Sabtu, 27 Februari 2016

Kamisan Bersama Ceu Linda si Penyuka Kerupuk

Kedai Preanger di Selontongan, Buah Batu tempatnya memang tidak begitu besar tapi sanggup menampung beberapa anggota Komunitas Aleut setiap hari Kamis untuk Kamisan. Kamisan malam itu dimulai dengan mengulas isu-isu yang terjadi di Bandung. Ada yang mengawali dengan melemparkan isu pembangunan Bandung Teknopolis dan dampaknya pada lingkungan. Arya ketika itu langsung memaparkan kalau pembangunan Bandung Teknopolis itu imbasnya pada lingkungan karena lingkungan sekitar ada pesawah belum lagi disana lada populasi burung. Bandung teknopolis rencananya akan digunakan untuk start-startup yang ada di Bandung mengikuti silikon valley yang menjadi kantor dari sosial media raksasa seperti Google, Facebook dan Twitter. Tahun 2016 ini beberapa start up dari Australia juga Korea sudah mulai masuk ke Indonesia. Pembangunan rencananya akan dimulai tahun 2017.

Berlanjut lagi ke kegiatan resensi yang diselenggarkanan setiap hari Sabtu, hari Sabtu dan Minggu rencananya Aleut akan diundang oleh Trans7 untuk sebuah acara. Yang mewakilinya itu adalah 5 orang. Agenda kalau tidak ada resensi maka akan ada pembahasan karya setiap minggunya setiap orang ketika itu mulai menawarkan idenya masing-masing contohnya Peko yang mengusulkan untuk membahas musik dan pengaruhnya kepada lingkungan sekitar. Abang pun berkaomentar kalau pembahasan musik itu bukanlah hal yang baru karena yang seharusnya dibicarakan pada saat ini bukan lagi ide-ide tapi kita harus mulai mencoba merubah pola pikir. Kalau sekiranya melihat a gunung jangan hanya berkomentar tentang  keindahannya saja tapi juga berpikir bagaimkana caranya  ketika melihat gunung kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Contohnya mencari tahu rute pendakian, lokasi dan hal-hal lainnya.

Setelah itu sedikit membahas tentang rencana cetak ulang buku Rasia Bandung. Dengan ejaan yang psudah disempurnakan, harapannya saat cetak buku nantinya punya ISBN dengan  sistem pemesanan. Ada beberapa nama yang harus diganti salah satunya eh di Surabaya, penkambahan glosarium dan catatan  kaki. Diluar dari itu sejak Kamisan dimulai ada saja beberapa dari anggota yang menyebut nyebuag t nama ceu Linda dan kerupuknya. Konon yang diceritakan adalah kemolekan tubuhnya, belum ada sama sekali samar-samar bayangan kecantikannya itu. Rasa pensaran itulah yang membuat saya bertanya tentang siapa sosok Linda itu? Jawabannya bisa ditemukan lewat grup WhatApp Aleut disitu terlihat berita ceu Linda yang tidak lain adalah janda mantan TKW Hongkong asal Jawa Tengah kini usianya 30 tahun.

Ceu Linda sudah tiga kali menikah dan hampir rata-rata yang dinikahinya merasa kewalahan saat bercinta. Ia pun berharap kalau calon yang keempaat tadi punya kepersaan sehingga bisa melayaninya sampai puas. Memanng benar ceu Linda itu punya kelebihan dari segi tubuhnya yang montok.

Untuk rencana ngaleut Minggu ini ditentukan akan pergi ke pemakaman pandu yang berlokasi di jalan Pandu daerah pastur yang saat itu disana ada makan yang ukurannya panjang sampai 17 meter kemudian berkepala 2. Ada cerita dari Chika kalau kemarin-kemarin itu ada palang polisi disana. Makan itu rencananya akan dibangun jalan tol oleh pemkot kota Bandung namun mendapat protes dari warga sekitar.

Dari setiap pertemuan pasti ada inti yang biasanya membawa pada suasana hangat yang lebih terasa. Pada hari itu Peko tengah berbahagia kabarnya baru saja lulus sarjana. Malam itu mari lupakan sejenak apa itu Bandung Teknoolis, novel Rasia Bandung, Makan kristen Pandu, tapi jangan pernah lupakan ceu Linda dan kerupuknya. Terima kasih peko atas nasi kuning, ayam, kentang, sayur, sambal dan tidak lupa juga keru puk. Kamisan minggu ini berakhir dengan perut kenyang dan perkenalan konyol dengan ceu Linda janda penyuka kerupuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar