Selasa, 19 Maret 2019

Beli Nasi Kapau Dapat es Teh Manis Gratis

Selasa, 19 Maret 2019

Hidup hemat bukan semata mata membantasi sessuatu itu juga bisa diatasi dengan memanfaatkan sesuatu. Dari yang tadinya banyak mengkonsumsi sekarang jadi memproduksi. Saya sedang berusaha membangun kebiasaan atau timeline harian seorang pengusaha dibidang digital.

Siang hari, saya sudah ada niatan untuk memasak makanan. Cah kangkung yang baru dipanen tadi pagi.Kondisi yang terjadi berbbeda, saya malah ditawari makan nasi padang. Nasi padang bumbunya kuat yaitu nasi kapau di jalan Kliningan, bagi saya ada anggapan kalau penjualnya itu sedikit jutek tapi balik lagi itu kembali kepada suasana hati. Harga nasi padangnya terbilang tinggi disini.

Makan nasi padang itu paling tepat diakhiri dengan minum es teh manis. Kalau memesan langsung uangnya tentu tidak cukup, setahu saja minta air teh di nasi padang itu gratis. Saya minta dua plastik teh sebagai minuman. Lokasi nasi padang berdekatan dengan warkop yang menjual es batu. Saya punya pikiran cara kerja memasak mie di sini bisa dibilang unik. memasukan mie kedalam plastik yang dimasukan kedalam panci. Untuk dua gelas es teh manis tidak perlu banyak membeli es batu.

Sesampainya di pasir jaya, es batu saya bawa kedapur kemudian saya pecahkan es batunya agar nantinya muat kedalam gelas. Air teh yang masih terasa hangat, saya tambahi gula segelas es teh manis bisa langsung dinikmati. Rasanya tidak jauh beda jika memesan langsung dariya.  nasi padang. Usaha pertahanan dan penghematan pun berhasil.

Saya akui nasi kapau punya rasa bumbu yang kuat. Warkop Kliningan pernah dikunjungi juga oleh teman saya, melihat langsung proses pembuatan mie rebusnya. Dalam satu panci air untuk merebus mie digunakan juga untuk membuat minuman.

Malam harinya, hujan sudah berhenti udara cukup terasa dingin. Saya mencoba mencari Jalan Tampomas ditengah tengah kegelapan untuk mencari Mr Guans. Nuansa rumah tempo dulu juga tanaman yang luas memberi kesan yang hangat dan sejuk.

Kamis, 28 Februari 2019

Dimensi Febuari

Belum ada satu pun jejak tulisan yang saya tinggalkan di blog ini selama bulan Febuari. Saya menjadi kerap merasa resah ketika dalam beberapa hari tidak ada satu pun alat yang terjual. Saya juga berpikir bagaimana caranya bisa menjalankan usaha lainnya dengan menjual barang lain  yang diambil dari orang lain istilahnya dropship. Saya coba menjadi dropshipper alat alat outdoor, fokusnya ke hammock. Diawal awal hammock single untuk peroranganya dijual dengan banyak pilihan warna.

Pagi hari saya bisa lebih produktif setelah berrcocok tanam dimulai dengan melakukan pembibitan sayuran yang jangka panennya tkerbilang cepat. Ada kangkung, Pakcoy dengan sistem tanam langsung tanpa pot sehingga perkembangan akar bisa lebih besar. Saya melengkapi juga beberapa jenis tanaman yang belum lengkap seperti cingcau, jenis tanaman herbal thyme. Untuk cabe jenis domba sudah memasuki panen yang dalam satu pohonnya banyak buahnya.

Saya mulai membuat rancangan untuk kebun dilantai 2 rumah. Tadinya ingin  ditanami dengan cabai dengan tujuan memperbanyak hasil panen yang bisa dijual. Luas diluar lebih mungkin untuk ditanami Strawbeey masukan dari tetangga strawberry itu tanamannya menggantung kalau buahnya ada ditanah bisa busuk.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman, kalau tahun ini adalah shio babi tanah yang bagus untuk memulai bisnis. Berbagi soal dunia bisnis paling tidak dengan teman yang dikenal akan terus membuka perpektif bahwa tujuan bisnis itu adalah untuk laku. Point penting dari bisnis itu bagaimana kedepannya bisa maju. Membuat catatan keuangan adalah penting.

Ada satu waktu di mana saya merasa kesal dan marah juga cemas pada saat teman mulai. Saya diajak untuk membuka stand di acara kumpul alumni anggota sipil tepatnya di komplek KPAD karena ini acaranya di komplek tentara maka saya disarankan untuk datang tepat waktu. Esok harinya setengah jam sebelum acara dimulai, saya sudah datang ke lokasi.

Saya kira teman juga akan datang selang beberapa menit. Aula untuk kumpul alumni luasnya tidak terlalu besar. Sudah lewat satu jam teman saya tidak datang juga dihari itu dia juga ada acara dokumentasi arisan. Saya terus menunggu hingga satu jam. Pelajaran pentingngan, tidak perlu menunggu untuk menanyakan sesuatu.

Senin, 21 Januari 2019

Nurhadi Aldo

Hal paling menyenangkan saat waktu luang adalah menenggelamkan diri dalam kesenangan duniawi. Seperti pergi jalan-jalan atau menikmati secangkir kopi. Kalau ditambah dengan membaca artikel yang baik bisa menyejukan pikiran. Pernah tumbuh keinginan dalam diri ini menjadi pekerja akhir pekan. Anggaplah ini sebagai pengganti hari biasa yang jarang sekali padat. Untuk menulis satu catatan saja sulitnya minta ampun banyak godaan juga faktor malas yang lebih dominan.

Salah satu bacaan favorit saya adalah opini dari A.S. Laksana yang pernah diterbitkan oleh Jawa Pos dalam rubrik bernama "Ruang Putih" kecakapannya dalam merangkai cerita tidak diragukan lagi. Saya membaca tulisannya di situs Beritagar.com judulnya Pendidikan Bermutu Untuk Cebong dan Kampret yang isinya tentang pendidikan bagi anak Indonesia, nilai nilai apa saja yang harus diajarkan, soal Vanessa Angel, sampai sindiran yang dibalut komedi.

Selama bertahun-tahun sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menghasilkan manusia yang bernilai. Belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun tidak juga membuat murid-murid lancar berbahasa inggris. Banyak sekali sekolah swasta dengan konsep ramah lingkungan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya saja, untuk anak miskin jangankan sekolah di sana. Makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

Selesai membaca, saya membuat beberapa Cuitan isinya tentang pengalaman seseorang melamar kerja sampai 750 kali sampai akhirnya diterima kerja. Itu seperti peristiwa ajaib yang benar benar terjadi. Cuitan selanjutnya hanya keisengan mengungkapkan diri sebagai follower baru dari Nurhadi Aldo salah seorang caleg yang ramai dibicarakan. Saya sering mendengar namanya, tapi tidak tahu apa aja kontroversinya. Menurut saya, beberapa isi cuitannya tidak biasa dan jenaka. Memang tidak mudah untuk menjadi caleg yang lucu kebanyakannya hanya pencitraan semata.

Dua cuitan iseng saya ini direspon oleh akun twitter @irfantp seorang teman yang berkerja di Jakarta, tapi selalu betah di Bandung. Kebiasaannya menulis satu paragraf dilanjut dengan tidur begitu terus sampai tulisannya selesai. Rahasia menulisnya adalah tidur. Cuitan saya dibalas dengan kritikan dan sinisme. Kritik soal penggunaan kalimat yang tidak efekif. Sinisme karena telah terbawa oleh tren pemberitaan Nurhadi Aldo. Komentar itu membuka celah untuk sedikit membahasnya.

Kalimat yang efektif digunakan semata mata untuk mengurangi kalimat yang tidak efektif. Sebutlah itu pemborosan kata. Seorang yang menulis untuk tujuan tertentu, misalnya artikel, berita, tulisan akademik, dll memang perlu memperhatikan hal ini. Sedangkan untuk sosial media yang sifatnya pribadi perlukah memperhatikan hal itu? Saya rasa tidak perlu juga, karena bahasa itu mencerminkan diri kita. Seorang akademisi jelas berbeda dengan komedian untuk menunjukan siapa dirinya di sosial media. Lupakan aturan dan tetek bengek bahasa yang memberatkan. Membuat bahasa bergerak sebebas bebasnya terasa lebih menyenangkan.

Ketika bicara soal tren, ada baiknya bercermin pada Tirto.id tempat bekerja teman saya ini. Diawal-awal menulis, Irfan dibebaskan untuk menulis apa saja berdasarkan data dan buku yang ia baca. Semua sifatnya tidak harus kebaruan. Waktu berputar, umur bertambah kerja media perlu menyeimbangkan dengan perkembangan tren. Pola kerja dari pemberitaan harus dirubah oleh pihak redaksi, semua ulasan yang sifatnya lama harus bisa relevan dengan isu yang terjadi saat ini. Menulis tentang teh tidak bisa dari sisi sejarahnya saja harus ada relevansi dengan isu terkini bangkrutnya perusahaan teh sariwangi. Menolak atau keluar dari kubangan tren bagi pekerja industri media nasional adalah omong kosong. Belum lagi pola pergaulan yang menggiring pada tren konsumtif, membeli brand tertentu atau pergi menghabiskan waktu di cafe yang sedang tren.

Tidak ada tulisan lanjutan yang akan membawa pada kesimpulan. Anggap saja tulisan ini sebagai tarikan nafas sebelum menulis beberapa resensi film dan cerita menohok lainnya. Terakhir, ada pesan dari Nurhadi Aldo "Salam cinta untuk sang pemilik cinta, salam rindu untuk sang baginda, salam sayang untuk kamu yang tersayang."

Minggu, 20 Januari 2019

Senin, 31 Desember 2018

Desember di Daily Routine

Saya tidak pernah beberapa kali memaksakan diri untuk datang ke sebuah coffee shop atau katakanlah kedai kecuali untuk hal hal tertentu. Baik itu kopi atau cerita yang ditularkan oleh orang-orang. Bagi yang tidak mengenal Daily Routine hanyalah sebuah tempat biasa saja, sama seperti tempat ngopi kebanyakan. Saya pernah juga melewati daerah Kanayakan yang juga menjadi tempat dari Daily Routine ini.

Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang  kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.

AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.

Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.

Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.

Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.

Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.

Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.

Kamis, 27 Desember 2018

Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)


Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.

Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.

Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.

Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.

Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.

Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.

Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.

Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.

Senyumannya mirip Raisa 

Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.

Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.

Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.

Selasa, 23 Oktober 2018

Trikuto

Di Cihapit semua serba ada, saya kira dari awalnya pasar yang sebatas nama tanpa bayangan apa-apa. Sampai ke pasar yang saya perhatikan detail setiap lokasinya. Cihapit punya kue balok dan surabinya, juga yang paling detail terpampang retail ayam goreng dengan berbagai macam pilihan sambal. Kalau datang di pagi hari, saya biasa membeli kue balok dilanjutkan membeli bahan-bahan untuk keperluan kedai seperti sirup, thai tea, susu, dll.

Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.

Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.

Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.

Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.

Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.

Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.

Senin, 22 Oktober 2018

Rumah Kedua Bukan Istri Kedua


Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.

Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.

Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.

Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.

Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha

Minggu, 21 Oktober 2018