Minggu, 30 Juni 2019

Private Opening Daily Routine Espresso

Daily Routine espresso sepertinya dibuat untuk espresso dan sajian kopi turunannya seperti Americano, Cappucino, Latte, Afogato, dll. Dengan bantuan mesin otomasis dibuat untuk memisahkan antara metode manual dan menggunakan mesin.

Private opening tidak seperti namanya orang orang yang datang dari temen sendiri yang buka kedai. Saya mencoba Americanonya ruang bar tidak terlalu besar. Tempat duduk hanya dibuat seperti tembok yang belum selesai.

Minggu, 31 Maret 2019

Dalam Sepekan

Ada satu rubrik di media online beritagar.id yang mengulas tentang berita sepekan. Beberapa berita yang dipilih bersadrkan apa yang sedang ramai dibicarakan, sesuatu yang trending diselingi beberapa artikel ringan berupa tips. Dalam kehidupan seseorang, ada juga berita dalam sepekan yang membahas apa saja yang sudah terjadi. Bisa sifatnya yang menggembirakan, konyol atau hasil pengmatan.

Bulan Maret akan berakhir berlanjut ke bulan April. Saya rasanya masih berhadapan dengan hal serius godaan kuat membaca buku yang harus berbenturan dengan menonton drama Korea, Harusnya dalam sebulan ada 2 buku yang selesai dibaca. Saya menjadi penonton tidak setia drama Korea, saya mencoba tidak sebatas menonton. Tapi mengambil sisi baik sebagai cara belajar bahasa Korea, belajar sinematografi juga alur pikiran penulis skenario yang bisa menjadikan tayangan dramanya jadi baik.

Dalam sepekan, Kedai Preanger harus mengejak waktu buka. Meja dan kursi sudah selesai dikerjakan. Meja dan kursi yang selesai dikirim langsung di plitur

Selasa, 19 Maret 2019

Beli Nasi Kapau Dapat es Teh Manis Gratis

Selasa, 19 Maret 2019

Hidup hemat bukan semata mata membantasi sessuatu itu juga bisa diatasi dengan memanfaatkan sesuatu. Dari yang tadinya banyak mengkonsumsi sekarang jadi memproduksi. Saya sedang berusaha membangun kebiasaan atau timeline harian seorang pengusaha dibidang digital.

Siang hari, saya sudah ada niatan untuk memasak makanan. Cah kangkung yang baru dipanen tadi pagi.Kondisi yang terjadi berbbeda, saya malah ditawari makan nasi padang. Nasi padang bumbunya kuat yaitu nasi kapau di jalan Kliningan, bagi saya ada anggapan kalau penjualnya itu sedikit jutek tapi balik lagi itu kembali kepada suasana hati. Harga nasi padangnya terbilang tinggi disini.

Makan nasi padang itu paling tepat diakhiri dengan minum es teh manis. Kalau memesan langsung uangnya tentu tidak cukup, setahu saja minta air teh di nasi padang itu gratis. Saya minta dua plastik teh sebagai minuman. Lokasi nasi padang berdekatan dengan warkop yang menjual es batu. Saya punya pikiran cara kerja memasak mie di sini bisa dibilang unik. memasukan mie kedalam plastik yang dimasukan kedalam panci. Untuk dua gelas es teh manis tidak perlu banyak membeli es batu.

Sesampainya di pasir jaya, es batu saya bawa kedapur kemudian saya pecahkan es batunya agar nantinya muat kedalam gelas. Air teh yang masih terasa hangat, saya tambahi gula segelas es teh manis bisa langsung dinikmati. Rasanya tidak jauh beda jika memesan langsung dariya.  nasi padang. Usaha pertahanan dan penghematan pun berhasil.

Saya akui nasi kapau punya rasa bumbu yang kuat. Warkop Kliningan pernah dikunjungi juga oleh teman saya, melihat langsung proses pembuatan mie rebusnya. Dalam satu panci air untuk merebus mie digunakan juga untuk membuat minuman.

Malam harinya, hujan sudah berhenti udara cukup terasa dingin. Saya mencoba mencari Jalan Tampomas ditengah tengah kegelapan untuk mencari Mr Guans. Nuansa rumah tempo dulu juga tanaman yang luas memberi kesan yang hangat dan sejuk.

Kamis, 28 Februari 2019

Dimensi Febuari

Belum ada satu pun jejak tulisan yang saya tinggalkan di blog ini selama bulan Febuari. Saya menjadi kerap merasa resah ketika dalam beberapa hari tidak ada satu pun alat yang terjual. Saya juga berpikir bagaimana caranya bisa menjalankan usaha lainnya dengan menjual barang lain  yang diambil dari orang lain istilahnya dropship. Saya coba menjadi dropshipper alat alat outdoor, fokusnya ke hammock. Diawal awal hammock single untuk peroranganya dijual dengan banyak pilihan warna.

Pagi hari saya bisa lebih produktif setelah berrcocok tanam dimulai dengan melakukan pembibitan sayuran yang jangka panennya tkerbilang cepat. Ada kangkung, Pakcoy dengan sistem tanam langsung tanpa pot sehingga perkembangan akar bisa lebih besar. Saya melengkapi juga beberapa jenis tanaman yang belum lengkap seperti cingcau, jenis tanaman herbal thyme. Untuk cabe jenis domba sudah memasuki panen yang dalam satu pohonnya banyak buahnya.

Saya mulai membuat rancangan untuk kebun dilantai 2 rumah. Tadinya ingin  ditanami dengan cabai dengan tujuan memperbanyak hasil panen yang bisa dijual. Luas diluar lebih mungkin untuk ditanami Strawbeey masukan dari tetangga strawberry itu tanamannya menggantung kalau buahnya ada ditanah bisa busuk.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman, kalau tahun ini adalah shio babi tanah yang bagus untuk memulai bisnis. Berbagi soal dunia bisnis paling tidak dengan teman yang dikenal akan terus membuka perpektif bahwa tujuan bisnis itu adalah untuk laku. Point penting dari bisnis itu bagaimana kedepannya bisa maju. Membuat catatan keuangan adalah penting.

Ada satu waktu di mana saya merasa kesal dan marah juga cemas pada saat teman mulai. Saya diajak untuk membuka stand di acara kumpul alumni anggota sipil tepatnya di komplek KPAD karena ini acaranya di komplek tentara maka saya disarankan untuk datang tepat waktu. Esok harinya setengah jam sebelum acara dimulai, saya sudah datang ke lokasi.

Saya kira teman juga akan datang selang beberapa menit. Aula untuk kumpul alumni luasnya tidak terlalu besar. Sudah lewat satu jam teman saya tidak datang juga dihari itu dia juga ada acara dokumentasi arisan. Saya terus menunggu hingga satu jam. Pelajaran pentingngan, tidak perlu menunggu untuk menanyakan sesuatu.

Senin, 21 Januari 2019

Nurhadi Aldo

Hal paling menyenangkan saat waktu luang adalah menenggelamkan diri dalam kesenangan duniawi. Seperti pergi jalan-jalan atau menikmati secangkir kopi. Kalau ditambah dengan membaca artikel yang baik bisa menyejukan pikiran. Pernah tumbuh keinginan dalam diri ini menjadi pekerja akhir pekan. Anggaplah ini sebagai pengganti hari biasa yang jarang sekali padat. Untuk menulis satu catatan saja sulitnya minta ampun banyak godaan juga faktor malas yang lebih dominan.

Salah satu bacaan favorit saya adalah opini dari A.S. Laksana yang pernah diterbitkan oleh Jawa Pos dalam rubrik bernama "Ruang Putih" kecakapannya dalam merangkai cerita tidak diragukan lagi. Saya membaca tulisannya di situs Beritagar.com judulnya Pendidikan Bermutu Untuk Cebong dan Kampret yang isinya tentang pendidikan bagi anak Indonesia, nilai nilai apa saja yang harus diajarkan, soal Vanessa Angel, sampai sindiran yang dibalut komedi.

Selama bertahun-tahun sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menghasilkan manusia yang bernilai. Belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun tidak juga membuat murid-murid lancar berbahasa inggris. Banyak sekali sekolah swasta dengan konsep ramah lingkungan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya saja, untuk anak miskin jangankan sekolah di sana. Makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

Selesai membaca, saya membuat beberapa Cuitan isinya tentang pengalaman seseorang melamar kerja sampai 750 kali sampai akhirnya diterima kerja. Itu seperti peristiwa ajaib yang benar benar terjadi. Cuitan selanjutnya hanya keisengan mengungkapkan diri sebagai follower baru dari Nurhadi Aldo salah seorang caleg yang ramai dibicarakan. Saya sering mendengar namanya, tapi tidak tahu apa aja kontroversinya. Menurut saya, beberapa isi cuitannya tidak biasa dan jenaka. Memang tidak mudah untuk menjadi caleg yang lucu kebanyakannya hanya pencitraan semata.

Dua cuitan iseng saya ini direspon oleh akun twitter @irfantp seorang teman yang berkerja di Jakarta, tapi selalu betah di Bandung. Kebiasaannya menulis satu paragraf dilanjut dengan tidur begitu terus sampai tulisannya selesai. Rahasia menulisnya adalah tidur. Cuitan saya dibalas dengan kritikan dan sinisme. Kritik soal penggunaan kalimat yang tidak efekif. Sinisme karena telah terbawa oleh tren pemberitaan Nurhadi Aldo. Komentar itu membuka celah untuk sedikit membahasnya.

Kalimat yang efektif digunakan semata mata untuk mengurangi kalimat yang tidak efektif. Sebutlah itu pemborosan kata. Seorang yang menulis untuk tujuan tertentu, misalnya artikel, berita, tulisan akademik, dll memang perlu memperhatikan hal ini. Sedangkan untuk sosial media yang sifatnya pribadi perlukah memperhatikan hal itu? Saya rasa tidak perlu juga, karena bahasa itu mencerminkan diri kita. Seorang akademisi jelas berbeda dengan komedian untuk menunjukan siapa dirinya di sosial media. Lupakan aturan dan tetek bengek bahasa yang memberatkan. Membuat bahasa bergerak sebebas bebasnya terasa lebih menyenangkan.

Ketika bicara soal tren, ada baiknya bercermin pada Tirto.id tempat bekerja teman saya ini. Diawal-awal menulis, Irfan dibebaskan untuk menulis apa saja berdasarkan data dan buku yang ia baca. Semua sifatnya tidak harus kebaruan. Waktu berputar, umur bertambah kerja media perlu menyeimbangkan dengan perkembangan tren. Pola kerja dari pemberitaan harus dirubah oleh pihak redaksi, semua ulasan yang sifatnya lama harus bisa relevan dengan isu yang terjadi saat ini. Menulis tentang teh tidak bisa dari sisi sejarahnya saja harus ada relevansi dengan isu terkini bangkrutnya perusahaan teh sariwangi. Menolak atau keluar dari kubangan tren bagi pekerja industri media nasional adalah omong kosong. Belum lagi pola pergaulan yang menggiring pada tren konsumtif, membeli brand tertentu atau pergi menghabiskan waktu di cafe yang sedang tren.

Tidak ada tulisan lanjutan yang akan membawa pada kesimpulan. Anggap saja tulisan ini sebagai tarikan nafas sebelum menulis beberapa resensi film dan cerita menohok lainnya. Terakhir, ada pesan dari Nurhadi Aldo "Salam cinta untuk sang pemilik cinta, salam rindu untuk sang baginda, salam sayang untuk kamu yang tersayang."

Minggu, 20 Januari 2019

Senin, 31 Desember 2018

Desember di Daily Routine

Saya tidak pernah beberapa kali memaksakan diri untuk datang ke sebuah coffee shop atau katakanlah kedai kecuali untuk hal hal tertentu. Baik itu kopi atau cerita yang ditularkan oleh orang-orang. Bagi yang tidak mengenal Daily Routine hanyalah sebuah tempat biasa saja, sama seperti tempat ngopi kebanyakan. Saya pernah juga melewati daerah Kanayakan yang juga menjadi tempat dari Daily Routine ini.

Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang  kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.

AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.

Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.

Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.

Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.

Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.

Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.

Kamis, 27 Desember 2018

Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)


Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.

Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.

Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.

Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.

Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.

Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.

Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.

Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.

Senyumannya mirip Raisa 

Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.

Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.

Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.