Hal paling menyenangkan saat waktu luang adalah menenggelamkan diri dalam kesenangan duniawi. Seperti pergi jalan-jalan atau menikmati secangkir kopi. Kalau ditambah dengan membaca artikel yang baik bisa menyejukan pikiran. Pernah tumbuh keinginan dalam diri ini menjadi pekerja akhir pekan. Anggaplah ini sebagai pengganti hari biasa yang jarang sekali padat. Untuk menulis satu catatan saja sulitnya minta ampun banyak godaan juga faktor malas yang lebih dominan.
Salah satu bacaan favorit saya adalah opini dari A.S. Laksana yang pernah diterbitkan oleh Jawa Pos dalam rubrik bernama "Ruang Putih" kecakapannya dalam merangkai cerita tidak diragukan lagi. Saya membaca tulisannya di situs Beritagar.com judulnya Pendidikan Bermutu Untuk Cebong dan Kampret yang isinya tentang pendidikan bagi anak Indonesia, nilai nilai apa saja yang harus diajarkan, soal Vanessa Angel, sampai sindiran yang dibalut komedi.
Selama bertahun-tahun sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menghasilkan manusia yang bernilai. Belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun tidak juga membuat murid-murid lancar berbahasa inggris. Banyak sekali sekolah swasta dengan konsep ramah lingkungan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya saja, untuk anak miskin jangankan sekolah di sana. Makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.
Selesai membaca, saya membuat beberapa Cuitan isinya tentang pengalaman seseorang melamar kerja sampai 750 kali sampai akhirnya diterima kerja. Itu seperti peristiwa ajaib yang benar benar terjadi. Cuitan selanjutnya hanya keisengan mengungkapkan diri sebagai follower baru dari Nurhadi Aldo salah seorang caleg yang ramai dibicarakan. Saya sering mendengar namanya, tapi tidak tahu apa aja kontroversinya. Menurut saya, beberapa isi cuitannya tidak biasa dan jenaka. Memang tidak mudah untuk menjadi caleg yang lucu kebanyakannya hanya pencitraan semata.
Dua cuitan iseng saya ini direspon oleh akun twitter @irfantp seorang teman yang berkerja di Jakarta, tapi selalu betah di Bandung. Kebiasaannya menulis satu paragraf dilanjut dengan tidur begitu terus sampai tulisannya selesai. Rahasia menulisnya adalah tidur. Cuitan saya dibalas dengan kritikan dan sinisme. Kritik soal penggunaan kalimat yang tidak efekif. Sinisme karena telah terbawa oleh tren pemberitaan Nurhadi Aldo. Komentar itu membuka celah untuk sedikit membahasnya.
Kalimat yang efektif digunakan semata mata untuk mengurangi kalimat yang tidak efektif. Sebutlah itu pemborosan kata. Seorang yang menulis untuk tujuan tertentu, misalnya artikel, berita, tulisan akademik, dll memang perlu memperhatikan hal ini. Sedangkan untuk sosial media yang sifatnya pribadi perlukah memperhatikan hal itu? Saya rasa tidak perlu juga, karena bahasa itu mencerminkan diri kita. Seorang akademisi jelas berbeda dengan komedian untuk menunjukan siapa dirinya di sosial media. Lupakan aturan dan tetek bengek bahasa yang memberatkan. Membuat bahasa bergerak sebebas bebasnya terasa lebih menyenangkan.
Ketika bicara soal tren, ada baiknya bercermin pada Tirto.id tempat bekerja teman saya ini. Diawal-awal menulis, Irfan dibebaskan untuk menulis apa saja berdasarkan data dan buku yang ia baca. Semua sifatnya tidak harus kebaruan. Waktu berputar, umur bertambah kerja media perlu menyeimbangkan dengan perkembangan tren. Pola kerja dari pemberitaan harus dirubah oleh pihak redaksi, semua ulasan yang sifatnya lama harus bisa relevan dengan isu yang terjadi saat ini. Menulis tentang teh tidak bisa dari sisi sejarahnya saja harus ada relevansi dengan isu terkini bangkrutnya perusahaan teh sariwangi. Menolak atau keluar dari kubangan tren bagi pekerja industri media nasional adalah omong kosong. Belum lagi pola pergaulan yang menggiring pada tren konsumtif, membeli brand tertentu atau pergi menghabiskan waktu di cafe yang sedang tren.
Tidak ada tulisan lanjutan yang akan membawa pada kesimpulan. Anggap saja tulisan ini sebagai tarikan nafas sebelum menulis beberapa resensi film dan cerita menohok lainnya. Terakhir, ada pesan dari Nurhadi Aldo "Salam cinta untuk sang pemilik cinta, salam rindu untuk sang baginda, salam sayang untuk kamu yang tersayang."
Minggu, 20 Januari 2019
Senin, 21 Januari 2019
Senin, 31 Desember 2018
Desember di Daily Routine
Saya tidak pernah beberapa kali memaksakan diri untuk datang ke sebuah coffee shop atau katakanlah kedai kecuali untuk hal hal tertentu. Baik itu kopi atau cerita yang ditularkan oleh orang-orang. Bagi yang tidak mengenal Daily Routine hanyalah sebuah tempat biasa saja, sama seperti tempat ngopi kebanyakan. Saya pernah juga melewati daerah Kanayakan yang juga menjadi tempat dari Daily Routine ini.
Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.
AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.
Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.
Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.
Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.
Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.
Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.
Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.
AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.
Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.
Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.
Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.
Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.
Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.
Kamis, 27 Desember 2018
Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)
Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.
Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.
Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.
Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.
Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.
Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.
Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.
Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.
![]() |
| Senyumannya mirip Raisa |
Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.
Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.
Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.
Selasa, 23 Oktober 2018
Trikuto
Di Cihapit semua serba ada, saya kira dari awalnya pasar yang sebatas nama tanpa bayangan apa-apa. Sampai ke pasar yang saya perhatikan detail setiap lokasinya. Cihapit punya kue balok dan surabinya, juga yang paling detail terpampang retail ayam goreng dengan berbagai macam pilihan sambal. Kalau datang di pagi hari, saya biasa membeli kue balok dilanjutkan membeli bahan-bahan untuk keperluan kedai seperti sirup, thai tea, susu, dll.
Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.
Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.
Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.
Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.
Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.
Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.
Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.
Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.
Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.
Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.
Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.
Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.
Senin, 22 Oktober 2018
Rumah Kedua Bukan Istri Kedua
Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.
Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.
Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.
Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.
Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha
Minggu, 21 Oktober 2018
Sabtu, 29 September 2018
Survei dan Kekesalan
Saya sadar betul akan pentingnya survei lapangan dalam sebuah tur atau pemanduan. Servei punya tujuan untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus juga menentukan titik titik penting. Titik penting bisa untuk tempat penceritaan atau membawa perjalanan sehingga peserta dalam kondisi aman. Dengan tanpa Agus siang hari itu, saya berangkat bersama Gista untuk survei.
Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.
Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.
Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.
Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.
Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.
Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.
Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.
Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.
Senin, 17 September 2018
Kemuliaan Sejati
Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.
Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.
Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.
Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.
Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.
Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.
Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"
Selamat istirahat kamu
Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung
Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.
Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.
Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.
Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.
Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.
Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"
Selamat istirahat kamu
Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung
Langganan:
Postingan (Atom)


