Dibalik jurnal harian yang sifatnya personal, terkadang timbul keinginan untuk menulis sesuatu yang terkait dengan isu yang terjadi sekarang ini. Saya menyerap sajian berita dengan berbagai cara, membaca, menguping sampai dengan menonton televisi. Politik dalam negeri sudah terlalu sering disiarkan dengan kepentingan yang berbeda beda rasanya ingin muntah. Masalah terbaru atau sebutlah fenomena yang paling mengganggu pikiran adalah pemberitaan tentang orang gila yang membantai ulama terjadi di Cicalengka, daerah yang dekat dengan Rancaekek daerah yang juga belum tergambar di pikiran saya. Seorang ulama di ponpes Al Hidayah KH. Hilmi dibantai oleh seorang lelaki bernama Asep di masjid seusai salat subuh.
Dalam pikiran saya tentu timbul pertanyaan siapa dalam dibaling itu semua. Fenomena seperti itu bukan dari segi pelaku saja yang harus ditelusuri ini terkait dengan aktor intelektual yang ada didibelakangnya.
Menceritakan latarbelakang dari seorang Asep mengalami siklus yang sama seperti lain punya keluarga dan pernah menikah, diusia 27 tahun kesehatan jiwanya terganggu kemudian menjalani pengobatan berjalan sampai pernah beberapa minggu di rumah sakit jiwa Saparua, Lembang. Asep tinggal
Acara AIMAN yang ditayangkan oleh KOMPAS TV sedikit membantu saya dalam menguasai alur kasus yang terjadi. Sang pembawa acara datang langsung ke tempat kejadian perkara dan bertanya pada kiai Dkudung yang merupakan adik kandung dari kiai Hilmi, cerita yang dikeluarkan terasa mengalir tidak ada unsur dibuat buat.
Kepolisian turut ikut bicara dalam kasus ini, cara kominikasi yang disampaikan menggunakan kerangka yang mencari aman. Kasus teror pada ulama terjadi di Jawa Barat totalnya ada 15 dari total yang ada, hanya 2 yang benar-benar terjadi yaitu di Cicalengka dan di Cigondewah yang menyerah ulama persis pak prawoto.
Akar masalah seperti ini sebelumnya pernah terjadi, ada yang menyangkut pautkan dengan kasus PKI yang bangkit lagi. Ada yang mengaiktkan dengan tahun politik yang semakin memanas dan mungkin saja kejadian semcam ini dibaut untuk membuat ketakutan para waerga sehingga peran dari seorang pelindung kepolisian menjadi penting.
Masyarkat yang kontra akan PKI akan mendukung sepenuhnn ya isu yang dibangun berkaitan dengan bangkitnya kembali partai komunis Indonesia. Teror awal yang konon dilukan juga didaerah lain pada awalnya dimulai dengan membuat coretan di dinding. Daerah daerah lain juga kena imbasnya sepeti Jakarta, Depok dan Jawa Tengah.
Kiai Hasim yang masih mengalami trauma semoga bisa cepat semmbuh. Teror-teror semcam ini dan isu jangan janganlah dijadikan senjata untucerik jualan suara di pilkada nanti,
Selasa, 27 Februari 2018
Kamis, 08 Februari 2018
Secangkir Long Black di Kamar Tujuh Koffie
"Cilamaya disebalah mana pak?"
"Dari sini puter balik kebawah, Cilamaya jalannya nggak panjang dibelakang gedung sate"
Saya lalu mulai menikmati sepiring baso tahu hokkie untuk mengurangi lapar sore itu. Saat itu disebalah saya duduk seorang bapak yang umurnya cukup tua, saya mengomentari tentang gedung sate yang ukurannya cukup besar. Sebelumnya pada pedagang bebas berjualan didalam, bapak penjualnya ikut bercerita pada saat mengirmkan pesanan baso tahu para pegawai gedung sate, dia dibuat bingung untuk mengelilingi gedungnya. Dibuat diputar putar, menuruni tangga demi tangga yang lokasinya masih jauh. Masa pemerintahan Walikota Aa Tarmana dan Dada Rosada pernah dialaminya. Begitu juga walikota Ateng Wahyudi,
Dari obrolan walikota berlanjut ke obrolan presiden, bapak ini pernah merasakan hidup dimasa pemerintahan Soeharto yang tumbang menurutnya tahun 1997. Pada masa pak Harto orang orang yang sedikit saja menentang pemerintah akan bilang banyak mahasiswa ITB yang hilang. Ia berpikiran pola pemerintahan untuk mengilangkan seseorang itu dengan iming iming akan diberi pekerjaan, saat ia dibawa kesuatu tempat langsung menembaknya ditempat. Musisi sepeti Iwan Fals saja sempat dipenjara beberapa kali begitu juga Rhoma Irama, karena lagu Oemar Bakri dan Bento iwan Fals ditahan Rhoma Irama karena lagu yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Setiap pemerintahan dalam sudut pandang masyarakat biasa punya kekejaman masing-masing. Pada era SBY konon terjadi kriminalisasi KPK, pada masa Jokowi kasus penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga diusut tuntas. Pelaku sekaligus aktor intelektualnya belum terungkap. Waktu Pilkada juga Pilpleres menjadi waktu yang rawan mengingat belum ada saingan berat bagi seorang Jokowi selain dari Prabowo. Mengulang masa lalu, saya kira Prabowo seharusny jadi presiden Indonesia karena ada kecurangan maka Jokowilah yang terpilih. Dengar dari cerita Megawatilah yang berperan untuk itu semua, daerah Papua yang pro prabowo hasil TPS dibuat kelaut oleh orang suruhannya. Daerah Madura yang semuanya mendukung ketua Gerinda itu hasil perhitangan suaranya hilang.
Lewat penjual baso tahu tadi membuat orbolan baru yang cukup sekian lama tidak terjalanin. Mengawali pertanyaan kecil tentu menjadi efektif. Saya melanjutkan ke Cilamaya tepatnya Kamar Tujuh Koffie dengan niatan menyelesaikan tulisan. Lokasi kedainya ada di area hotel bumi asil dengan bangunan lama yang masih asri dan dipertahankan. Saya memilih tempat duduk diluat yang masih kosong lalu memesan secangkir kopi long black didalam. Kedai itu lebih menyerupai coffee shop didalamnya tidak banyak tempat duduk memang sengaja dibuat seperti bar. Saya menunggau secangkir long black diantarkan sambil mulai membuka laptop untuk mencari cari informasi tentnag beasiswa LPDB.
Tidak lama berselang datanglah Ghera, ketika itu belum ada kursi yang kosong. Saya ikut mencarikan tempat duduk, dia memesan kopi aja saya tergantung dari selera barista yang membuat kopinya. Dia baru pulang dari survei, datangnya tidak sendirian bersama sama dengan teman-temannya ada Ricky, kemudian seorang pria yang anggota aleut juga pada era Atria. bersama pacarany juga yang berhijab. Didepannya ada Ricky Arnold yang pernah bekerja di Provoke. Wajah saya sendiri sebenarnya tidak asing lagi karena katanya pernah ditemuai saat meliput bersama disebuah acara.
Pekerjaan Ghera memag dibilang cukup banyak, saya diminta untuk menuliskan tentang topik destitnasi. Semua berkaitan dengan wisatawan. Obrolan juga seidkit menyinggung tentang media hari ini.
Topik obrolan seru adalah tentnag keyakinan, ada yang dalam otaknya sudha tertanam mitoligo kalau orang Cina itu dari RRC dan kristen maka pergaulan semacam ini bagi beberapa orang amat dihindari. Lalu ulasan tentang banyak orang berhijrah dengan landasan utamanya tentnag kematian kalau dari segi perempuannya sendiri karena persoalan jatuh cinta lalu berhijrah. Semua itu berlanjut pada permasalah bagaimana seseorang bisa menikah dengan seseorang yang tidka dikenalanya dengan baik.
Dampak dari itu kadang sulit bagi yang menikah menemukan kekeurangan dari pasangnya. Disela sela obrolan "Perempuan itu harus rela dimadu dan lelaki diracun" seketika saja syaa tertawa. Ada yang menganggap kenapa tidak dikomunikasikan saja segala kekurangan pasangan agar mudah dimengerti nantinya. Tentu saja utnuk dirananh rumah tangga hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk ukurna Psikolog saja bisa cerangan apalagi bagi orang bisa. Tidak pernah ada cinta yang jalinannya manis tuan dan nona.
Datanglah seorang perempuan yang mengeluhkan kondisi rumahnya yang berisik akan sura sound dari trans tv. Kasus tentang pembunuhan seorang guru juga sempat dibahas. bahkan sadisnya sampai ada permainan untuk menghantam guru.
"Dari sini puter balik kebawah, Cilamaya jalannya nggak panjang dibelakang gedung sate"
Saya lalu mulai menikmati sepiring baso tahu hokkie untuk mengurangi lapar sore itu. Saat itu disebalah saya duduk seorang bapak yang umurnya cukup tua, saya mengomentari tentang gedung sate yang ukurannya cukup besar. Sebelumnya pada pedagang bebas berjualan didalam, bapak penjualnya ikut bercerita pada saat mengirmkan pesanan baso tahu para pegawai gedung sate, dia dibuat bingung untuk mengelilingi gedungnya. Dibuat diputar putar, menuruni tangga demi tangga yang lokasinya masih jauh. Masa pemerintahan Walikota Aa Tarmana dan Dada Rosada pernah dialaminya. Begitu juga walikota Ateng Wahyudi,
Dari obrolan walikota berlanjut ke obrolan presiden, bapak ini pernah merasakan hidup dimasa pemerintahan Soeharto yang tumbang menurutnya tahun 1997. Pada masa pak Harto orang orang yang sedikit saja menentang pemerintah akan bilang banyak mahasiswa ITB yang hilang. Ia berpikiran pola pemerintahan untuk mengilangkan seseorang itu dengan iming iming akan diberi pekerjaan, saat ia dibawa kesuatu tempat langsung menembaknya ditempat. Musisi sepeti Iwan Fals saja sempat dipenjara beberapa kali begitu juga Rhoma Irama, karena lagu Oemar Bakri dan Bento iwan Fals ditahan Rhoma Irama karena lagu yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Setiap pemerintahan dalam sudut pandang masyarakat biasa punya kekejaman masing-masing. Pada era SBY konon terjadi kriminalisasi KPK, pada masa Jokowi kasus penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga diusut tuntas. Pelaku sekaligus aktor intelektualnya belum terungkap. Waktu Pilkada juga Pilpleres menjadi waktu yang rawan mengingat belum ada saingan berat bagi seorang Jokowi selain dari Prabowo. Mengulang masa lalu, saya kira Prabowo seharusny jadi presiden Indonesia karena ada kecurangan maka Jokowilah yang terpilih. Dengar dari cerita Megawatilah yang berperan untuk itu semua, daerah Papua yang pro prabowo hasil TPS dibuat kelaut oleh orang suruhannya. Daerah Madura yang semuanya mendukung ketua Gerinda itu hasil perhitangan suaranya hilang.
Lewat penjual baso tahu tadi membuat orbolan baru yang cukup sekian lama tidak terjalanin. Mengawali pertanyaan kecil tentu menjadi efektif. Saya melanjutkan ke Cilamaya tepatnya Kamar Tujuh Koffie dengan niatan menyelesaikan tulisan. Lokasi kedainya ada di area hotel bumi asil dengan bangunan lama yang masih asri dan dipertahankan. Saya memilih tempat duduk diluat yang masih kosong lalu memesan secangkir kopi long black didalam. Kedai itu lebih menyerupai coffee shop didalamnya tidak banyak tempat duduk memang sengaja dibuat seperti bar. Saya menunggau secangkir long black diantarkan sambil mulai membuka laptop untuk mencari cari informasi tentnag beasiswa LPDB.
Tidak lama berselang datanglah Ghera, ketika itu belum ada kursi yang kosong. Saya ikut mencarikan tempat duduk, dia memesan kopi aja saya tergantung dari selera barista yang membuat kopinya. Dia baru pulang dari survei, datangnya tidak sendirian bersama sama dengan teman-temannya ada Ricky, kemudian seorang pria yang anggota aleut juga pada era Atria. bersama pacarany juga yang berhijab. Didepannya ada Ricky Arnold yang pernah bekerja di Provoke. Wajah saya sendiri sebenarnya tidak asing lagi karena katanya pernah ditemuai saat meliput bersama disebuah acara.
Pekerjaan Ghera memag dibilang cukup banyak, saya diminta untuk menuliskan tentang topik destitnasi. Semua berkaitan dengan wisatawan. Obrolan juga seidkit menyinggung tentang media hari ini.
Topik obrolan seru adalah tentnag keyakinan, ada yang dalam otaknya sudha tertanam mitoligo kalau orang Cina itu dari RRC dan kristen maka pergaulan semacam ini bagi beberapa orang amat dihindari. Lalu ulasan tentang banyak orang berhijrah dengan landasan utamanya tentnag kematian kalau dari segi perempuannya sendiri karena persoalan jatuh cinta lalu berhijrah. Semua itu berlanjut pada permasalah bagaimana seseorang bisa menikah dengan seseorang yang tidka dikenalanya dengan baik.
Dampak dari itu kadang sulit bagi yang menikah menemukan kekeurangan dari pasangnya. Disela sela obrolan "Perempuan itu harus rela dimadu dan lelaki diracun" seketika saja syaa tertawa. Ada yang menganggap kenapa tidak dikomunikasikan saja segala kekurangan pasangan agar mudah dimengerti nantinya. Tentu saja utnuk dirananh rumah tangga hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk ukurna Psikolog saja bisa cerangan apalagi bagi orang bisa. Tidak pernah ada cinta yang jalinannya manis tuan dan nona.
Datanglah seorang perempuan yang mengeluhkan kondisi rumahnya yang berisik akan sura sound dari trans tv. Kasus tentang pembunuhan seorang guru juga sempat dibahas. bahkan sadisnya sampai ada permainan untuk menghantam guru.
Kamis, 30 November 2017
Postingan Iseng di Akhir Bulan November 2017
Hal tidak terduga di bulan November ini, saya terdaftar sebagai peserta dalam kompetisi tahunan Manual Brew Community. Sejak dibuka pendaftarannya kuota peserta hanya untuk 96 orang saja. Semua kuota terisi hanya dalam waktu 15 menit saja. Metode yang akan saya gunakan nanti adalah aero press seiring waktu aero press kemudian diganti dengan menggunakan V60, beberapa roastery baru mulai saya coba hasil biji kopinya.
Saat mengunjungi salah satu kedai di daerah Dago, seorang roaster bilang perlu dibedakan antara seduhan untuk jualan dan seduhan untuk kompetisi. Dalam kompetisi nanti bukan hanya hasil seduhan yang perlu dipersiapkan tapi juga, kelengkapan lainnya karena kalau itu tidak diperhatikan akan mengurangi penilaiannya juri.
Mudah mudahan saat kompetisi nanti saya bisa menghasilkan seduhan terbaik dan hasilnya juga baik. Itu saja.
Kamis, 30 November 2017
Saat mengunjungi salah satu kedai di daerah Dago, seorang roaster bilang perlu dibedakan antara seduhan untuk jualan dan seduhan untuk kompetisi. Dalam kompetisi nanti bukan hanya hasil seduhan yang perlu dipersiapkan tapi juga, kelengkapan lainnya karena kalau itu tidak diperhatikan akan mengurangi penilaiannya juri.
Mudah mudahan saat kompetisi nanti saya bisa menghasilkan seduhan terbaik dan hasilnya juga baik. Itu saja.
Kamis, 30 November 2017
Rabu, 01 November 2017
Resensi Film Posesif (2017)
Di ruang lingkup pergaulan sineas indie nama Edwin sering dikaitkan dengan film besutannya "Babi Buta Ingin Terbang" yang berhasil menembus festival film internasional di luar negeri. Nama Edwin sebagai sutradara kembali muncul dalam film "Posesif" tak ingin melewatkan kesempatan ini, saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Sebelum diputar serentak di bioskop, Palarifilms sebagai rumah produksi pernah memutarkan filmnya pertama kalinya di Kineruku pada saat malam Minggu. Edwin dikenal sebagai sutradara fiilm arthouse, arthouse film adalah film yang dibuat secara mandiri tanpa kepentingan komersil. Jaringan distribusinya terbilang terbatas dilingkup komunitas saja. Bagi saya posesif ini adalah film komersil yang digarap pertama kalinya oleh Edwin.
Film ini dibuka dengan sebuah adegan lompat indah dengan soundtrack dari musisi indie yang masih asing. Menceritakan tentang kisah percintaan remaja diperankah oleh Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken) tidak seperti film remaja kebanyakan. Film ini malah menyajikan kisah percintaan remaja yang manis diawal namun beracun diakhir. Putri Mario yang berperan sebagai Lala sebelumnya saya kenal pernah membintangi webseries Axe edisi Keenan Pearce, dia juga salah seorang pendatang baru di dunia film.
Sejak Lala dan Yudhis dihukum oleh guru olahraga di jam istirahat awal ikatan mereka sudah terasa. Yudhis yang menurut Lala cukup nekat langsung diajak untuk jalan ke tempat tempat baru. Mereka berdua datang ke sebuah galeri yang lokasi settingnya diambil di Bandung, di tempat itu Lala bercerita kalau dia dan sekaluarga disebut sebagai keluarga penguin. Ditempat itu juga Yudhis mencari satu kesamaan dengan Lala maka ditemukanlah Paus mereka berdua sepakat menggambar Penguin dan Paus di tangannya masing-masing.
Lala yang sehari harinya sibuk dengan latihan dari pagi membuat Yudhis seolah tidak diperhatikan keinginannnya. Setiap emosi baik itu ikatan keluarga yang kuat antara Lala dan Ayahnya atau hubungan mereka yang tidak biasa membuat saya menikmati setiap adegan yang ditawarkan.
Awal Yudhis membuat masalah pada saat Sheila salah satu saingan Lala disenter matanya saat latihan. Yudhis sempat didatangi oleh ayahnya Lala lalu terjadi perdebatan antara mereka. Saat itu juga Lala memutuskan keluar dari tim dan pergi bersama pacarnya. Emosi dalam film semakin terasa saat Lala dipaksa Yudhis untuk kuliah di Bandung, Lala yang sudah lama hidup dengan ayahnya tidak bisa menerima tawaran Yudhis.
Latarbelakang Yudhis menjadi Posesif tentu dipengaruhi oleh ibunya. Ibu Yudhis yang diperankan oleh Cut Mini dikenal sebagai seorang yang ringan tangan. Adegan paling mengerikan di film ini Yudhis dipukuli oleh ibunya saat bilang nama papanya. Gerak tubuh dari Cut Mini menunjukan kalau dia tipikal seorang ibu yang ringan tangan.
Setiap adegan dalam film Posesif memberi emosi tersendiri, soundtrack lagu yang dipilihnya terbilang pas seperti lagu hits Dipha Barus feat Kalula "No One Can't Stop Us" muncul saat adegan Lala dan Yudis berenang berdua. Belum lagi ditambah soundtrack dari musisi indie lainnya seperti Banda Neira dan lagu "Dan" dari Sheila On 7.
Gina C Noer sebagai penulis skenario mampu membuat percakapan yang mewakili dunia remaja. Teknik senimatografinya juga dibuat berwarna dan punya nilai seni. Secara keseluruhan film Posesif ini menewarkan cerita cinta yang tidak melulu manis namun sebuah hubungan juga bisa berakhir dengan tragis. Sempat dibuat poster meme juga dari film ini dengan modelnya presiden Soekarno dan Soeharto tulisannya "Soekarno presiden pertama Indonesia" "Soeharto Ingin Selamanya". Tamatlah sudah resensi film ini.
Kamis, 31 Agustus 2017
Catatan dari Ngaji Jurnalisme Investigasi
Jurnalisme investigasi dan indeepth adalah dua hal yang berbeda. Investigasi tujuannya adslah mrngungkap dan in deepth menceritakan. Proses awal prnggalian ide berawal dari i mind mapping
Selasa, 01 Agustus 2017
Ramalan Marshall McLuhan Lebih Bisa Dipercaya Daripada Ramalan Cinta
Sekali dalam hidup kamu pasti pernah mempercayai sebuah ramalan. Paling mudahnya sih ramalan cuaca agar rencana ketemuan sama gebetan bisa berjalan lancar. Ada kalanya kekonyolan lain berlanjut dengan membeli sebuah majalah remaja dengan tujuan membaca ramalan zodiaknya saja, saat ada yang sesuai dengan si dia maka hati akan berbunga-bunga sekali pun itu bunga bangkai. Generasi Millennials kita harus waspada saat mendengar kata ramalan karena saat hati sedang baper bapernya maka yang terdengar menjadi lamaran wkwkwkw.
Di negeri kita ini dibalik sebuah ramalan ada kepentingan politis. Ramalan dari politisi misalnya tujuannya apalagi selain untuk mendapatkan kursi dan proyek-proyek keduniawian. Padahal penjual kursi begitu banyaknya mau kursi dari plastik sampai kursi dari bahan empuk. Kalau ramalan dari seorang teman tidak akan jauh dari perkara hati, kadang banyak yang percaya sekali pun hasilnya sering mengada-ngada.
Generasi millennial kita harus belajar meramalkan sesuatu yang revolusioner, belajarlah dari seorang filsuf asal Kanada Marshall McLuhan hasil dari ramalahnnya telah terbukti hari ini. Jarak yang tadinya begitu jauh dari satu negara ke negara lain kini terasa begitu dekat. Yang dia ramalkan adalah kedatangan internet jauh sebelum internet sendiri ditemukan.
Ramalan ini juga datang dengan sebuah ancaman, bukan sebuah ancaman bom bunuh seperti yang sering dilakukan oleh para penyebar teror. Ancaman yang lebih serius tentang kehancuran lain yang akan terjadi setelah lahirnya penemuan ini. Internet konon akan menghilangkan hal-hal yang bersifat fisik yang sudah dirasakan adalah matinya sebagian industri media cetak. Baik di dalam dan luar negeri, semua pemberitaan media cetak banyak yang beralih ke dunia online.
Istirahatnya sebagian media cetak membuat profesi loper koran sulit ditemukan. Baik yang menjajakan langsung ditempat atau yang berkeliling. Membaca koran bukan lagi sesuatu yang seksi, koran harian dibaca mingguan saat akhir pekan saja. Majalah turut merasakan kehancuran dari ramalan ini berhenti menerbitkan edisi cetak sudah jadi jalan yang harus ditempuh. Majalah HAI di tahun ini memutuskan berhenti dari edisi cetak lalu mengalihkan kontennya ke online.
Perputaran berita di media online yang begitu cepat berganti turut melahirkan mahluk-mahluk baru didunia pergunjingan atau istilah kerennya para pembully. Kehidupan artis yang tidak sempurna seolah-olah jadi lahan empuk untuk terus menerus diserang tanpa ampun. Di dunia sosial media mereka adalah yang maha benar, ikut bicara di isu apa saja sudah jadi sebuah kewajiban. Sosmed terutama Instagram telah mengajarkan tentang pencitraan hidup yang sempurna dan kajian estetika tingkat tinggi.
Di satu sisi masyarakat kita telah banyak diuntungkan dengan adanya internet, presiden saja bisa membahagiakan rakyatnya dengan membuat video blog tentang kehidupan pribadinya dan keluarga. Sosialita jadi-jadian bisa meraup banyak untuk dari bisnis jasa titip dari merek-merek fesyen kekinian. Lalu bagaimana dengan nasib kamu?
Masih terjebak nogtalgia? Masih mencari yang sempurna? Belum sembuh dari penyakit patah hati yang menahun? Jadi korban ditikung teman sendiri berkali-kali? Sabarlah kawan hidup memang berat dijalani sendiri. Jadi penyair saja agar hidup lebih puitis paling tidak orang yang kamu sukai bisa dihadiahi puisi. Perempuan hari ini mana ada yang suka puisi? Rasanya masih ada dan jadi barang langka dipasaran. Pernahkah kamu percaya akan ramalan cinta dari seorang teman?
Ramalan teman tentang cinta ini akan lebih seringnya cocok-cocokan. Tingkat subjektifitas lebih tinggi dari objektivitas. Saat ada teman dekat yang baru jadian dengan kecengan kita maka sudah jelas kamu sendiri yang akan meramalkan tentang hubungan mereka yang tidak akan berlangsung lama. Alhasil malah sebalilknya hubungan mereka bisa panjang sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak. Jadi, masih mau percaya dengan ramalan cinta? Lebih baik buat ramalan yang lebih revolusioner seperti halnya suhu Marshall McLuhan.
Di negeri kita ini dibalik sebuah ramalan ada kepentingan politis. Ramalan dari politisi misalnya tujuannya apalagi selain untuk mendapatkan kursi dan proyek-proyek keduniawian. Padahal penjual kursi begitu banyaknya mau kursi dari plastik sampai kursi dari bahan empuk. Kalau ramalan dari seorang teman tidak akan jauh dari perkara hati, kadang banyak yang percaya sekali pun hasilnya sering mengada-ngada.
Generasi millennial kita harus belajar meramalkan sesuatu yang revolusioner, belajarlah dari seorang filsuf asal Kanada Marshall McLuhan hasil dari ramalahnnya telah terbukti hari ini. Jarak yang tadinya begitu jauh dari satu negara ke negara lain kini terasa begitu dekat. Yang dia ramalkan adalah kedatangan internet jauh sebelum internet sendiri ditemukan.
Ramalan ini juga datang dengan sebuah ancaman, bukan sebuah ancaman bom bunuh seperti yang sering dilakukan oleh para penyebar teror. Ancaman yang lebih serius tentang kehancuran lain yang akan terjadi setelah lahirnya penemuan ini. Internet konon akan menghilangkan hal-hal yang bersifat fisik yang sudah dirasakan adalah matinya sebagian industri media cetak. Baik di dalam dan luar negeri, semua pemberitaan media cetak banyak yang beralih ke dunia online.
Istirahatnya sebagian media cetak membuat profesi loper koran sulit ditemukan. Baik yang menjajakan langsung ditempat atau yang berkeliling. Membaca koran bukan lagi sesuatu yang seksi, koran harian dibaca mingguan saat akhir pekan saja. Majalah turut merasakan kehancuran dari ramalan ini berhenti menerbitkan edisi cetak sudah jadi jalan yang harus ditempuh. Majalah HAI di tahun ini memutuskan berhenti dari edisi cetak lalu mengalihkan kontennya ke online.
Perputaran berita di media online yang begitu cepat berganti turut melahirkan mahluk-mahluk baru didunia pergunjingan atau istilah kerennya para pembully. Kehidupan artis yang tidak sempurna seolah-olah jadi lahan empuk untuk terus menerus diserang tanpa ampun. Di dunia sosial media mereka adalah yang maha benar, ikut bicara di isu apa saja sudah jadi sebuah kewajiban. Sosmed terutama Instagram telah mengajarkan tentang pencitraan hidup yang sempurna dan kajian estetika tingkat tinggi.
Di satu sisi masyarakat kita telah banyak diuntungkan dengan adanya internet, presiden saja bisa membahagiakan rakyatnya dengan membuat video blog tentang kehidupan pribadinya dan keluarga. Sosialita jadi-jadian bisa meraup banyak untuk dari bisnis jasa titip dari merek-merek fesyen kekinian. Lalu bagaimana dengan nasib kamu?
Masih terjebak nogtalgia? Masih mencari yang sempurna? Belum sembuh dari penyakit patah hati yang menahun? Jadi korban ditikung teman sendiri berkali-kali? Sabarlah kawan hidup memang berat dijalani sendiri. Jadi penyair saja agar hidup lebih puitis paling tidak orang yang kamu sukai bisa dihadiahi puisi. Perempuan hari ini mana ada yang suka puisi? Rasanya masih ada dan jadi barang langka dipasaran. Pernahkah kamu percaya akan ramalan cinta dari seorang teman?
Ramalan teman tentang cinta ini akan lebih seringnya cocok-cocokan. Tingkat subjektifitas lebih tinggi dari objektivitas. Saat ada teman dekat yang baru jadian dengan kecengan kita maka sudah jelas kamu sendiri yang akan meramalkan tentang hubungan mereka yang tidak akan berlangsung lama. Alhasil malah sebalilknya hubungan mereka bisa panjang sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak. Jadi, masih mau percaya dengan ramalan cinta? Lebih baik buat ramalan yang lebih revolusioner seperti halnya suhu Marshall McLuhan.
Senin, 08 Mei 2017
Selamat Pensiun Bapak
Bapak bekerja menjadi tulang punggung keluarga selama 32 tahun, hari ini 28 April 2017 masa tugasnya berakhir. Bapak resmi pensiun dari Pegawai Negeri Sipil sebagai Kepala Bidang di Dinas Sosial. Dinas sosial menjadi pelabuhan terakhir, setelah dipindah pindahkan tugas mulai dari Disnaker, BKD, Dinas Catatan Sipil sampai terakhir di Dinas Sosial. Di hari perpisahannya semua pegawai turut bersedih itulah yang diceritakan sebelum tidur. Siang hari saat pulang ke rumah mobil dinas Suzuki Avanza sudah tidak terlihat lagi di tempat parkir biasa. Masa pensiun ini harus siap dihadapi oleh bapak dari hari ke hari.
Bekerja menjadi seorang PNS bukanlah hal yang mudah. Sejak awal-awal bekerja profesi ini tidak menjamin karena gajinya yang terbilang sedikit. Oemar Bakti lagu yang dinyanyikan Iwan Fals mewakili kondisi sebenarnya bagaimana seorang guru PNS harus bergelut dengan kehidupannya. Bagi saya bapak adalah seorang pekerja keras, mau belajar sesuatu yang baru dan seorang yang menganyomi kepada bawahannya. Momentum pensiun yang seharusnya dirayakan hanya angan-angan belaka, punya atasan yang pelit minta ampun imbasnya adalah setiap pegawai yang pensium dibiarkan pergi begitu saja. Dari yang sejak awal di Dinas Sosial tidak ada perayaannya sama sekali.
Hal yang terlihat dari pensiunnya bapak adalah beberapa barang miliknya yang dikemasi dari kantor dipindahkan ke rumah. Mulai dari tas, foto-foto, arsip sampai barang lainnya. Fasilitas kantor kini tidak bisa dinikmatinya lagi, menjelang pensiun bapak sering bercerita kalau kondisi ruangnnya sudah nyaman dilengkapi dengan TV dan cukup luas. Pada saat menjalani kunjungan kerja, bapak sering kali membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga, saudara dan teman-teman yang ada dirumah. Dia tidak pernah lupa membagikan oleh-oleh. Saya tak kuasa untuk menahan kesedihan ini. Semangat dan kerja keras bapak perlu dicontoh.
Di dinas sosial tugas bapak adalah menghadapi orang-orang yang bermasalah mulai dari orang gila, anak jalanan sampai tunawisma. Tidak jarang pernah suatu malam bapak datang ke porles karena mendengar kabar penjualan manusia. Selain itu para penyandang cacat turut menjadi bagian dari tugasnya. Bapak mungkin akan rindu makan siang di kantin langgananannya, menu favoritnya adalah pepes iklan. Setiap kali berkunjung ke kantor, saya tidak lupa diajak makan siang di kantin. Mungkin pemilik kantin juga akan merasa kehilangan, kalau seandainya tahu bapak kini sudah pensiun dan bapak jelas tidak memberitahukan hal ini. Saya menulis catatan ini sambil berkaca-kaca turut merasakan kesedihan yang bapak rasakan.
Mobil dinas digunakan terakhir kali saat makan malam bersama di Pick Me pada hari Kamis, di malam itu yang jadi bahan obrolan tidak lepas dari soal pensiun diselingi dengan obrolan untuk mengisi kegiatan yang kosong. Bagi seorang pegawai masa pensiun mungkin tidak pernah diinginkan namun semua itu tentu akan tetap datang. Pesan yang masih diingat dari bapak adalah, setelah masa pensiun saat mengadakan pesta pernikahan belum tentu semua yang diundang akan datang karena di waktu itu mungkin pikiran orang sudah berubah, tidak ada lagi jurang pemisan juga ikatan antara atasan dan bawahan itu juga yang membuat orang-orang akan cuek. Dalam hati, saya berharap hal itu jangan sampai terjadi. Selamat menikmati masa-masa pensiun bapak, semoga menjadi manusia yang selalu bahagia dan bersyukur sampai nanti ajal menjemput. Perjalanan hidup masih panjang, karena masa pensiun bukan berarti akhir dari segalanya. Yang utama adalah keluarga kita.
Bekerja menjadi seorang PNS bukanlah hal yang mudah. Sejak awal-awal bekerja profesi ini tidak menjamin karena gajinya yang terbilang sedikit. Oemar Bakti lagu yang dinyanyikan Iwan Fals mewakili kondisi sebenarnya bagaimana seorang guru PNS harus bergelut dengan kehidupannya. Bagi saya bapak adalah seorang pekerja keras, mau belajar sesuatu yang baru dan seorang yang menganyomi kepada bawahannya. Momentum pensiun yang seharusnya dirayakan hanya angan-angan belaka, punya atasan yang pelit minta ampun imbasnya adalah setiap pegawai yang pensium dibiarkan pergi begitu saja. Dari yang sejak awal di Dinas Sosial tidak ada perayaannya sama sekali.
Hal yang terlihat dari pensiunnya bapak adalah beberapa barang miliknya yang dikemasi dari kantor dipindahkan ke rumah. Mulai dari tas, foto-foto, arsip sampai barang lainnya. Fasilitas kantor kini tidak bisa dinikmatinya lagi, menjelang pensiun bapak sering bercerita kalau kondisi ruangnnya sudah nyaman dilengkapi dengan TV dan cukup luas. Pada saat menjalani kunjungan kerja, bapak sering kali membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga, saudara dan teman-teman yang ada dirumah. Dia tidak pernah lupa membagikan oleh-oleh. Saya tak kuasa untuk menahan kesedihan ini. Semangat dan kerja keras bapak perlu dicontoh.
Di dinas sosial tugas bapak adalah menghadapi orang-orang yang bermasalah mulai dari orang gila, anak jalanan sampai tunawisma. Tidak jarang pernah suatu malam bapak datang ke porles karena mendengar kabar penjualan manusia. Selain itu para penyandang cacat turut menjadi bagian dari tugasnya. Bapak mungkin akan rindu makan siang di kantin langgananannya, menu favoritnya adalah pepes iklan. Setiap kali berkunjung ke kantor, saya tidak lupa diajak makan siang di kantin. Mungkin pemilik kantin juga akan merasa kehilangan, kalau seandainya tahu bapak kini sudah pensiun dan bapak jelas tidak memberitahukan hal ini. Saya menulis catatan ini sambil berkaca-kaca turut merasakan kesedihan yang bapak rasakan.
Mobil dinas digunakan terakhir kali saat makan malam bersama di Pick Me pada hari Kamis, di malam itu yang jadi bahan obrolan tidak lepas dari soal pensiun diselingi dengan obrolan untuk mengisi kegiatan yang kosong. Bagi seorang pegawai masa pensiun mungkin tidak pernah diinginkan namun semua itu tentu akan tetap datang. Pesan yang masih diingat dari bapak adalah, setelah masa pensiun saat mengadakan pesta pernikahan belum tentu semua yang diundang akan datang karena di waktu itu mungkin pikiran orang sudah berubah, tidak ada lagi jurang pemisan juga ikatan antara atasan dan bawahan itu juga yang membuat orang-orang akan cuek. Dalam hati, saya berharap hal itu jangan sampai terjadi. Selamat menikmati masa-masa pensiun bapak, semoga menjadi manusia yang selalu bahagia dan bersyukur sampai nanti ajal menjemput. Perjalanan hidup masih panjang, karena masa pensiun bukan berarti akhir dari segalanya. Yang utama adalah keluarga kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
