Kejadian konyol yang saya alami hari ini adalah menyobek
uang kertas, tentu saja itu terjadi tidak sengaja. Tidak main main juga uang
yang disobek nilai mata uangnya cukup besar yaitu seratus ribu. Uang yang telah
sobek itu membuat saya berpikir untuk menempelkannya kembali atau dibelanjakan
sesuatu. Ini ada pengaruhnya dengan nilai tukar tolar yang mencapai Rp 15.000 uang
sobekan seratus ribu saya simpan dulu didalam dompet.
Siang hari di hari Rabu, saya belum menyesap kopi. Saya
sejenak datang ke Pos Kopi yaitu kedai kopi yang lokasinya berada didalam
kantor pos. Konon yang saya lihat dari Instagram ada stok kopi baru yaitu Sunda
Typica. Saat datang untuk ngopi, saya selalu bertanya tentang perihal kopi
baru, ada 4 pcak kopi yaitu puntang, patuha, sunda typical dan yellow cattura.
Untuk yellow cattura ini diperkenalkan pada saat pemerintahan Ahmad Heriawan
Sebagai gubernur Jabar. Semua kopi diambil dari Cimaung, kebanyakan mix
varietas itu bisa mencapai 4 varietas. Lini S, Sigararutang, Ateng, dll.
Metode penyeduhannya biasa dengan filter, V60 alat yang umum
digunakan. Dengan metode menyediuh ala Testu Kasuya rumusnya 4:6 saya mencoba
kopi sunda typicanya. Aroma yang disajikan memang wangi. Di sela sela menyeduh
kopi kemasan yang banyak dipesan diantarnya adalah robusta, tidak jauh dari
kedai ada juga yang mengolah kopi dalam bentuk kemasan jalur distribusinya
lewat GOJEK. Di meja display dijual gula aren yang membuat saya tertarik untuk
mencobanya.
Bagi sebagian orang minum kopi dengan gula merah menambah
nilai tersendiri, karena gula merah bubuk ini diambil dari Baduy. Selesai
ngopi, saya diberikan sampel kopi puntang natural. Kopi ini seperti yang
diceritakan pernah sampai dicupping oleh seorang Q Grader, untuk cupping
diperlukan sampai 50 cup. Ada cupping dan ada juga tasting. Saat sudah
ditemukan note apa saja yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama sebagai
branding dari kopi. Seperti rasa lemon yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama
Puntang Lemonade. Seperti branding kopi yang dibuat oleh Space Roastery,
roaster dari Yogya dengan kopinya “Halu Pink Banana”
Malam harinya, ada technical meeting kecil kecil dalam
rangka acara bagi bagi kopi gratis dalam rangka acara KAI. Tepatnya tanggal
10-11 September 2018. Acara ini memang terbilang mendadap dari 20 peserta yang
ikut 10 orang ditempatkan dalam kereta api dan sisanya membuka stand penjualan
di stasiun. Adapun kopi yang dibagikan gratis totalnya 250 cup kurang lebih 3
kg. Saya berkenalan juga dengan om Budi yaitu salah satu pengolah dari Cikole,
kopi dari Tangkuban Perahu tepatnya. Karena lokasi dekat dengan kawah kadang
ada rasa belerang yang menempel.
Pada saat pembagian, anehnya orang yang mendapat kesempatan
di kereta adalah orang orang yang tidak hadir dilokasi.
5 September 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar