Kamis, 12 April 2018

Writing About Ana

Tidak ada hubungannya sama sekali judul berbahasa ingris yang mengharuskan isinya juga berbahasa inggris. Dalam menulis catatan atau apa saja yang ada didalam blog, saya lebih senang menggunakan kata-kata yang lepas. Tidak kaku seolah berbicara pada pembaca, ya kalau perlu seperti obrolan sehari-hari saja agar terasa lebih dekat.

Sudah seminggu tepatnya, saya tidak mendapatkan kabar terbaru tentang ana, kabar itu bisa saja didapatkan dengen mengecek instagramnya atau memberanikan diri bertanya langsung lew at aplikasi chating kekinian. Di instagram lewat feed paling atas, saya hanya mendapati postingan foto terbaru yang lokasinya diambil di Bumi Herbal Dago (BHD). Yang tampak lalu bersembunyi adalah foto kucing. Dibalik foto itu memang ada maksud sengaja dari tangan fotografer untuk mengabadikan hewan yang menurut sebagian orang itu lucu.

Kedatangan Ana setiap hari Kamis memang selalu saya harapkan. Selintas saja dalam pikiran kadang sosok itu muncul beberapa detik saja tidak pernah lama, saya memberiakan ana datang karena dirinya sendiri. Datang Kamisan karena ingin berkumpul sehabis pulang kerja. Saat menuruni tangga, tatapan mata saya melihat jelas kehadirannya yang tengah sudah duduk dengan tenang. Itulah Ana, tak ada kata-kata yang ingin saya ucapkan cukup merasakan keberadaannya di ruangan ini.

Dari wajah itu langsung terpikir untuk mengirimi pesan entah itu keisengan atau keseriusan, saya menawarinya secangkir kopi. Menyeduh kopi itu harus melibatkan cinta, cinta paling dalam kalau perlu. Kamisan berlangsung dengan penuh hangat beberapa orang yang setia turut hadir kala itu. Aip, Akay, Upi, Gista, Ervan, Tegar, Anggi, Enji, Nisa, Windy turut terasa kala itu. Sampai akhir Kamisan, saya tak punya nyali berlama-lama menatap wajahnya.

Kamisan berakhir, ada yang melanjutkan obrolan dan ada yang harus segera pulang. Saya duduk berdiri didekat meja bar. Satu persatu orang berlalu lalang ada yang keatas atau sekedar menuju tempat cuci tangan. Dari tempat duduknya dia berjalan, arah tujuannya untuk mencuci tangan. Lalu, ada yang berusaha menghampiri, sosok itu lalu bertanya "Ada kopi apa?" jawaban yang saya keluarkan malah tidak karuan, saya menjawab pertanyaan itu dengan mengawang-awang.
Antara dua jenis kopi single origin huta bata dan aceh natural saya lebih merekomendasikan huta raja collective, kalau kata seorang teman namanya itu seperti kopi frinsa collective. Dia kembali ke tempat duduknya, saya merasa melewatkan kesempatan untuk mengobrol lebih jauh. Yang jelas ada sedikit kegembiraan kala itu.

Jaket warna biru dongker memberi kesan manis, dia duduk di jok belakang motor. Suara gas terdengar, tatapan matanya masih belum beranjak dari depan kedai. Saya perhatikan terus motor itu, motor mulai melaju. Dia melampaikan tangan, semacam pertanda akan pergi. Lambaian tangan penting itu seperti punya pesan penting, bagi saya membalasnya adalah hal yang perlu. Lampaian tangan itu mungkin saya untuk untuk semua teman, tapi bagi saya itu sebuah arti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar