Sabtu, 29 September 2018

Survei dan Kekesalan

Saya sadar betul akan pentingnya survei lapangan dalam sebuah tur atau pemanduan. Servei punya tujuan untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus juga menentukan titik titik penting. Titik penting bisa untuk tempat penceritaan atau membawa perjalanan sehingga peserta dalam kondisi aman. Dengan tanpa Agus siang hari itu, saya berangkat bersama Gista untuk survei.

Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.

Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.

Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.

Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.

Senin, 17 September 2018

Kemuliaan Sejati

Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.

Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.

Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.

Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.

Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.

Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.

Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"

Selamat istirahat kamu

Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung

Kamis, 13 September 2018

Heran

Suatu waktu, saya dibuat heran saat disodori sebuah tawaran untuk menjual kopi. Kopi yang sama sekali belum saya ketahui jenisnya, tugas saya adalah menjualnya. Kopi itu ternyata didapatkan dari Kapal Selam, ada kopi Gayo, Toraja, Bali dan kopi Lembang. Ada tujuan untuk mengajak berbisnis kopi. Dalam menjual kopi, saya punya pertimbangan tidak bisa disodori begitu saja. Bahkan seolah ada paksaan juga didalamnya. Perlu ada obrolan kecil untuk merumuskan konsep juga mengenal kopi yang kita jual.

Saya sedang dalam langkah membangun usaha yang baik dengan omset juga sistem yang harus diterapkan. Jika sebatas usaha biasanya maka hasilnya akan biasa juga. Saya mulai punya rekanan usaha yang paling tidak mengerti apa yanga ada dibalik pikiran saya ini, dia juga cenderung tenang tidak ada paksaan. Langkah lain yang mulai saya coba juga adalah fokus membuat produk entah itu biji kopi atau kopi dalam kemasan.

Lepas dari kopi juga usaha lain yang ingin dijalani, sebenarnya masih ada keinginan dalam hati untuk melanjutkan kembali proses berkarya. Proses kreatif entah itu melakukan proses peliputan, menjadi kontributor atau menulis cerpen dengan cerita yang memikat. Saya sadar betul jika proses kreatif contohnya membaca terus ditinggalkan apalagi tidak diniatkan maka yang ada semua tidak akan pernah terlaksana berakhir pada rencana. Sementara perubahan demi perubahan terus terjadi.

Setelah semua obrolan saat Kamisan selesai, saya melanjutkan kembali membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, saya tidak ingin terus berdiam di bab awal, Bandung tempo dulu punya cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri bab per babnya dari yang saya baca seperti telaga Bandung, alun alun yang telah berubah fungsi, pembangunan kota yang harus mempertimbangkan alam, kuliner khas di Bandung dan masih banyak lagi. Point penting yang saya ambil dari pembacaan hari ini, penulisan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya menggunakan kata kata yang sederhana. Tentu saja dalam penulisan karya Ilmiah populer tentunya harus menggunakan kata kata yang dijumplalitkan.

Generasi muda juga tentunya harus memperhatikan pertimbangan kotanya. Sejarah masa dulu jadi pembelajaran untuk kedepannya.

13 Septmber 2018

Rabu, 05 September 2018

Ngopi Bareng KAI 2

Kejadian konyol yang saya alami hari ini adalah menyobek uang kertas, tentu saja itu terjadi tidak sengaja. Tidak main main juga uang yang disobek nilai mata uangnya cukup besar yaitu seratus ribu. Uang yang telah sobek itu membuat saya berpikir untuk menempelkannya kembali atau dibelanjakan sesuatu. Ini ada pengaruhnya dengan nilai tukar tolar yang mencapai Rp 15.000 uang sobekan seratus ribu saya simpan dulu didalam dompet.

Siang hari di hari Rabu, saya belum menyesap kopi. Saya sejenak datang ke Pos Kopi yaitu kedai kopi yang lokasinya berada didalam kantor pos. Konon yang saya lihat dari Instagram ada stok kopi baru yaitu Sunda Typica. Saat datang untuk ngopi, saya selalu bertanya tentang perihal kopi baru, ada 4 pcak kopi yaitu puntang, patuha, sunda typical dan yellow cattura. Untuk yellow cattura ini diperkenalkan pada saat pemerintahan Ahmad Heriawan Sebagai gubernur Jabar. Semua kopi diambil dari Cimaung, kebanyakan mix varietas itu bisa mencapai 4 varietas. Lini S, Sigararutang, Ateng, dll.
 
Metode penyeduhannya biasa dengan filter, V60 alat yang umum digunakan. Dengan metode menyediuh ala Testu Kasuya rumusnya 4:6 saya mencoba kopi sunda typicanya. Aroma yang disajikan memang wangi. Di sela sela menyeduh kopi kemasan yang banyak dipesan diantarnya adalah robusta, tidak jauh dari kedai ada juga yang mengolah kopi dalam bentuk kemasan jalur distribusinya lewat GOJEK. Di meja display dijual gula aren yang membuat saya tertarik untuk mencobanya.

Bagi sebagian orang minum kopi dengan gula merah menambah nilai tersendiri, karena gula merah bubuk ini diambil dari Baduy. Selesai ngopi, saya diberikan sampel kopi puntang natural. Kopi ini seperti yang diceritakan pernah sampai dicupping oleh seorang Q Grader, untuk cupping diperlukan sampai 50 cup. Ada cupping dan ada juga tasting. Saat sudah ditemukan note apa saja yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama sebagai branding dari kopi. Seperti rasa lemon yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama Puntang Lemonade. Seperti branding kopi yang dibuat oleh Space Roastery, roaster dari Yogya dengan kopinya “Halu Pink Banana”

Malam harinya, ada technical meeting kecil kecil dalam rangka acara bagi bagi kopi gratis dalam rangka acara KAI. Tepatnya tanggal 10-11 September 2018. Acara ini memang terbilang mendadap dari 20 peserta yang ikut 10 orang ditempatkan dalam kereta api dan sisanya membuka stand penjualan di stasiun. Adapun kopi yang dibagikan gratis totalnya 250 cup kurang lebih 3 kg. Saya berkenalan juga dengan om Budi yaitu salah satu pengolah dari Cikole, kopi dari Tangkuban Perahu tepatnya. Karena lokasi dekat dengan kawah kadang ada rasa belerang yang menempel.

Pada saat pembagian, anehnya orang yang mendapat kesempatan di kereta adalah orang orang yang tidak hadir dilokasi.


5 September 2018