Senin, 17 September 2018

Kemuliaan Sejati

Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.

Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.

Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.

Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.

Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.

Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.

Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"

Selamat istirahat kamu

Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar