CONTRAST sebuah coffee shop yang berlokasi di jalan Anggrek Bandung punya daya tarik dari segi kopinya yang enak, baristanya yang terlatih dan berpengalaman ditambah tempat yang mendukung suasana. Saya mengajak seorang teman untuk kopi, teman perempuan karena sejak berlakunya New Normal beberapa tempat di Bandung sudah membolehkan untuk dine in.
Teman perempuan ini bekerja di biro psikologi kurang lebih pekerjaan menyiapkan training perusahaan juga menyediakan rekturment SDM berkualitas. Dia sudah cukup lama bekerja di tempatnya sekarang belakangan sehabis pulang kerja selalu menyempatkan untuk olahraga lari. Lari dengan target sekian kilometer dengan bantuan aplikasi. Banyak sekali memang aplikasi untuk membantu mengukur sudah seberapa jauh berlari. Kalau saja kita berpacaran olahraga berdua tentu menjadi kencan yang mengasikan.
Teman saya ini punya waktu untuk ngopi sehabis pulang kerja. Sore menjelang magrib dia keluar dari tempat kerjanya. Sebelumnya ada pesan whatsapp darinya kalau cuaca di tempat kerjanya sudah turun hujan. Saya sudah punya prediksi kalau ngopi di contrast tidak akan jadi. Saya mengerti kondisi pandemi situasinya belum sepenuhnya aman juga Bandung masih sepi.
Pergi ke contrast tidak akan jadi. Saya menawarkan opsi untuk pergi ke kedai kopi yang dekat dengan tempat kerjanya yaitu Marones ada di Padasuka. Karena faktor jarak dan waktu juga tempat yang dipilih untuk ngopi jadilah ke Dewaji Coffee ada di Ujungberung.
Saya sampai ke Dewaji lebih awal, dia masih diangkot. Saya berkeliling sebentar ke lantai 2 untuk melihat situasi yang terjadi. Saya mengirim pesan di WA ada dilantai bawah. Padahal saya belum masuk masih menunggu diluar disebuah dengan cahaya lampu yang sedikit redup. Coffee shop ini bersebelahan dengan sekolah TK jadi di sekitar halamannya ada beberapa permainan ayunan, serodotan, dll.
Saya dan dia memesan kopi, saya pesan long black tapi adanya americano. Akhirnya saya pesan kopi filter saja dengan kopi rekomendasi dari baristanya. Obr. olan awal terasa cair, kita saling bertukar cerita. Sebenarnya dia sudah mengajukan resign dari tempat kerjanya, tapi masuk kembali karena ada project baru. Bisa dibilang alasan berhenti dari tempat kerjanya karena bos seringkali banyak pekerjaan tidak sesuai job desk.
Kalau sudah benar benar resign dia berencana utnuk melamar di giggle box dan bobobox sebagai social media specialist. Selama pandemi aktivitas larinya sempat terhenti, yang saya lihat darinya waktu itu. Dia sudah menjadi sosok perempuan mandiri, menarik dan bisa merawat diri. Dn gulia hampir sudah berhenti minum minuman dengan gula pasir.
Beberapa pegawai lama di biro psikologi sudah satu persatu keluar. Yang bekerja sekarang adalah para pegawai baru yang bisa dibilang gila kerja dan masih belum mengetahui seperti apa sifat asli dari bosnya itu. Efek dari pandemi tentu terasa beberapa pelatihan harus dibatalkan tentu imbasnya pada pegawai markteting yang kewalahan mencari konsumen lagi.
Tampilkan postingan dengan label Journaling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journaling. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Juni 2020
Kamis, 12 April 2018
Writing About Ana
Tidak ada hubungannya sama sekali judul berbahasa ingris yang mengharuskan isinya juga berbahasa inggris. Dalam menulis catatan atau apa saja yang ada didalam blog, saya lebih senang menggunakan kata-kata yang lepas. Tidak kaku seolah berbicara pada pembaca, ya kalau perlu seperti obrolan sehari-hari saja agar terasa lebih dekat.
Sudah seminggu tepatnya, saya tidak mendapatkan kabar terbaru tentang ana, kabar itu bisa saja didapatkan dengen mengecek instagramnya atau memberanikan diri bertanya langsung lew at aplikasi chating kekinian. Di instagram lewat feed paling atas, saya hanya mendapati postingan foto terbaru yang lokasinya diambil di Bumi Herbal Dago (BHD). Yang tampak lalu bersembunyi adalah foto kucing. Dibalik foto itu memang ada maksud sengaja dari tangan fotografer untuk mengabadikan hewan yang menurut sebagian orang itu lucu.
Kedatangan Ana setiap hari Kamis memang selalu saya harapkan. Selintas saja dalam pikiran kadang sosok itu muncul beberapa detik saja tidak pernah lama, saya memberiakan ana datang karena dirinya sendiri. Datang Kamisan karena ingin berkumpul sehabis pulang kerja. Saat menuruni tangga, tatapan mata saya melihat jelas kehadirannya yang tengah sudah duduk dengan tenang. Itulah Ana, tak ada kata-kata yang ingin saya ucapkan cukup merasakan keberadaannya di ruangan ini.
Dari wajah itu langsung terpikir untuk mengirimi pesan entah itu keisengan atau keseriusan, saya menawarinya secangkir kopi. Menyeduh kopi itu harus melibatkan cinta, cinta paling dalam kalau perlu. Kamisan berlangsung dengan penuh hangat beberapa orang yang setia turut hadir kala itu. Aip, Akay, Upi, Gista, Ervan, Tegar, Anggi, Enji, Nisa, Windy turut terasa kala itu. Sampai akhir Kamisan, saya tak punya nyali berlama-lama menatap wajahnya.
Kamisan berakhir, ada yang melanjutkan obrolan dan ada yang harus segera pulang. Saya duduk berdiri didekat meja bar. Satu persatu orang berlalu lalang ada yang keatas atau sekedar menuju tempat cuci tangan. Dari tempat duduknya dia berjalan, arah tujuannya untuk mencuci tangan. Lalu, ada yang berusaha menghampiri, sosok itu lalu bertanya "Ada kopi apa?" jawaban yang saya keluarkan malah tidak karuan, saya menjawab pertanyaan itu dengan mengawang-awang.
Antara dua jenis kopi single origin huta bata dan aceh natural saya lebih merekomendasikan huta raja collective, kalau kata seorang teman namanya itu seperti kopi frinsa collective. Dia kembali ke tempat duduknya, saya merasa melewatkan kesempatan untuk mengobrol lebih jauh. Yang jelas ada sedikit kegembiraan kala itu.
Jaket warna biru dongker memberi kesan manis, dia duduk di jok belakang motor. Suara gas terdengar, tatapan matanya masih belum beranjak dari depan kedai. Saya perhatikan terus motor itu, motor mulai melaju. Dia melampaikan tangan, semacam pertanda akan pergi. Lambaian tangan penting itu seperti punya pesan penting, bagi saya membalasnya adalah hal yang perlu. Lampaian tangan itu mungkin saya untuk untuk semua teman, tapi bagi saya itu sebuah arti.
Sudah seminggu tepatnya, saya tidak mendapatkan kabar terbaru tentang ana, kabar itu bisa saja didapatkan dengen mengecek instagramnya atau memberanikan diri bertanya langsung lew at aplikasi chating kekinian. Di instagram lewat feed paling atas, saya hanya mendapati postingan foto terbaru yang lokasinya diambil di Bumi Herbal Dago (BHD). Yang tampak lalu bersembunyi adalah foto kucing. Dibalik foto itu memang ada maksud sengaja dari tangan fotografer untuk mengabadikan hewan yang menurut sebagian orang itu lucu.
Kedatangan Ana setiap hari Kamis memang selalu saya harapkan. Selintas saja dalam pikiran kadang sosok itu muncul beberapa detik saja tidak pernah lama, saya memberiakan ana datang karena dirinya sendiri. Datang Kamisan karena ingin berkumpul sehabis pulang kerja. Saat menuruni tangga, tatapan mata saya melihat jelas kehadirannya yang tengah sudah duduk dengan tenang. Itulah Ana, tak ada kata-kata yang ingin saya ucapkan cukup merasakan keberadaannya di ruangan ini.
Dari wajah itu langsung terpikir untuk mengirimi pesan entah itu keisengan atau keseriusan, saya menawarinya secangkir kopi. Menyeduh kopi itu harus melibatkan cinta, cinta paling dalam kalau perlu. Kamisan berlangsung dengan penuh hangat beberapa orang yang setia turut hadir kala itu. Aip, Akay, Upi, Gista, Ervan, Tegar, Anggi, Enji, Nisa, Windy turut terasa kala itu. Sampai akhir Kamisan, saya tak punya nyali berlama-lama menatap wajahnya.
Kamisan berakhir, ada yang melanjutkan obrolan dan ada yang harus segera pulang. Saya duduk berdiri didekat meja bar. Satu persatu orang berlalu lalang ada yang keatas atau sekedar menuju tempat cuci tangan. Dari tempat duduknya dia berjalan, arah tujuannya untuk mencuci tangan. Lalu, ada yang berusaha menghampiri, sosok itu lalu bertanya "Ada kopi apa?" jawaban yang saya keluarkan malah tidak karuan, saya menjawab pertanyaan itu dengan mengawang-awang.
Antara dua jenis kopi single origin huta bata dan aceh natural saya lebih merekomendasikan huta raja collective, kalau kata seorang teman namanya itu seperti kopi frinsa collective. Dia kembali ke tempat duduknya, saya merasa melewatkan kesempatan untuk mengobrol lebih jauh. Yang jelas ada sedikit kegembiraan kala itu.
Jaket warna biru dongker memberi kesan manis, dia duduk di jok belakang motor. Suara gas terdengar, tatapan matanya masih belum beranjak dari depan kedai. Saya perhatikan terus motor itu, motor mulai melaju. Dia melampaikan tangan, semacam pertanda akan pergi. Lambaian tangan penting itu seperti punya pesan penting, bagi saya membalasnya adalah hal yang perlu. Lampaian tangan itu mungkin saya untuk untuk semua teman, tapi bagi saya itu sebuah arti.
Langganan:
Postingan (Atom)