Film Filosofi Kopi yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko telah membawa pengaruh positif dalam melahirkan ide-ide baru dan proyek yang diberkelanjutan. Salah satu contohnya adalah kedai Filosofi Kopi yang berlokasi di bilangan Mentawai, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu dengan membawa bendera Viva Barista, Rio Dewanto pemilik kedai Filosofi Kopi dan Muhammad Aga yang berprofesi sebagai Barista di Coffeesmith, Jakarta melakukan penjelajahan untuk menemukan kopi Indonesia. Pada awal-awal foto hasil penjelajahan mereka berdua di posting lewat sebuah akun Instagram @vivabarista.
Tidak lama setelah itu, Viva Barista menjelma menjadi sebuah acara TV yang ditayangkan oleh Metro TV, acara ini dibawakan oleh Rio Dewanto, Muhammad Aga dan Robi Navicula yang berprofesi sebagai musisi, petani kopi dan aktivis lingkungan. Viva Barista tayang dengan durasi yang singkat 30 menit yang dibagi menjadi tiga segmen.
Pada hari Sabtu sore, saya berkesempatan untuk menonton Viva Barista edisi "Kopi Lokal Berjaya di Pasar Global" acara ini rupanya sudah mendapatkan sponsor yaitu sebuah produk pencuci wajah pria yang sedang mengampanyekan tagline "Lelaki Masa Kini" Bandung menjadi tempat penjelajahan mereka bertiga untuk edisi kali ini. Diawali dengan mengunjungi perkebunan kopi di Malabar. Dari apa yang disampaikan oleh pak Aleh selaku petani kopi, kopi Malabar itu sudah ada dari jaman Belanda lalu sempat surut karena wabah kerak daun lalu kembali ramai saat tahun 2000. Ada perkataaan dari pak Aleh yang menarik yaitu "Kopi itu bukan jual beli putus tapi jual beli hati," katanya.
Kemudian cerita berlanjut dari pak Wildan seorang pengusaha kopi yang sudah mengekspor kopi Malabar ke luar negeri seperti Australia dan Jepang. Katanya, kopi Jawa Barat itu dimininati diluar negeri. Bahkan "Java" dari dulu sampai sekarang jadi kata slang. Adanya nama java script juga itu karena penemunya adalah seorang penyuka kopi java.
Pada segmen kedua penonton dibawa untuk mengunjungi kopi Aroma yang khas dari Bandung. Saat ini kopi aroma dikelola oleh generasi kedua, mesin roasting kopinya ada sejak tahun 1930 dan masih digunakan sampai sekarang. Menariknya juga pembakarannya saja menggunakan kayu karet. Kopi aroma adalah kopi yang didiamkan selama 8 tahun dan untuk menyimpan kopinya harus menggunakan karung goni. Pada saat penyimpanan biji kopi berwarna putih dan setelah 8 tahun berubah menjadi warna kuning. Bagi yang punya penyakit diabetes kopi Robusta disarankan untuk konsumsi selain itu juga bermaanfaat bagi stamina pria.
Sejarah tentang kopi sudah dijelaskan pada segmen pertama dan kedua pada segmen terakhir kurang lengkap rasanya kalau tidak mencicipi kopi hasil racikan barista yang ada di kota Bandung. Dua kedai kopi yang menjadi tujuan Viva Barista edisi minggu ini adalah Dreezel dan Armor kopi. Kedai kopi Dreezel mengedepankan metode manual brewing dalam membuat kopinya. Sedangkan untuk Armor Kopi menawarkan suasana minum kopi di alam bebas. Armor punya sekitar 60 jenis single origin dari seluruh Indonesia, pendirinya sendiri adalah Franz Willy yang bercerita tentang awal pertemuannya dengan kopi Indonesia itu sekitar tahun 2000 di Norwegia. Pada saat di Armor, Aga menunjukan skill meracik kopinya dengan menyajikan kopi yang berkarakter spicy untuk diseruput bersama-sama kala itu.
Sebelum meninggalkan tempat yang sudah dikunjungi, Viva Barista punya sebuah ritual yaitu meninggalkan tanda tangan di Ukulele yang dibawah oleh Robi. Pada akhirnya acara ini membawa semangat demi kopi Indonesia yang lebih baik lagi. Tambahan durasi tayang rasanya perlu mengingat obrolan tentang kopi itu tidak pernah cukup sampai disitu sebelum cerita dan mitos itu benar-benar menjawab rasa ingin tahu.
kopi memang menyimpan banyak cerita, lebih dari sekadar pertemuan...
BalasHapusnice post :)