bukan sebuah ancaman bom bunuh seperti yang sering dilakukan oleh para penyebar teror. Ancaman yang lebih serius tentang kehancuran lain yang akan terjadi setelah lahirnya penemuan ini. Internet konon akan menghilangkan hal-hal yang bersifat fisik yang sudah dirasakan adalah matinya sebagian industri media cetak. Baik di dalam dan luar negeri, semua pemberitaan media cetak banyak yang beralih ke dunia online. 

Istirahatnya sebagian media cetak membuat profesi loper koran sulit ditemukan. Baik yang menjajakan langsung ditempat atau yang berkeliling. Membaca koran bukan lagi sesuatu yang seksi, koran harian dibaca mingguan saat akhir pekan saja. Majalah turut merasakan kehancuran dari ramalan ini berhenti menerbitkan edisi cetak sudah jadi jalan yang harus ditempuh. Majalah HAI di tahun ini memutuskan berhenti dari edisi cetak lalu mengalihkan kontennya ke online.

Perputaran berita di media online yang begitu cepat berganti turut melahirkan mahluk-mahluk baru didunia pergunjingan atau istilah kerennya para pembully. Kehidupan artis yang tidak sempurna seolah-olah jadi lahan empuk untuk terus menerus diserang tanpa ampun. Di dunia sosial media mereka adalah yang maha benar, ikut bicara di isu apa saja sudah jadi sebuah kewajiban. Sosmed terutama Instagram telah mengajarkan tentang pencitraan hidup yang sempurna dan kajian estetika tingkat tinggi.

Di satu sisi masyarakat kita telah banyak diuntungkan dengan adanya internet, presiden saja bisa membahagiakan rakyatnya dengan membuat video blog tentang kehidupan pribadinya dan keluarga. Sosialita jadi-jadian bisa meraup banyak untuk dari bisnis jasa titip dari merek-merek fesyen kekinian. Lalu bagaimana dengan nasib kamu?

Masih terjebak nogtalgia? Masih mencari yang sempurna? Belum sembuh dari penyakit patah hati yang menahun? Jadi korban ditikung teman sendiri berkali-kali? Sabarlah kawan hidup memang berat dijalani sendiri. Jadi penyair saja agar hidup lebih puitis paling tidak orang yang kamu sukai bisa dihadiahi puisi. Perempuan hari ini mana ada yang suka puisi? Rasanya masih ada dan jadi barang langka dipasaran. Pernahkah kamu percaya akan ramalan cinta dari seorang teman?

Ramalan teman tentang cinta ini akan lebih seringnya cocok-cocokan. Tingkat subjektifitas lebih tinggi dari objektivitas. Saat ada teman dekat yang baru jadian dengan kecengan kita maka sudah jelas kamu sendiri yang akan meramalkan tentang hubungan mereka yang tidak akan berlangsung lama. Alhasil malah sebalilknya hubungan mereka bisa panjang sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak. Jadi, masih mau percaya dengan ramalan cinta? Lebih baik buat ramalan yang lebih revolusioner seperti halnya suhu Marshall McLuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar