Selasa, 24 Juli 2018

Sistematika

Jangkauan pemikiran saya mungkin belum sampai untuk membaca sistematika korporasi atau pemerintah dalam menjalankan programnya untuk misi tertentu. Yang paling sering terjadi adalh ekpos tiada henti bahkan kadang berlebihan tentang tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Indonesia. Saya pikir menjual angka kemiskinan adalah cara termudah untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari pihak asing. Dengan begitu pinjaman uang untuk membangun negara akan dipermudah. Lalu muncul pertanyaan setelah pinjaman uang itu cair, apakah akan sampai kepada rakyat yang benar benar miskin? Silahkan jawab sendiri.

Dunia semakin canggih, dunia teknologi menjadi penguasa saat ini. Bukti kekuasaannya mudah ditemukan, seseorang yang tidak bisa lepas dari handphonenya. Tidak ketinggalan bermain games tidak mengenal tempat dan waktu. Itulah kebahagiaan baru. Naik mobil yang harganya ratusan juta bisa dilakukan dengan bermodalkan aplikasi saja. Liburan dan travelling sebagai bukti eksistensi, setelah lelah bekerja leha leha ditempat liburan nan indah adalah obat paling ampuh.

Untuk menjawab kegelisahan itu, saya diminta ikut kelas literasi, kelas untuk berdiskusi pembauran berbagai pemikirian yang diadakan di Pasir Jaya sebagai sekretariat baru Komunitas Aleut. Tak ada jam pastinya yang jelas kelas akan dilaksanan pada malam hari, yang datang yang punya waktu luang. Setiap malam Minggu jelas waktu saya teramat luang karena tidak ada wanita yang dikencani apalagi untuk sebuah kencal yang nakal.

Malam itu masih terasa seperti perkumpulan biasa, masing masing mengerjakan pekerjaannya. Ada yang tertawa-tawa, ada yang sudah merencanakan untuk mengejar cinta kala itu. Satu topik hangat yang dibicarakan adalah tentang penghancuran rumah hasil rancangan Ir. Soekarno sangat disayangkan memang sebagai bangunan cagar budaya (BCB)yang dilindungi dalam kategori B dengan mudahnya dihancurkan, bagi pemiliknya rumah yang bentuknya kembar itu tidak punya arti sejarah.

Sejak tahun 1983 ada sekitar 8 rumah hasil rancangan Ir. Soekarno yang dihancurkan. Sukarno memang dikenal sebagai seorang Insiyur yang beberapa hasil karyarnya tersebar di Bandung. Beberapa orang teman kala itu membuat gerakan lewat sosial media tentang penghancuran rumah Bangunan Cagar Budaya ini. Gerakan kecil ini paling tidak bisa membuat masyarakat tahu tentang rumah yang pernah diarsiteki oleh Ir. Soekarno.

Pembahasan tentang topik ini terus berlanjut sampai mengumpulkan beberapa buku tentang karya Soekarno. Kelas Literasi sepertinya akan ditunda atau dipindah ke lain hari. Upaya pembodohan secara sistematis itu belum terbahas dengan tuntas. Malam minggu selalu ada topik diluar kisah percintaan yang layak untuk dibahas, bagi yang belum tidur melanjutkan obrolan di grup Whatsapp.

Obrolan dalam grup Whatsapp saya baca satu persatu pagi harinya. Teman teman yang tergabung dalam grup menceritakan tentang sosok orangtua mereka. Pola didik, kedekatan, pendekatan semua diceritakan dengan jujur. Bagi sebagian ada yang mengalami kekerasan pada waktu kecil, kedekatan tidak hanya melulu melekat pada sosok ibu kadang ayah bisa lebih mengerti tentang cara menghadapi ibu dalam segara kondisi. Jujur saja, setelah membaca semua cerita itu, saya merasa tersentuh juga turut ingin menceritakan sosok bapak dan mamah yang mendidik saya yang belum menikah ini.

Perbedaan cara didik dan pertengkaran kecil sering terjadi. Kedua orang saya terutama mamah adalah orangtua yang paling tidak bisa merelakan anak anaknya jauh darinya. Juga sering kali cerewet atau bawel saya menyebutnya hanya karena hal hal sepele. Saya yang tidak rajin ini sudah jutaan kali dinasehatinya.

Singkatnya dibalik kelebihan dan kekurangan, kedua orangtua saya menyenangkan dan saya menyayangi mereka. Belum banyak yang bisa saya berikan sebagai anak, hanya doa tulus dan ucapan terima kasih banyak.

Sabtu, 21 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar