Tampilkan postingan dengan label kedai kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedai kopi. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Oktober 2018
Rumah Kedua Bukan Istri Kedua
Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.
Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.
Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.
Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.
Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha
Minggu, 21 Oktober 2018
Senin, 18 April 2016
Ngopi Serius di Kopi Florist
Cara keluar dari kebosanan adalah pergi ke tempat baru sebagai bentuk penyegaran. Keinginan yang begitu kuat hari ini membuatku memutuskan untuk mendatangi salah satu kedai kopi dengan konsep ngopi di kebun. Semua itu menjadi terasa mudah karena ciuaca sore masih cerah dan tidak turun hujan.
Kedai kopi berkonsepkan kebun itu adalah Kopi Florist yang ada di pasar bunga Tegalega. Biarpun sering melewati jalan Tegalega, tapi ini jadi pengalaman pertama masuk ke pasar bunga. Pasar bunga menjual berbagai macam tanaman hias dan bunga yang telah dirangkai untuk ucapan selamat atau penanda kematian.
Kopi Florist lokasinya ada di dalam pasar bunga. Dari pasar bunga masuklah dulu ke dalam lalu ambil belok kanan sekitar beberapa meter akan terlihat tempat duduk yang nyaman juga saung berkaca. masuklah ke dalam maka akan ada desain bar dengan kayu melingkar dan seorang peracik kopi yang siap untuk membuatkan secangkir kopi dengan berbagai macam metode manual brewing.
Aku masuk ke dalam bar lalu disambut oleh seorang lelaki paruh baya dengan badan yang gemuk, lalu ia bertanya kedatanganku darimana. Aku langsung menjawab dari Soreang, ia pun menyebut nama mr bre yang memang kedai yang lokasinya ada disana. Ia bertanya ingin ngopi apa dan aku langsung ditawarinya mencoba kopi Batak dari tanah Sumatera. Aku pun bilang ingin menikmati kopi yang manis, tapi ia menyarankan untuk mencoba kopi dari tanah Sumatera. Maka aku langsung percaya dan mengiyakan saran itu.
Kopi Batak diseduh dengan metode V60 dengan drip dari HARIO bahannaya sendiri dari porselin. Entah kenapa pada waktu itu sang peracik menyerahkan alat-alatnya langsung didepanku dan menyuruh untuk menyeduh sendiri. Setelah ditimbang beberapa gram, kopi Batak langsung digiling di grinder, filter pun dikeluarkan dan ia menyuruh untuk membasahi kertas lebih dulu. Aku mulai meneteskan satu persatu tetesan air ke kopi. ada metode perhitungan gram untuk menjadi ml metode V60 mengharuskan meneteskan air dari tengah agar bisa menyebar semuanya kepinggir. Setiap tetesan membuat lingkaran pada perputaran air ditengah. Tetesan terus berlanjut sampai akhirnya ada di angka 1700 gram.
Timbangan ketika itu menunjukan angka 1740g itu artinya kopi siap untuk diminum. Gelas pun pada waktu itu diputar lebih dulu untuk membuat ekstrasi lebih maksimal. Aku mempersilahkan kepada Abang untuk menyesap kopi lebih dulu, komentarnya pada waktu itu bodynya kuat dan ada rasa manis di akhir. kini giliranku untuk menyesap kopi Batak. Aku pun merasakan hal yang sama, kopi tanah Sumatera dengan karakter body yang kuat, kopi buatan sendiri memang leabih enak.
Tidak beberapa abang menawarkan untuk dibuatkan kopi yang manis masih dengan metode V60, kopi yang ditawarkan waktu itu adalah Linggasari, Linggasari ini ada di daerah Purwakarta. Kini giliranku untuk melihat seperti apa metode menyeduh V60 yang baik. Tidak terasa proses telah selesai, kopi linggasari yang konon katanya manis itu mulai disesap komentarnya waktu itu bodynya mulus dan rasanya manis. Aku juga segera ingin merasaknnya. Aroma yang ditawarkan dari kopi linggasari ini memang kuat aroma gula merahnya, bodnya halus dan rasanya manis.
Kalau bicara soal alat-alat memang di kopi florist ini tidak main-main termasuk juga air untuk menyeduh kopinya. Semuanya memang berkualitas dan satu hal yang menarik untuk membuat espresso menggunakan NOMAD mesin yang dibuat di Swedia. Cara kerjanya juga unik cukup menekan ke kiri dan ke kanan seperti layaknya sebuah ayunan, aku mengdapat kesempatan juga menyeruput espresso dari kopi medan yang rasanya awalnya asin kemudian terasa pahit yang kuat diakhirnya.
Satu yang tidak ketinggalan, aku ditawari untuk mencoba kopi robusta disini yang dari segi aromanyn seperti kopi arabica. Saat sore mulai berakhir dan berganti malam, satu persatu pengunjung lain mulai berdatangan. Ada informasi akhir April ini ada kompetisi Aero Press, kalau ingin membeli biji kopi yang sudah diroasting bisa langsung datang kesini ada banyak pilihan mulai dari Dewi Ningrum sampai Dewi Kandita.
Kalau ingin ngopi serius datanglah ke kopi Florist dan mulailah bertanya-tanya banyak hal tentang kopi karena para peraciknya tidak segan untuk berbagi.
Kedai kopi berkonsepkan kebun itu adalah Kopi Florist yang ada di pasar bunga Tegalega. Biarpun sering melewati jalan Tegalega, tapi ini jadi pengalaman pertama masuk ke pasar bunga. Pasar bunga menjual berbagai macam tanaman hias dan bunga yang telah dirangkai untuk ucapan selamat atau penanda kematian.
Kopi Florist lokasinya ada di dalam pasar bunga. Dari pasar bunga masuklah dulu ke dalam lalu ambil belok kanan sekitar beberapa meter akan terlihat tempat duduk yang nyaman juga saung berkaca. masuklah ke dalam maka akan ada desain bar dengan kayu melingkar dan seorang peracik kopi yang siap untuk membuatkan secangkir kopi dengan berbagai macam metode manual brewing.
Aku masuk ke dalam bar lalu disambut oleh seorang lelaki paruh baya dengan badan yang gemuk, lalu ia bertanya kedatanganku darimana. Aku langsung menjawab dari Soreang, ia pun menyebut nama mr bre yang memang kedai yang lokasinya ada disana. Ia bertanya ingin ngopi apa dan aku langsung ditawarinya mencoba kopi Batak dari tanah Sumatera. Aku pun bilang ingin menikmati kopi yang manis, tapi ia menyarankan untuk mencoba kopi dari tanah Sumatera. Maka aku langsung percaya dan mengiyakan saran itu.
Kopi Batak diseduh dengan metode V60 dengan drip dari HARIO bahannaya sendiri dari porselin. Entah kenapa pada waktu itu sang peracik menyerahkan alat-alatnya langsung didepanku dan menyuruh untuk menyeduh sendiri. Setelah ditimbang beberapa gram, kopi Batak langsung digiling di grinder, filter pun dikeluarkan dan ia menyuruh untuk membasahi kertas lebih dulu. Aku mulai meneteskan satu persatu tetesan air ke kopi. ada metode perhitungan gram untuk menjadi ml metode V60 mengharuskan meneteskan air dari tengah agar bisa menyebar semuanya kepinggir. Setiap tetesan membuat lingkaran pada perputaran air ditengah. Tetesan terus berlanjut sampai akhirnya ada di angka 1700 gram.
Timbangan ketika itu menunjukan angka 1740g itu artinya kopi siap untuk diminum. Gelas pun pada waktu itu diputar lebih dulu untuk membuat ekstrasi lebih maksimal. Aku mempersilahkan kepada Abang untuk menyesap kopi lebih dulu, komentarnya pada waktu itu bodynya kuat dan ada rasa manis di akhir. kini giliranku untuk menyesap kopi Batak. Aku pun merasakan hal yang sama, kopi tanah Sumatera dengan karakter body yang kuat, kopi buatan sendiri memang leabih enak.
Tidak beberapa abang menawarkan untuk dibuatkan kopi yang manis masih dengan metode V60, kopi yang ditawarkan waktu itu adalah Linggasari, Linggasari ini ada di daerah Purwakarta. Kini giliranku untuk melihat seperti apa metode menyeduh V60 yang baik. Tidak terasa proses telah selesai, kopi linggasari yang konon katanya manis itu mulai disesap komentarnya waktu itu bodynya mulus dan rasanya manis. Aku juga segera ingin merasaknnya. Aroma yang ditawarkan dari kopi linggasari ini memang kuat aroma gula merahnya, bodnya halus dan rasanya manis.
Kalau bicara soal alat-alat memang di kopi florist ini tidak main-main termasuk juga air untuk menyeduh kopinya. Semuanya memang berkualitas dan satu hal yang menarik untuk membuat espresso menggunakan NOMAD mesin yang dibuat di Swedia. Cara kerjanya juga unik cukup menekan ke kiri dan ke kanan seperti layaknya sebuah ayunan, aku mengdapat kesempatan juga menyeruput espresso dari kopi medan yang rasanya awalnya asin kemudian terasa pahit yang kuat diakhirnya.
Satu yang tidak ketinggalan, aku ditawari untuk mencoba kopi robusta disini yang dari segi aromanyn seperti kopi arabica. Saat sore mulai berakhir dan berganti malam, satu persatu pengunjung lain mulai berdatangan. Ada informasi akhir April ini ada kompetisi Aero Press, kalau ingin membeli biji kopi yang sudah diroasting bisa langsung datang kesini ada banyak pilihan mulai dari Dewi Ningrum sampai Dewi Kandita.
Kalau ingin ngopi serius datanglah ke kopi Florist dan mulailah bertanya-tanya banyak hal tentang kopi karena para peraciknya tidak segan untuk berbagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
