Kamis, 30 November 2017

Postingan Iseng di Akhir Bulan November 2017

Hal tidak terduga di bulan November ini, saya terdaftar sebagai peserta dalam kompetisi tahunan Manual Brew Community. Sejak dibuka pendaftarannya kuota peserta hanya untuk 96 orang saja. Semua kuota terisi hanya dalam waktu 15 menit saja. Metode yang akan saya gunakan nanti adalah aero press seiring waktu aero press kemudian diganti dengan menggunakan V60, beberapa roastery baru mulai saya coba hasil biji kopinya.

Saat mengunjungi salah satu kedai di daerah Dago, seorang roaster bilang perlu dibedakan antara seduhan untuk jualan dan seduhan untuk kompetisi. Dalam kompetisi nanti bukan hanya hasil seduhan yang perlu dipersiapkan tapi juga, kelengkapan lainnya karena kalau itu tidak diperhatikan akan mengurangi penilaiannya juri.

Mudah mudahan saat kompetisi nanti saya bisa menghasilkan seduhan terbaik dan hasilnya juga baik. Itu saja.

Kamis, 30 November 2017 

Rabu, 01 November 2017

Resensi Film Posesif (2017)



Di ruang lingkup pergaulan sineas indie nama Edwin sering dikaitkan dengan film besutannya "Babi Buta Ingin Terbang" yang berhasil menembus festival film internasional di luar negeri. Nama Edwin sebagai sutradara kembali muncul dalam film "Posesif" tak ingin melewatkan kesempatan ini, saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Sebelum diputar serentak di bioskop, Palarifilms sebagai rumah produksi pernah memutarkan filmnya pertama kalinya di Kineruku pada saat malam Minggu. Edwin dikenal sebagai sutradara fiilm arthouse, arthouse film adalah film yang dibuat secara mandiri tanpa kepentingan komersil. Jaringan distribusinya terbilang terbatas dilingkup komunitas saja. Bagi saya posesif ini adalah film komersil yang digarap pertama kalinya oleh Edwin.

Film ini dibuka dengan sebuah adegan lompat indah dengan soundtrack dari musisi indie yang masih asing. Menceritakan tentang kisah percintaan remaja diperankah oleh Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken) tidak seperti film remaja kebanyakan. Film ini malah menyajikan kisah percintaan remaja yang manis diawal namun beracun diakhir. Putri Mario yang berperan sebagai Lala sebelumnya saya kenal pernah membintangi webseries Axe edisi Keenan Pearce, dia juga salah seorang pendatang baru di dunia film.

Sejak Lala dan Yudhis dihukum oleh guru olahraga di jam istirahat awal ikatan mereka sudah terasa. Yudhis yang menurut Lala cukup nekat langsung diajak untuk jalan ke tempat tempat baru. Mereka berdua datang ke sebuah galeri yang lokasi settingnya diambil di Bandung, di tempat itu Lala bercerita kalau dia dan sekaluarga disebut sebagai keluarga penguin. Ditempat itu juga Yudhis mencari satu kesamaan dengan Lala maka ditemukanlah Paus mereka berdua sepakat menggambar Penguin dan Paus di tangannya masing-masing.

Lala yang sehari harinya sibuk dengan latihan dari pagi membuat Yudhis seolah tidak diperhatikan keinginannnya. Setiap emosi baik itu ikatan keluarga yang kuat antara Lala dan Ayahnya atau hubungan mereka yang tidak biasa membuat saya menikmati setiap adegan yang ditawarkan.
Awal Yudhis membuat masalah pada saat Sheila salah satu saingan Lala disenter matanya saat latihan. Yudhis sempat didatangi oleh ayahnya Lala lalu terjadi perdebatan antara mereka. Saat itu juga Lala memutuskan keluar dari tim dan pergi bersama pacarnya. Emosi dalam film semakin terasa saat Lala dipaksa Yudhis untuk kuliah di Bandung, Lala yang sudah lama hidup dengan ayahnya tidak bisa menerima tawaran Yudhis.

Latarbelakang Yudhis menjadi Posesif tentu dipengaruhi oleh ibunya. Ibu Yudhis yang diperankan oleh Cut Mini dikenal sebagai seorang yang ringan tangan. Adegan paling mengerikan di film ini Yudhis dipukuli oleh ibunya saat bilang nama papanya. Gerak tubuh dari Cut Mini menunjukan kalau dia tipikal seorang ibu yang ringan tangan.

Setiap adegan dalam film Posesif memberi emosi tersendiri, soundtrack lagu yang dipilihnya terbilang pas seperti lagu hits Dipha Barus feat Kalula "No One Can't Stop Us" muncul saat adegan Lala dan Yudis berenang berdua. Belum lagi ditambah soundtrack dari musisi indie lainnya seperti Banda Neira dan lagu "Dan" dari Sheila On 7.

Gina C Noer sebagai penulis skenario mampu membuat percakapan yang mewakili dunia remaja. Teknik senimatografinya juga dibuat berwarna dan punya nilai seni. Secara keseluruhan film Posesif ini menewarkan cerita cinta yang tidak melulu manis namun sebuah hubungan juga bisa berakhir dengan tragis. Sempat dibuat poster meme juga dari film ini dengan modelnya presiden Soekarno dan Soeharto tulisannya "Soekarno presiden pertama Indonesia" "Soeharto Ingin Selamanya". Tamatlah sudah resensi film ini.

Kamis, 31 Agustus 2017

Catatan dari Ngaji Jurnalisme Investigasi

Jurnalisme investigasi dan indeepth adalah dua hal yang berbeda. Investigasi tujuannya adslah mrngungkap dan in deepth menceritakan. Proses awal prnggalian ide berawal dari i mind mapping

Selasa, 01 Agustus 2017

Ramalan Marshall McLuhan Lebih Bisa Dipercaya Daripada Ramalan Cinta

Sekali dalam hidup kamu pasti pernah mempercayai sebuah ramalan. Paling mudahnya sih ramalan cuaca agar rencana ketemuan sama gebetan bisa berjalan lancar. Ada kalanya kekonyolan lain berlanjut  dengan membeli sebuah majalah remaja dengan tujuan membaca ramalan zodiaknya saja, saat ada yang sesuai dengan si dia maka hati akan berbunga-bunga sekali pun itu bunga bangkai. Generasi Millennials kita harus waspada saat mendengar kata ramalan karena saat hati sedang baper bapernya maka yang terdengar menjadi lamaran wkwkwkw.

Di negeri kita ini dibalik sebuah ramalan ada kepentingan politis. Ramalan dari politisi misalnya tujuannya apalagi selain untuk mendapatkan kursi dan proyek-proyek keduniawian. Padahal penjual kursi begitu banyaknya mau kursi dari plastik sampai kursi dari bahan empuk. Kalau ramalan dari seorang teman tidak akan jauh dari perkara hati, kadang banyak yang percaya sekali pun hasilnya sering mengada-ngada.

Generasi millennial kita harus belajar meramalkan sesuatu yang revolusioner, belajarlah dari seorang filsuf asal Kanada Marshall McLuhan hasil dari ramalahnnya telah terbukti hari ini. Jarak yang tadinya begitu jauh dari satu negara ke negara lain kini terasa begitu dekat. Yang dia ramalkan adalah kedatangan internet jauh sebelum internet sendiri ditemukan.

Ramalan ini juga datang dengan sebuah ancaman, bukan sebuah ancaman bom bunuh seperti yang sering dilakukan oleh para penyebar teror. Ancaman yang lebih serius tentang kehancuran lain yang akan terjadi setelah lahirnya penemuan ini. Internet konon akan menghilangkan hal-hal yang bersifat fisik yang sudah dirasakan adalah matinya sebagian industri media cetak. Baik di dalam dan luar negeri, semua pemberitaan media cetak banyak yang beralih ke dunia online. 

Istirahatnya sebagian media cetak membuat profesi loper koran sulit ditemukan. Baik yang menjajakan langsung ditempat atau yang berkeliling. Membaca koran bukan lagi sesuatu yang seksi, koran harian dibaca mingguan saat akhir pekan saja. Majalah turut merasakan kehancuran dari ramalan ini berhenti menerbitkan edisi cetak sudah jadi jalan yang harus ditempuh. Majalah HAI di tahun ini memutuskan berhenti dari edisi cetak lalu mengalihkan kontennya ke online.

Perputaran berita di media online yang begitu cepat berganti turut melahirkan mahluk-mahluk baru didunia pergunjingan atau istilah kerennya para pembully. Kehidupan artis yang tidak sempurna seolah-olah jadi lahan empuk untuk terus menerus diserang tanpa ampun. Di dunia sosial media mereka adalah yang maha benar, ikut bicara di isu apa saja sudah jadi sebuah kewajiban. Sosmed terutama Instagram telah mengajarkan tentang pencitraan hidup yang sempurna dan kajian estetika tingkat tinggi.

Di satu sisi masyarakat kita telah banyak diuntungkan dengan adanya internet, presiden saja bisa membahagiakan rakyatnya dengan membuat video blog tentang kehidupan pribadinya dan keluarga. Sosialita jadi-jadian bisa meraup banyak untuk dari bisnis jasa titip dari merek-merek fesyen kekinian. Lalu bagaimana dengan nasib kamu?

Masih terjebak nogtalgia? Masih mencari yang sempurna? Belum sembuh dari penyakit patah hati yang menahun? Jadi korban ditikung teman sendiri berkali-kali? Sabarlah kawan hidup memang berat dijalani sendiri. Jadi penyair saja agar hidup lebih puitis paling tidak orang yang kamu sukai bisa dihadiahi puisi. Perempuan hari ini mana ada yang suka puisi? Rasanya masih ada dan jadi barang langka dipasaran. Pernahkah kamu percaya akan ramalan cinta dari seorang teman?

Ramalan teman tentang cinta ini akan lebih seringnya cocok-cocokan. Tingkat subjektifitas lebih tinggi dari objektivitas. Saat ada teman dekat yang baru jadian dengan kecengan kita maka sudah jelas kamu sendiri yang akan meramalkan tentang hubungan mereka yang tidak akan berlangsung lama. Alhasil malah sebalilknya hubungan mereka bisa panjang sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak. Jadi, masih mau percaya dengan ramalan cinta? Lebih baik buat ramalan yang lebih revolusioner seperti halnya suhu Marshall McLuhan.

Senin, 08 Mei 2017

Selamat Pensiun Bapak

Bapak bekerja menjadi tulang punggung keluarga selama 32 tahun, hari ini 28 April 2017 masa tugasnya berakhir. Bapak resmi pensiun dari Pegawai Negeri Sipil sebagai Kepala Bidang di Dinas Sosial. Dinas sosial menjadi pelabuhan terakhir, setelah dipindah pindahkan tugas mulai dari Disnaker, BKD, Dinas Catatan Sipil sampai terakhir di Dinas Sosial. Di hari perpisahannya semua pegawai turut bersedih itulah yang diceritakan sebelum tidur. Siang hari saat pulang ke rumah mobil dinas Suzuki Avanza sudah tidak terlihat lagi di tempat parkir biasa. Masa pensiun ini harus siap dihadapi oleh bapak dari hari ke hari.

Bekerja menjadi seorang PNS bukanlah hal yang mudah. Sejak awal-awal bekerja profesi ini tidak menjamin karena gajinya yang terbilang sedikit. Oemar Bakti lagu yang dinyanyikan Iwan Fals mewakili kondisi sebenarnya bagaimana seorang guru PNS harus bergelut dengan kehidupannya. Bagi saya bapak adalah seorang pekerja keras, mau belajar sesuatu yang baru dan seorang yang menganyomi kepada bawahannya. Momentum pensiun yang seharusnya dirayakan hanya angan-angan belaka, punya atasan yang pelit minta ampun imbasnya adalah setiap pegawai yang pensium dibiarkan pergi begitu saja. Dari yang sejak awal di Dinas Sosial tidak ada perayaannya sama sekali.

Hal yang terlihat dari pensiunnya bapak adalah beberapa barang miliknya yang dikemasi dari kantor dipindahkan ke rumah. Mulai dari tas, foto-foto, arsip sampai barang lainnya. Fasilitas kantor kini tidak bisa dinikmatinya lagi, menjelang pensiun bapak sering bercerita kalau kondisi ruangnnya sudah nyaman dilengkapi dengan TV dan cukup luas. Pada saat menjalani kunjungan kerja, bapak sering kali membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga, saudara dan teman-teman yang ada dirumah. Dia tidak pernah lupa membagikan oleh-oleh. Saya tak kuasa untuk menahan kesedihan ini. Semangat dan kerja keras bapak perlu dicontoh.

Di dinas sosial tugas bapak adalah menghadapi orang-orang yang bermasalah mulai dari orang gila, anak jalanan sampai tunawisma. Tidak jarang pernah suatu malam bapak datang ke porles karena mendengar kabar penjualan manusia. Selain itu para penyandang cacat turut menjadi bagian dari tugasnya. Bapak mungkin akan rindu makan siang di kantin langgananannya, menu favoritnya adalah pepes iklan. Setiap kali berkunjung ke kantor, saya tidak lupa diajak makan siang di kantin. Mungkin pemilik kantin juga akan merasa kehilangan, kalau seandainya tahu bapak kini sudah pensiun dan bapak jelas tidak memberitahukan hal ini. Saya menulis catatan ini sambil berkaca-kaca turut merasakan kesedihan yang bapak rasakan.

Mobil dinas digunakan terakhir kali saat makan malam bersama di Pick Me pada hari Kamis, di malam itu yang jadi bahan obrolan tidak lepas dari soal pensiun diselingi dengan obrolan untuk mengisi kegiatan yang kosong. Bagi seorang pegawai masa pensiun mungkin tidak pernah diinginkan namun semua itu tentu akan tetap datang. Pesan yang masih diingat dari bapak adalah, setelah masa pensiun saat mengadakan pesta pernikahan belum tentu semua yang diundang akan datang karena di waktu itu mungkin pikiran orang sudah berubah, tidak ada lagi jurang pemisan juga ikatan antara atasan dan bawahan itu juga yang membuat orang-orang akan cuek. Dalam hati, saya berharap hal itu jangan sampai terjadi. Selamat menikmati masa-masa pensiun bapak, semoga menjadi manusia yang selalu bahagia dan bersyukur sampai nanti ajal menjemput. Perjalanan hidup masih panjang, karena masa pensiun bukan berarti akhir dari segalanya. Yang utama adalah keluarga kita.

Rabu, 19 April 2017

Seni Mendengar dan Kerecetan Yang Meracau

Orang bisa bicara apa saja tentang hidup mereka, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang dengan relanya membagikan cerita hidup mereka. Bukan sekadar tentang cinta saja, ada tema-tema yang sederhana yang diceritakan saat kapan pun. Pada saat pagi menjelang siang, saya duduk sambil sedikit membaca-baca berita online atau apa saja yang penting ada kegiatan. Seorang lelaki yang usianya sudah paruh baya mendekati saya, kedatangannya belum bisa ditebak ingin menyampaikan apa. Lebih seringnya menceritakan tentang kisah hidup yang panjang dan bertele-tele itu bisa membuat saya kesal lalu pergi begitu saja. Dirinya seolah menyangka orang-orang akan betah atau kuat berlama-lama mendengarkan ceritanya.

Ocehannya hari ini kurang lebih tentang perubahan tetangga yang hidup di sekitar rumahnya. Sebagian tetangga kini menjadi peminum kopi, dirumahnya punya gilingan sendiri, mengenal jenis-jenis kopi. Hal secamam itulah yang mengundang tanya pada dirinya, tentu ocehan itu tidak bisa lepas dari unsur membicarakan orang lain. Faktor ini biasanya membuat saya kehilangan gairah untuk mendengarkan.Tidak hanya tentang kopi, ada cerita tentang sepupunya yang bekerja sebagai barista di Ngopi Doeloe, sepupunya banyak direkrut dan jarang memasukan lamaran pekerjaan.

Karena saya sudah punya firasat kalau obrolan ini akan berujung panjanpug, maka saya putuskan untuk sudahi saja. Saya perlu keatas untuk tiduran sambil memikirkan tentang bagaimana orang kuat untuk mendengar. Mendengar seni menurut saya dalah seni, di mana apa yang disampaikan belum tentu sama dengan apa yang diterima. Kendala yang dihadapi biasanya berkenaan dengan rasa acuh, tidak peduli, kurang simpati dan obrolan yang jelas tidak menarik. Sisi kepribadiaan seseorang juga mempengaruhi contohnya seorang boss akan sangat nihil, kalau karyawannya tidak mendengar apa yang disampaikan karena itu akan memutuskan hubungan kerja.

Faktor psikologis juga sesungguhnya mempengaruhi. Orang yang sering melewati hari-harinya persendiri tanpa ada ruang untuk bercerita tentu akan merasa senang ketika menemukan tempat yang bisa menampung juga mendengar cerita-ceritanya. Lewat mendengar dengan baik juga, saya percaya akan mudah menebak mana cerita yang sebenarnya dan cerita yang hanya dibuat-buat belaka. Kejujuran memang penting. Baiknya juga saat menceritakan sesuatu perlulah batasan jangan sampai membuat muak seseorang.

Mari kita lompat ke hal lain, wanita sering ingin didengar. Diamnya memberi pertanda seseatu bisa itu baik atau buruk tengah terjadi. Mengenal seorang wanita itu bisa dari suaranya. Suara satu orang wanita itu bisa menciptakan pasar dadakan. Suara cuitannya bisa menggema ke mana-mana, jangan heran kerap panggilan cerewet kerap dengan mereka. Banyak contoh wanita yang saya temukan di lingkuran pergaulan.

Kejadian yang paling membuat saya terkecoh adalah pada saat kedatangan Ghina, dia bagian dari anggota Komunitas Aleut senang hal-hal tentang India. Sepertinya perasaaannya tengah gantung karena hanya sebatas mendengarkan janji-janji manis. Yang paling cukup mengusik adalah suaranya yang cukup cempreng, seperti suara trible yang sudah mencapai volume maksimal. "Recet" itu mungkin bisa mewakili. Di malam itu, dia menginap di kedai karena faktor cuaca dan minimnya angkot. Saya terlentang di lantai atas tanpa pikiran apa-apa. Saat Tami dan Ghina sudah saling berdekatan terjadilah ledakan-ledakan yang tidak diinginkan. Suara recet itu benar-benar meracau. Sebagai lelaki, saya tidak ingin ikut campur dalam obrolan itu. Obrolan yang diangkat tentang kosmetik dan cara-cara perempuan memanipulasi kecantikannya. Dari mata, hidung sampai muka semua bisa diakasli dengan make up. Saya sudahi saja tulisannya karena sejatinya terlalu panjang menulis akan membuat kabur akan inti hal yang akan disampaikan. Biarkanlah wanita tentang meluapkan ocehan-ocehannya yang penting lelaki tidak perlu mengikuti ocehan panjang seperti wanita.

Salam rindu,