Kamis, 19 Juli 2018

Jalan Menuju Batu Nisan

Sudah hampir 8 tahun Hani ditinggalkan ayahnya ketika itu masih berstatus sebagai mahasiswa pada masa-masa UTS dan UAS. Hani menyarankan pada Riska untuk segera mengurus surat kematian dengan menfoto kopinya. Surat ini nantinya bisa digunakan untuk mengurus gaji karena ayahnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Surat bisa diserahkan langsung kepada dinas pertamanan dan pemakanan, Disdukcapil, dan Taspen. Padang menjadi tempat peristirahat terakhir ayahnya Hani ini.

Malam hari itu Riska harus segera pulang ke rumah dan bergegas pergi ke rumah sakit. Tidak banyak hal yang ia ceritakan, keesokan harinya di sebuah grup Whatsapp Riska minta doa untuk kesembuhan ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit. Abang menyarankan kepada beberapa teman agar siap siaga kalau pun diperlukan bantukan. Sore menjelang malam kabar duka itu datang, Amanda seolah berat menyampaikan kabar duka itu. Tidak ada yang bisa menahan akan datangnya kematian, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Saya tidak dapat menbayangkan kondisi dirumah sakit setelah kejadian itu terjadi. Seorang ayah meninggalkan anak perempuan yang menjaganya dilain ada beberapa temannya juga turut menemani sebagai bentuk simpati dan dukungan secara batin. Ucapan duka dan doa perlahan datang, teman yang lain juga diminta untuk memandu dirumah sakit dan sebagian langsung begegas ke rumah duka. Di ruangan Elizabet ICU Lantai 3 kamar 3 almarhum ayahnya Riska meninggal.

Rumah duka, rumah yang ditinggali oleh ayah dan ibu Riska letaknya ada di pinggir jalan. Rumahnya masuk menjorok ke dalam, dari luar terlihat beberapa orang yang berdiri. Dari dalam entah apa yang sedang dibicarakan, ada kesedihan di sana. Hal yang harus disegerakan setelah seseorang meninggal adalah memandikannya. DKM punya tugas untuk membantu mengurusi ini semua atau paling tidak RT dan RW setempat. Beberapa peralatan seperti kain kafan, kafas alat pemandian mayit harus siap sedia.

Ada proses lain yang harus ditempuh, tidak hanya memandikan. Tapi, juga mengkafani, menyolatkan dan mencarikan tempat pemakaman untuk almarhum. Saya tidak mendengar langsung obrolan apa yang terjadi, dari yang didengar dari anggi pihak keluarga seperti saling melempar atau mengandalkan. Maka urusan memandikan jenazah sepenuhnya ditangani olah orang jadi Percikan Iman lewat Yayasan Istiqomah. Peran Yayasan utamanya yang bergerak dalam keagamaan akan amat membantu bagi umat yang tidak tahu atau buta tentang sebuah perkara. Baik itu Zakat, Umroh, pembagian harta warisan dan juga tentang mengurusi jenazah.

Saya dan teman-teman yang datang pada waktu itu dimulai dari Akay, Aip, Gista, Ana, Mei, Nisa, Yasna, Upi, dll semuanya belum makan malam. Kita semua datang sebagai bentuk dukungan moril, kita makan malam bersama dengan lahap malam itu ada yang makan nasi goreng dan kwetiaw. Dalam kondisi seperti ini bantuan, dukungan dan doa dari teman teman akan bisa meringankan duka dari keluarga yang ditinggalkan. Semoga, akan banyak kelompok masyarakat yang terbentuk untuk saling mau membantu sesama dengan tulus, untuk semua tidak terjadi dengan sendirinya tanpa dibangun dan ada yang menggerakan.

Kamis, 19 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar