Rabu, 19 April 2017

Seni Mendengar dan Kerecetan Yang Meracau

Orang bisa bicara apa saja tentang hidup mereka, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang dengan relanya membagikan cerita hidup mereka. Bukan sekadar tentang cinta saja, ada tema-tema yang sederhana yang diceritakan saat kapan pun. Pada saat pagi menjelang siang, saya duduk sambil sedikit membaca-baca berita online atau apa saja yang penting ada kegiatan. Seorang lelaki yang usianya sudah paruh baya mendekati saya, kedatangannya belum bisa ditebak ingin menyampaikan apa. Lebih seringnya menceritakan tentang kisah hidup yang panjang dan bertele-tele itu bisa membuat saya kesal lalu pergi begitu saja. Dirinya seolah menyangka orang-orang akan betah atau kuat berlama-lama mendengarkan ceritanya.

Ocehannya hari ini kurang lebih tentang perubahan tetangga yang hidup di sekitar rumahnya. Sebagian tetangga kini menjadi peminum kopi, dirumahnya punya gilingan sendiri, mengenal jenis-jenis kopi. Hal secamam itulah yang mengundang tanya pada dirinya, tentu ocehan itu tidak bisa lepas dari unsur membicarakan orang lain. Faktor ini biasanya membuat saya kehilangan gairah untuk mendengarkan.Tidak hanya tentang kopi, ada cerita tentang sepupunya yang bekerja sebagai barista di Ngopi Doeloe, sepupunya banyak direkrut dan jarang memasukan lamaran pekerjaan.

Karena saya sudah punya firasat kalau obrolan ini akan berujung panjanpug, maka saya putuskan untuk sudahi saja. Saya perlu keatas untuk tiduran sambil memikirkan tentang bagaimana orang kuat untuk mendengar. Mendengar seni menurut saya dalah seni, di mana apa yang disampaikan belum tentu sama dengan apa yang diterima. Kendala yang dihadapi biasanya berkenaan dengan rasa acuh, tidak peduli, kurang simpati dan obrolan yang jelas tidak menarik. Sisi kepribadiaan seseorang juga mempengaruhi contohnya seorang boss akan sangat nihil, kalau karyawannya tidak mendengar apa yang disampaikan karena itu akan memutuskan hubungan kerja.

Faktor psikologis juga sesungguhnya mempengaruhi. Orang yang sering melewati hari-harinya persendiri tanpa ada ruang untuk bercerita tentu akan merasa senang ketika menemukan tempat yang bisa menampung juga mendengar cerita-ceritanya. Lewat mendengar dengan baik juga, saya percaya akan mudah menebak mana cerita yang sebenarnya dan cerita yang hanya dibuat-buat belaka. Kejujuran memang penting. Baiknya juga saat menceritakan sesuatu perlulah batasan jangan sampai membuat muak seseorang.

Mari kita lompat ke hal lain, wanita sering ingin didengar. Diamnya memberi pertanda seseatu bisa itu baik atau buruk tengah terjadi. Mengenal seorang wanita itu bisa dari suaranya. Suara satu orang wanita itu bisa menciptakan pasar dadakan. Suara cuitannya bisa menggema ke mana-mana, jangan heran kerap panggilan cerewet kerap dengan mereka. Banyak contoh wanita yang saya temukan di lingkuran pergaulan.

Kejadian yang paling membuat saya terkecoh adalah pada saat kedatangan Ghina, dia bagian dari anggota Komunitas Aleut senang hal-hal tentang India. Sepertinya perasaaannya tengah gantung karena hanya sebatas mendengarkan janji-janji manis. Yang paling cukup mengusik adalah suaranya yang cukup cempreng, seperti suara trible yang sudah mencapai volume maksimal. "Recet" itu mungkin bisa mewakili. Di malam itu, dia menginap di kedai karena faktor cuaca dan minimnya angkot. Saya terlentang di lantai atas tanpa pikiran apa-apa. Saat Tami dan Ghina sudah saling berdekatan terjadilah ledakan-ledakan yang tidak diinginkan. Suara recet itu benar-benar meracau. Sebagai lelaki, saya tidak ingin ikut campur dalam obrolan itu. Obrolan yang diangkat tentang kosmetik dan cara-cara perempuan memanipulasi kecantikannya. Dari mata, hidung sampai muka semua bisa diakasli dengan make up. Saya sudahi saja tulisannya karena sejatinya terlalu panjang menulis akan membuat kabur akan inti hal yang akan disampaikan. Biarkanlah wanita tentang meluapkan ocehan-ocehannya yang penting lelaki tidak perlu mengikuti ocehan panjang seperti wanita.

Salam rindu,

Sabtu, 31 Desember 2016

Renungan Sepanjang Tahun 2016

Tahun 2016 begitu berkesan, pertemuan dengan orang-orang baru. Penjelajahan ke alam, mengenal kopi dari sudut pandang yang lain tidak ketinggalan nasehat-nasehat penting tentang kehidupan.

Bung Bilven Sandalista

Setiap kali datang ke kedai lelaki itu selalu menggunakan masker kadang sendiri kadang juga ditemani teman lelakinya yang bisa berganti-ganti wajah. Setiap kali ditanya ingin memesan apa, ketika malam hari jarang sekali menyesap kopi jawaban yang keluar dari mulutnya sering kali wedang uwuh. Cara bicaranya juga santai, tidak tergesa-gesa. Sesekali tersenyum dan secara tidak terduga sering melemparkan humor-humor kecil.

Pertemuan lain berlanjut ketika ada acara susur pantai Selatan yang digagas oleh komunitas Aleut dengan menggunakan motor. Sambil menunggu peserta yang ikut datang semua, sebagian yang sudah datang menonton pertandingan PERSIB lebih dulu. Di depan saya pada waktu  itu tengah duduk Kania perempuan dewasa dengan tampilan memoles cantik, tidak ketinggalan disebalahnya duduk seorang perempuan yang wajahnya masih asing tengah menyantap kwetiau. Begitu semua sudah siap, nama lelaki itu kembali disebut-sebut akan turut dalam perjalanan malam itu. Tidak meleset dari waktu yang disepakati maka datanglah ia dengan motor kuningnya tidak dengan barang bawaan yang banyak yang uniknya malah bercelana pendek.

Rabu, 30 November 2016

Jangan Main-Main Dengan Barry Prima

Untuk menambah postingan dan mendisiplinkan diri dalam hal menulis maka perlu untuk membuat beberapa postingan setiap bulan. Tulisannya bisa apa saja mulai dari refleksi, cerpen, esai, resensi sampai menerjemahkan artikel dalam bahasa Inggris. Di bulan November ini di suatu pagi, saya tergerak untuk mengisi perut dengan bubur Mang Andi, bubur ini punya daya tarik bukan sekedar dari rasanya saja, para pembelinya sampai obrolan yang terjadi kala menikmati bubur. Di samping mang Andi ada penjual kupat tahu dan di ujung pasar buku Palasari ada penjual kelapa muda.

Di sinilah cerita akan bergulir seperti pementasan teater yang harus totalitas. Dua orang penjual kelapa muda sama-sama punya muka masam, terasa kurang ramah dan menjawab seperlunya pertanyaan dari pembeli. Gerakan dalam memecahkan kelapa begitu  menggetarkan.

Senin, 28 November 2016

Terget, Proses dan Latihan Dalam Hidup

Jalan panjang hidup manusia ditentukan dalam proses menjalani dan mengejar target selama satu tahun. Seorang olahragawan misalnya untuk menjadi juara di sebuah ajang olimpiade atau kompetisi perlu giat latihan selama berminggu-minggu atau bahkan sampai berbulan-bulan. Pegawai kantoran yang setiap harinya padat bisa saja tahun ini harus rela menikmat ergeti hari-hari santai di masa pensium. Menerima gaji setiap bulan sambil mengurus anak cucu atau menjalani hobi yang selama ini tertunda. Bagi pengantin baru, hidup berdua dalam satu rumah dan tidur dalam satu kasur adalah sebuah perubahan yang jelas nyata harus dijalani.

Target-target kecil bisa dimulai, mencoba sesuatu yang baru adalah cara keluar dari kebosanan. Kalau saja poltik atau olahraga adalah sesuatu yang berat cobalah perlahan gali sisi menarik yang mampu membuka pikiran. Seseorang bisa maju dan berada dalam titik puncak karena terus berusaha untuk mengejar impiannya. Yang sering kali jadi hambatan adalah berpikir terlalu jauh bahkan yang lebih bahaya terus-menerus tenggelam dalam kemalasan. Bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang produktif, kalau terus menerus dimanjakan oleh hasil inovasi bangsa lain. Kuncinya adalah mau belajar dan berani mencoba.

Satu tahun merupakan waktu yang penting untuk belajar, berlatih, menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu. Apa yang tampak indah di depan mata sering kali luput kalau dibalik itu semua ada proses panjang tidak serta merta terjadi begitu saja. Bacalah buku paling tidak setahun sekali. Sejarah hidup orang-orang besar yang sukses di bidangnya ada kalanya perlu dibaca agar bisa menjadi semacam dorongan untuk berbuat hal serupa demi kehidupan yang lebih menyenangkan.

Senin, 24 Oktober 2016

Public Cupping di Noah Barn

Pada awal awal mencoba kopi asli di sebuah cafe saya sempat ngobrol dengan barista yang waktu itu bertugas. Sebelum menyeduh saya disarankan untuk mencium dulu aroma kopi, kopi yang tertutup tas plastik itu saya cium baristanya bilang kalau kopinya sudah lama. Saya mengiyakan saja untuk menyeduh kopi itu. Setelah kopi tersaji obrolan tentang kopi kembali berlanjut, saya disarankan untuk mencoba datang ke Noah Barn sebuah coffee shop yang punya alat alat canggih.

Pergi ngopi ke Noah Barn tidak pernah saya niatkan dengan baik. Mengingat lokasi dan tempatnya cukup besar rasanya tidak fleksibel untuk bergerak. Saat tahu ada public cupping disana. Ruang parkir untuk motor tidak begitu besar saat memasuki pintu masuk saya disambut oleh waiters yang menanyakan tentang cupping, kemudian saya disuruh langsung ke belakang. NOAH BARN lokasinya cukup luas, tatanan kursi mejanya dibuat dengan mewah.

Public Cupping berlokasi di ruangan paling ujung yang juga menjadi tempat gudang. Di gudang itu dipenuhi oleh karung-karung kopi dan plastic bag berisikan beans yang sudah di roasting. Yang lain dari pada public cupping sebelumnya pesertanya tidak hanya di kalangan anak muda saja, tapi ada juga orang tua yang sudah berubah suami istri datang begitu kompak. Kopi kopi yang akan di cupping datang dari benua afrika. Ada dari ethiopia, kenya, rwanda, tanzania dan el costa total ada 2 cup.

Mencium aroma satu persatu menjadi cara untuk membuka cupping. Mencium aroma kopi pada saat kering tentu perlu keahlian.

Kamis, 30 Juni 2016

Bulan Juli Bersemi

Acchhh...sudah bulan Juli lagi di bulan ini juga umat islam akan bertemu dengan hari Raya Idul Fitri atau lebih dikenal hari Lebaran. Kemarin malam, saya baru mendapat gaji dari Abang hasil menjaga kedai beberapa hari. Hanya sekedar gaji alakadarnya bukan THR. Saat datang waktu buka, saya bersama beberapa orang teman sepakat untuk membeli mie ayam dan baso di jalan Karawitan. Semangkuk baso harganya tidak mahal hanya Rp 10.000 saja dan mie ayam Rp 8.000,- untuk mie ayam ditambah baso harganya bisa jauh diatas rata-rata yaitu Rp 17.000 hal itulah yang membuat saya kaget juga penasaran. Untuk memastikannya, saya bertanya langsung dan benar saja harganya memang segitu.

Mari kita bicara Sari sekarang, dia adalah seorang anggota Komunitas Aleut yang baru. Sehari-hari bekerja di bidang travel, nama perusahaannya adalah M-Tour dulunya adalah Cipaganti. Sekarang kepemilikannya ada investor dari Filipina. Dulu Cipaganti sempat mengalami masa kejayaan juga pelopor dalam bidang travel karena ada kesan terlalu terburu-buru dalam mengembangkan usahanya. Pada akhirnya yang terjadi perusahannya malah gulung tikar, perputaraan uang investor lembat menjadi salah satu penyebabnya.

Bekerja di bidang travel mengharuskannya menggunakan baju yang rapi. Setiap Senin dan Selasa menggunakan baju resmi, hari Rabu dan Kamis menggunakan stelan rapih sedangkan hari Jumat dan  Sabtu bisa menggunakan kaos berkerah. Sari ini belum banyak saya ketahui asal usulnya, status percintaan masih sendiri dan di Bandung tinggal di kosan yang letaknya ada di jalan BKR. Karena masih sendiri tidak jarang dia dan temannya yaitu Thinthin sering menjadi korban bully sampai hari terakhir menjelang lebaran, ia belum diberi libur rencananya di hari lebaran akan mudik ke kampung halamannya.

Absennya Iwan di hari Rabu membuat saya harus masuk menggantikannya, suasana sore itu belum ada sesuatu pun yang menunjukan akan adanya pengujung. Bekerja di kedai kopi membuat harus mempersiapkan hal-hal yang perlu yaitu teh yang siap untuk dituangan dan es batu untuk minuman dingin. Malam hari terasa sepi ditambah hujan mengguyur Solontongan, Bilven datang malam itu bersama dengan temannya membawa buku Pernik KAA 2015 yang sudah dicetak. Buku ini dicetak bekerjasama dengan penerbit Ultimus dan sempat ada kesalahan cetak di alamat website milik penerbit buku ini.

Di hari terakhir bulan Juni masih ada Kamisan, Iwan absen bekerja. Saya jadi teringat orbolan malam ini tentang tujuan hidup lalu teringat akan keinginan di lebaran tahun lalu. Kalau sudah bekerja ingin memberikan THR kepada keponakan dan saudara-saudara yang ada di kampung halaman. Yang terjadi pekerjaan jelas belum ada, kalau tidak ingin bekerja di orang lain bekerjalah untuk diri sendiri. Betapa nikmatnya bisa menentukan THR sesuai dengan keinginan sendiri.