Minggu, 31 Juli 2022

Dua Cerpen Budi Darma di Buku Kritikus Adinan

Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu itulah judul dari cerpen Budi Darma yang masuk dalam buku kumpulan cerpen Kritikus Adinan bagi saya Budi Darma itu seorang pengarang yang lihai dalam menangkap hal-hal ganjil di dunia. Penggambarannya sungguh detail sehingga membacanya memperluas penceritaan. Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian itu menceritakan tentang seorang wanita dan pria kurus tinggi di sebuah kamar, kamar itu dipenuhi oleh buku-buku dan gelas yang tertata rapih. Di lemari itu digambarkan penuh dengan pakaian dalam lelaki jyang berserakan darah

Diceritakan lelaki itu bernasib malang karena mati mengidap kanker sebenarnya hal itu tidak benar terjadi. Perempuan itu masih menyimpan gelas peninggalannya karena sering digunakan untuk minum kadang ketika rindu gelas itu diciumnya atau kadang dilumat sama seperti saat lelaki kurus itu mencium bibirnya berbicara pada payudaranya juga memuji tubuhnya yang berbeda dengan wanita-wanita lainnya.

Karakter wanita disini punya kebiasaan mencium bagian kakinya. Potret di sini dicertakan tentang anak kecil yang memotret lelaki itu yang ada kaitannya dengan kematiannya. Anak kecil ini mungkin saja ada hubungan darah dengan lelaki kurus itu. Semua ceritanya ini diceritakan pada sosok lelaki misterius.

Budi Darma juga turut menyertakan bahwa kekacauan dunia itu semua karena wanita, wanita tercipta untuk memenuhi hasrat lelaki begitu juga lelaki untuk memenuhi hasrat wanita. Pernah terjadi perang perang di dunia sebabnya karena wanita, kaum nabi luth hancur karena istirnya tidak mengikuti nasehat suaminya.

Hal yang ganjil dalam cerpen ini di rumah tokoh perempuan tidak ada sama sekali air sehingga untuk minum harus menimba dulu dari sumur. Konon lelaki itu dibunuh di sumur. Kurang lebih cerpen ini mengangkat tentang kenang-kenangan tentang suatu barang

Cerpen kedua Budi Darma yang saya baca berjudul Salipan dari judulnya sudah jelas karakter berpusat pada sosok Salipan. Salipan adalah seorang suami yang belum punya anak yang istrinya berselingkuh. Salipan sering pergi ke toko buku langganannya dalam kondisi apa pun. Penjual buku itu sampai sudah tahu kedatangan Salipan di toko. Kedatangannya langsung disodori buku dan majalah yang memuat cover teman sendirinya.

Di majalah itu salipan melihat istrinya dan Tantowi, Tantowi disini punya hubungan dekat dengan istrinya. Saking dekatnya sudah tidak ada batasan lagi perselingkuhan mereka berdua. Entah kenapa Salipan tidak menceraikan istrinya itu.

Salipan pergi dari toko buku menuju di taman, dia bertemu pak tua yang memberinya banyak pertanyaan kenapa sering datang ke taman sendiri bukannya bekerja. Dia tidak menjawab apa-apa hanya pergi meninggalkan pak tua itu. Sepulang dari taman ada pertengkaran batin yang membuatnya harus mengambil tindakan nekat. Di kamarnya sendiri dia memecahkan botol kaca lalu membakar kasur sehingga terjadi kebakaran.

Suara-suara yang terdengar dari kamar mengagetkan Tantowi dan istirnya. Kedudanya sudah tidak peduli lagi pada Salipan yang mati tergeletak di kamar. Malah mereka pergi ke kamar mandi untuk mandi bersama di Jacuzzi berdasarkan kesepakatan keduanya.

Cerpen Salipan mengajarkan tentang perselingkuhan dalam sebuah hubungan muncul dari hal yang terdekat. Dengan tanda-tanda yang ditunjukan dengan saling berpegangan tangan. Sosok Salipan di sini digambarkan sebagai suami yang pasrah akan keadaan serta menerima kenyataan kalau istrinya berselingkuh dengan Tantowi.

Selasa, 16 Maret 2021

Hemat Itu Mudah

Rasanya tips menulis cerpen, puisi dan novel dibaca berkali kali dari sumber yang berbeda tidak akan berguna tanpa terus praktek dan mencoba. Bahkan sekarang ini sudah makin banyak yang berani membuat pelatihan menulis online dengan bekal pernah menerbitkan buku ditambahan sedikit pengalaman yang bisa meyakinkan. Penerbit besar dan media mapan juga sering mengadakan pelatihan menulis. 

Kalau media seperti KOMPAS mengadakan pelatihan menulis cerpen bersama editor dan cerpenis langsung. Dengan syarat mengirimkan karya terlebih dahulu. Karya yang terpilih akan mendapatkan kesempatan langsung dilatih oleh penulis. Lain halnya dengan tempo Institute membuka kelas menulis cerpen harganya tidak main-main bisa sampai 1 juta lebih dengan materi rincian materi menulis 3 babak, tokoh dan karakter, intro dan deskripsi dalam cerita ditambah dengan tugas yang akan diberikan oleh mentor. 

Beralih ke penulisan konten, penulis konten haruslah mampu membuat konten yang berkualitas bahkan ramah SEO tujuannya agar bisa mendapat peringkat pertama pada mesin pencari Google, ada yang menggunakan cara White Hat dan Black Hat. White Hat membuat konten yang berkualitas dan orisinal dan Black Hat menggunakan segala macam cara yang penting pada saat pencarian ada di peringkat pertama. 

Bicara soal bayaran akan terasa menyakitkan, ada penulis konten yang dihargainya sangat murah untuk jenis konten yang spesifik seperti bidang otomotif, bisnis, kedokteran. Seolah hasil karya tidak diharga dengan seberapa. Tapi, memang di sini yang jadi tantangannya seharusnya penyedia jasa penulis konten bisa lebih menghargai setiap karya tidak semata-mata memberikan pelukan lalu dibayar. 

Usaha Berhemat 

Hemat adalah usaha mengurangi sesuatu dengan tujuan tertentu. Berhemat bisa diterapkan dalam berbagai macam hal seperti berhemat pengeluaran, waktu, dll. Hal mendasar kalau ingin berhemat adalah mengutamakan kebutuhan dan mengurangi keinginan. 

Saya punya banyak keinginan seperti membeli parfum, jaket, bahkan jam tangan dengan desain yang simpel. Ada orang yang semangat dan bekerja kerasa agar bisa memenuhi keinginan itu. Bahkan rela menabung berbulan-bulan bahkan tahunan agar bisa mencapai keinginan itu. 

Pandemi yang masih berlangsung membuat beberapa orang kehilangan pekerjaannya. Jadi akan sulit menenukan pelajaran pentingnya akan dana darurat. Dana darurta sebaiknya dipisahkan sendiri tanpa bercampur dengan tabungan lain. 

Kalau bisa berhemat kelak saya ada keinginan mendesak bisa dipenuhi dari uang disimpan itu. Katakanlah bisa menabung perhari sudah bisa bermanfaat sekali. Sekarang bukan saatnya membeli sesuatu yang tidak berguna tapi mulailah untuk memanfaatkan apa yang ada. Berhemat itu harus terus dicoba bila kelak gagal yang terpenting prosesnya 

Senin, 31 Agustus 2020

Memahami Dunia dan Isi Pikiran Raymond Carver

Mandi di waktu pagi selain bisa memberi kesegaran juga bisa membuat pikiran jadi fokus. Saya coba terapkan ini agar lebih bersemangat membaca buku di waktu pagi. Saya jadikan target membaca satu jam dalam sehari. Buku yang saya baca kumpulan cerpen dari Raymond Carver "What We Talk About When We Talk About Love" saya baca secara acak melihat dari judul yang membuat penasaran, dua cerpen itu diantaranya "Satu Hal Lagi" dan "Bilang Ke Cewek Cewek Itu Kita Pergi" 

Cerpen pertama menceritakan tentang konflik keluarga L.D seorang ayah yang disuruh pergi oleh Istrinya Maxine. Keduanya punya seorang anak Rae yang usianya masih lima belas tahun. L.D. punya banyak masalah di keluarganya yang disebabknya oleh apa yang ada di pikirannya. Beberapa penyakit yang disebabkan pikiran seperti diabetes, kanker semua itu disebabkan oleh pikiran. 

L.D. menyebut rumah tinggalnya sebagai 'rumah gila' ia terus saja bertengkar dengan istrinya sampai tiba waktu L.D. keluar dari rumah dengan tekat yang bulat. Beberapa barang milknya dikemasi karena dia menyalahkan istrinya Maxine yang telah membuat rumah menjadi gila. Saat semua barang sudah dikemasi L.D. seolah ingin menyampakain pesan tapi ia malah lupa satu hal yang ingin disampaikannya. 

Cerpen kedua yang saja baca ceritanya tentang persahabatan Bill Jamison dan Jerry Robert keduanya sudah lama bersama sama dari sejak SD dilanjut SMP sampai Bill tidak melanjutkan sekolah memilih untuk bekerja di mini market kemudian menikah. Lain ceritanya dengan Jerry yang melanjutkan pendidikan hingga dia bisa bekerja lalu menikah dengan Linda. 

Cerita antara keduanya ini menjadi menarik karena setelah sama sama bekeluarga Bill dan Jerry masih sering berkumpul setiap Sabtu dan Minggu. Anak-anak mereka bermain sedangkah orangtuanya membakar barbque. Saat melihat Jerry sedang murung Bill berniat mengajak pergi keluar untuk sekedar main biliar dan minum wisky. 

Di tempat billiard langganan tidak terlihat ada cewek tentu saja hal itu ditertawakan mereka berdua. Sampai muncul ide dari Bill untuk pergi keluar dan mengejar cewek cewek. Bill dan Jerry pergi naik mobil mengejar cewek yang terlihat dari jauh dengan menggunakan seperda. 

Bahasa yang digunakan di cerpen ini seperti slank jadi saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia bahasanya santai tidak baku karena memang untuk menguatkan tokoh Bill dan Jerry. 

Cewek cewek yang mereka kejar itu pergi menaiki gunung Bill dan Jerry sama sama terus mengejar cewek itu sampai ke atas. Mereka sudah berbagi cewek mana yang akan dikencani lebih dulu. Sampai diatas puncuk gunung Bill tidak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jerry. 

Saya bisa mulai mengerti tokoh, setting dan alur cerita dua cerpen ini setelah membacanya dua kali pelan pelan sambil saya juga mulai berpikir seperti apa akarakter dari Raymond Carver ini. 

Minggu, 30 Agustus 2020

Kuliner Malam di Bandung Selama Masa New Normal

 Di malam Minggu, saya pergi ke Bandung bersama keluarga dengan menggunakan mobil. Sore hari di sepanjang jalan Asia Afrika kembali lagi ramai dengan warga yang keluar untuk hiburan ditambah beberapa cosplay boneka, karakter anime robot sampai dengan cosplay dari dunia lain. Orang bandung sering menyebutnya jurig, jurig jenisnya macem macem tidak hanya pocong, ada juga kuntilanak mereka semua nekat kalau ada mobil yang membuka jendela langsung mendekat. Entah itu membaca jampi jampi atau berkenalan. Kalau beruntung dari tiap mobil bisa mendapatkan uang paling besar ada yang pernah dapat seratus ribu. 

Di jalan Cikapundung timur kuliner di Bandung tidak pernah sepi, dari nasi goreng, sate padang, soto sambil kuliner malam yang berjajar jajar di masa pandemi ada yang masih sadar menggunakan masker ada juga yang acuh tak acuh. Orang orrang sudah bosan diam dirumah ingin perlu keluar rumah bertemu dengan banyak orang. Cemar salah satu warung nasi legendaris terkenal dengan semur jengkolnya terus dipenuhi oleh orang yang makan. 

Akses ke jalan Braga di malam Minggu tidak ditutup, jalan ini spot bagi orang orang yang jatuh cinta untuk jalan berdua menikmati malam. Lampu di jalan Braga terasa gelap seperti kurang perhatian dari pemerintah kota. Satu tempat yang paling ramai sampai terjadi antrian adalah Kedai Jurnal Risa, awalnya dari vlog tentang tempat tempat misteri di Bandung. Dari Youtube kini buka coffeeshop di tengah jalan Braga. 

Gedung gas dirubah menjadi hotel, tadinya disini sering digunakan untuk pameran pameran sekarang berubah jadi hotel dengan nama the Gas Block Braga. Daya tarik Braga tidak pernah mati terus berubah dari satu usaha ke usaha lainnya.Ada yang kuat bertahan ada yang mati ditengah jalan.

Titik terakhir saya di malam Minggu adalah Wedang Ronde Gardu Jati mnjual ronde yang ditambah moci ada yang ukurannya besar dan ada yang kecil dan kembang tahu. Dipinggir pinggir juga banyak penjual lain seperti cakueh, nasi goreng pete, bola umi. Kalau ingin lebih lengkap lagi kuliner malam bisa dicoba dengan datang ke Cibadak atau Sudirman Street 

Jumat, 28 Agustus 2020

Motivasi Berlari 3 Hari Berturut-turut di Lapangan Saparua

 Jumat, 28 Agustus 2020 

Saat lari di sore hari satu kata yang jadi ingatan saya yaitu penghayangan. Saya sampai ke saparua lewat jalan yang berbeda dari biasanya masuk dari taman maluku yang ketika itu masih dipenuhi oleh motor para pegawai daerah sana saya lanjutkan menuju area parkir di saparua. Mathari sore terasa begitu terang mungkin karena pengaruh musim kemarau hingga sore masih ada matahari.

Beberapa pedagang yang biasa berjualan belum membuka lapaknya masih sebatas mendorong gerobak, ada juga yang sudah memasang tenda. Sore hari lapangan saparua selain digunakan untuk jogging track, ada juga yang menggunakannya sebagai tempat nongkrng. Terutama anak muda yang masih berpacaran. Kalau untuk yang lari bisa dibilang semua usia ada, dari anak anak, remaja sama orang dewasa. 

Kegiatan saya lari di lapangan saparua kalau dihitung sudah 3 hari berturut turut. Sore dipilih karena ada keramaian yang membuat semangat untuk berlari ditambah setelah lari banyak yang berjualan dari mulai sate madura, sate kulit, gado gado, dimsum, roti bakar dan gerobak kopi juga ada di saparua. 

Saya punya target olahraga lari selama seminggu berturut turut untuk tempat yang dipilih nanti tidak harus di saparua lebih baik yang lokasinya berdekatan dengan rumah. Di masa pandemi lapangan saparua masih ditutup dan belum diperkenankan untuk digunakan olahraga oleh umum. 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Evaluasi Proses Menulis

Ide untuk menulis konten tersedia dimana mana. Bisa browsing dari internet, menonton film, membaca buku, diskusi atau mengamati kondisi di sekeliling kita. Selama bulan Juli sampai akhir bulan, saya masih sedikit sekali dalam menulis konten. Terlebih saat ini konten digunakan untuk mendapatkan uang, koneksi baru atau hadiah lainnya.

Meskipun begitu saya harus mengavaluasi apa saja kekurangan saat menulis sehingga kurang produktif. Menulis bisa dimulai dengan mengatur jadwal kapan harus menulis. Dengan jadwal yang sudah diatur setidaknya tulisan bisa dihasilkan karena mau tidak mau harus patuh pada jadwal itu. Selain jadwal ada faktor penting seperti durasi untuk menulis paling tidak antara 1 sampai 3 jam untuk menulis.

Agar energi utnuk menulis tidak habis ada baiknya menulis di saat kondisi tubuh sedang baik. Agar bisa menulis dengan terarah dan mengikuti tema. Saya harus menulis sesuai desk atau bidang yang dikuasai. Modalnya dari latarbelakang yang dibentuk seperti pendidikan, sejarah, ekonomi, sastra dan bidang lainnya. Saya pernah membayangkan seorang penulis di media mendapatkan jobs sains dan teknologi tentunya harus paham betul fakta sains apa yang sedang hangat. Istilah sains paling tidak dari hal hal mendasarnya dulu. .

Kalau memang suka tentang geografi maka banyak banyaklah membaca tentang itu. Kalau ekonomi maka lihat kondisi ekonomi yang terjadi sekarang. Untuk benar benar membuat tulisan yang enak dibaca buku adalah modalnya. Tantangan berat saat ini adalah bisa membaca buku rutin satu bulan satu buku. Buku yang membuat kita jatuh cinta akan mudah untuk menamatkannya. Tidak masalah itu dibaca secafa SKS yang penting selesai dan ada sedikit gambaran besar tentang isi bukunya.

Terlalu banyak platform untuk mempublikasikan cukup membuat pusing. Dibalik itu ada saja orang orang yang bisa aktif di platform lain secara konsisten. Blog bukan lagi satu satunya pilihan. Kalau malas sekali lagi saya tidak akan bisa menghasilkan tulisan yang manis.

Terakhir adalah penggunaan bahasa. Kalau utnuk artikel, tips dan trik atau kolom harus menggunakan  kata singkat, pada dan jelas.  Kalau menulis cerita agar bisa mendapatkan detail, tidak membosankan kosakata harus terus ditambah dan dimainin dalam cerita.

Senin, 29 Juni 2020

Resign dari Biro Psikologi

CONTRAST sebuah coffee shop yang berlokasi di jalan Anggrek Bandung punya daya tarik dari segi kopinya yang enak, baristanya yang terlatih dan berpengalaman ditambah tempat yang mendukung suasana. Saya mengajak seorang teman untuk kopi, teman perempuan karena sejak berlakunya New Normal beberapa tempat di Bandung sudah membolehkan untuk dine in.

Teman perempuan ini bekerja di biro psikologi kurang lebih pekerjaan menyiapkan training perusahaan juga menyediakan rekturment SDM berkualitas. Dia sudah cukup lama bekerja di tempatnya sekarang belakangan sehabis pulang kerja selalu menyempatkan untuk olahraga lari. Lari dengan target sekian kilometer dengan bantuan aplikasi. Banyak sekali memang aplikasi untuk membantu mengukur sudah seberapa jauh berlari. Kalau saja kita berpacaran olahraga berdua tentu menjadi kencan yang mengasikan.

Teman saya ini punya waktu untuk ngopi sehabis pulang kerja. Sore menjelang magrib dia keluar dari tempat kerjanya. Sebelumnya ada pesan whatsapp darinya kalau cuaca di tempat kerjanya sudah turun hujan. Saya sudah punya prediksi kalau ngopi di contrast tidak akan jadi. Saya mengerti kondisi pandemi situasinya belum sepenuhnya aman juga Bandung masih sepi.

Pergi ke contrast tidak akan jadi. Saya menawarkan opsi untuk pergi ke kedai kopi yang dekat dengan tempat kerjanya yaitu Marones ada di Padasuka. Karena faktor jarak dan waktu juga tempat yang dipilih untuk ngopi jadilah ke Dewaji Coffee ada di Ujungberung.

Saya sampai ke Dewaji lebih awal, dia masih diangkot. Saya berkeliling sebentar ke lantai 2 untuk melihat situasi yang terjadi. Saya mengirim pesan di WA ada dilantai bawah. Padahal saya belum masuk masih menunggu diluar disebuah dengan cahaya lampu yang sedikit redup. Coffee shop ini bersebelahan dengan sekolah TK jadi di sekitar halamannya ada beberapa permainan ayunan, serodotan, dll.

Saya dan dia memesan kopi, saya pesan long black tapi adanya americano. Akhirnya saya pesan kopi filter saja dengan kopi rekomendasi dari baristanya. Obr. olan awal terasa cair, kita saling bertukar cerita. Sebenarnya dia sudah mengajukan resign dari tempat kerjanya, tapi masuk kembali karena ada project baru. Bisa dibilang alasan berhenti dari tempat kerjanya karena bos seringkali banyak pekerjaan tidak sesuai job desk.

Kalau sudah benar benar resign dia berencana utnuk melamar di giggle box dan bobobox sebagai social media specialist. Selama pandemi aktivitas larinya sempat terhenti, yang saya lihat darinya waktu itu. Dia sudah menjadi sosok perempuan mandiri, menarik dan bisa merawat diri. Dn gulia hampir sudah berhenti minum minuman dengan gula pasir.

Beberapa pegawai lama di biro psikologi sudah satu persatu keluar. Yang bekerja sekarang adalah para pegawai baru yang bisa dibilang gila kerja dan masih belum mengetahui seperti apa sifat asli dari bosnya itu. Efek dari pandemi tentu terasa beberapa pelatihan harus dibatalkan tentu imbasnya pada pegawai markteting yang kewalahan mencari konsumen lagi.

Minggu, 03 November 2019

Obrolan Bersama Konsumen

Saya belakangan harus mempelajari apa yang menjadi topik obrolan bersama konsumen. Menangani bar manual brew bukan sekedar mengerti asal usul kopi, tapi perlu juga mencairkan suasana sambil membiarkan konsumen memilih kopi. Beruntung kalau bisa membuat konsumen meninggalkan kesan akan kopinya, rata ratanya ada yang minum ditempat karena masih lama menunggu keberangkatan kereta dan adalagi yang sengaja membawanya untuk diminum di kereta dimasukan kedalam tumblr yang dibawa.

Bagi mereka bisa minum kopi yang diinginkan memberi kesan yang menyenangkan.
Paling mudah memulai obrolan bersama konsumen dari menanyakan jam keberangkatan dan antara akan pergi kemana nantinya. Jika konsumen pergi ke Jakarta itu tidak jauh untuk bekerja atau mengunjungi keluarga. Kalau hari ini ada dua orang datang pergi ke Malang, pengetahuan tentang malang ini juga penting. Apa saja hal yang khas di kota ini, kalau yang datangnya sekeluarga tidak perlu banyak mengobrol.

Kopi tidak pernah berdiri sendiri, ada waktu di mana makanan lebih dulu ditanyakan didepan kasir. Dari banyaknya rentetan menu, kasir juga belum pandai merekomendasikan makanan apa yang bisa dipesan dengan cepat atau direkomendasikan. Bulan ini juga ada tea bar, bar yang semunya diisi dengan teh spesial (specialty tea) ada teh single origin dan teh blend racikan dari Sila tea yang berlokasi di Bogor. Teh blend ada banyak macamnya seperti Mojang Geulis yang jadi favoritnya Ridwan Kamil, teh hitam yang dipadukan dengan rempah dan teh hijau dicampur bunga jasmine cocok untuk diminum saat santai. Baiknya satu persatu teh itu bisa saya rasakan, takaran untuk menyeduh teh memah tidak banyak perbandingannya 1:100 1gram teh untuk 100ml air.

Dari sekian banyak konsumen yang datang, ada hal yang kadang tidak terduga. Teman yang sempat kita kenal bisa bertemu dalam satu waktu, dia datang dengan pengalaman yang lebih luas seperti pergi keluar negeri untuk melanjutkan studi lalu sekian lama tidak minum kopi Indonesia dengan metode V60.

Minggu, 30 Juni 2019

Private Opening Daily Routine Espresso

Daily Routine espresso sepertinya dibuat untuk espresso dan sajian kopi turunannya seperti Americano, Cappucino, Latte, Afogato, dll. Dengan bantuan mesin otomasis dibuat untuk memisahkan antara metode manual dan menggunakan mesin.

Private opening tidak seperti namanya orang orang yang datang dari temen sendiri yang buka kedai. Saya mencoba Americanonya ruang bar tidak terlalu besar. Tempat duduk hanya dibuat seperti tembok yang belum selesai.

Minggu, 31 Maret 2019

Dalam Sepekan

Ada satu rubrik di media online beritagar.id yang mengulas tentang berita sepekan. Beberapa berita yang dipilih bersadrkan apa yang sedang ramai dibicarakan, sesuatu yang trending diselingi beberapa artikel ringan berupa tips. Dalam kehidupan seseorang, ada juga berita dalam sepekan yang membahas apa saja yang sudah terjadi. Bisa sifatnya yang menggembirakan, konyol atau hasil pengmatan.

Bulan Maret akan berakhir berlanjut ke bulan April. Saya rasanya masih berhadapan dengan hal serius godaan kuat membaca buku yang harus berbenturan dengan menonton drama Korea, Harusnya dalam sebulan ada 2 buku yang selesai dibaca. Saya menjadi penonton tidak setia drama Korea, saya mencoba tidak sebatas menonton. Tapi mengambil sisi baik sebagai cara belajar bahasa Korea, belajar sinematografi juga alur pikiran penulis skenario yang bisa menjadikan tayangan dramanya jadi baik.

Dalam sepekan, Kedai Preanger harus mengejak waktu buka. Meja dan kursi sudah selesai dikerjakan. Meja dan kursi yang selesai dikirim langsung di plitur

Selasa, 19 Maret 2019

Beli Nasi Kapau Dapat es Teh Manis Gratis

Selasa, 19 Maret 2019

Hidup hemat bukan semata mata membantasi sessuatu itu juga bisa diatasi dengan memanfaatkan sesuatu. Dari yang tadinya banyak mengkonsumsi sekarang jadi memproduksi. Saya sedang berusaha membangun kebiasaan atau timeline harian seorang pengusaha dibidang digital.

Siang hari, saya sudah ada niatan untuk memasak makanan. Cah kangkung yang baru dipanen tadi pagi.Kondisi yang terjadi berbbeda, saya malah ditawari makan nasi padang. Nasi padang bumbunya kuat yaitu nasi kapau di jalan Kliningan, bagi saya ada anggapan kalau penjualnya itu sedikit jutek tapi balik lagi itu kembali kepada suasana hati. Harga nasi padangnya terbilang tinggi disini.

Makan nasi padang itu paling tepat diakhiri dengan minum es teh manis. Kalau memesan langsung uangnya tentu tidak cukup, setahu saja minta air teh di nasi padang itu gratis. Saya minta dua plastik teh sebagai minuman. Lokasi nasi padang berdekatan dengan warkop yang menjual es batu. Saya punya pikiran cara kerja memasak mie di sini bisa dibilang unik. memasukan mie kedalam plastik yang dimasukan kedalam panci. Untuk dua gelas es teh manis tidak perlu banyak membeli es batu.

Sesampainya di pasir jaya, es batu saya bawa kedapur kemudian saya pecahkan es batunya agar nantinya muat kedalam gelas. Air teh yang masih terasa hangat, saya tambahi gula segelas es teh manis bisa langsung dinikmati. Rasanya tidak jauh beda jika memesan langsung dariya.  nasi padang. Usaha pertahanan dan penghematan pun berhasil.

Saya akui nasi kapau punya rasa bumbu yang kuat. Warkop Kliningan pernah dikunjungi juga oleh teman saya, melihat langsung proses pembuatan mie rebusnya. Dalam satu panci air untuk merebus mie digunakan juga untuk membuat minuman.

Malam harinya, hujan sudah berhenti udara cukup terasa dingin. Saya mencoba mencari Jalan Tampomas ditengah tengah kegelapan untuk mencari Mr Guans. Nuansa rumah tempo dulu juga tanaman yang luas memberi kesan yang hangat dan sejuk.

Kamis, 28 Februari 2019

Dimensi Febuari

Belum ada satu pun jejak tulisan yang saya tinggalkan di blog ini selama bulan Febuari. Saya menjadi kerap merasa resah ketika dalam beberapa hari tidak ada satu pun alat yang terjual. Saya juga berpikir bagaimana caranya bisa menjalankan usaha lainnya dengan menjual barang lain  yang diambil dari orang lain istilahnya dropship. Saya coba menjadi dropshipper alat alat outdoor, fokusnya ke hammock. Diawal awal hammock single untuk peroranganya dijual dengan banyak pilihan warna.

Pagi hari saya bisa lebih produktif setelah berrcocok tanam dimulai dengan melakukan pembibitan sayuran yang jangka panennya tkerbilang cepat. Ada kangkung, Pakcoy dengan sistem tanam langsung tanpa pot sehingga perkembangan akar bisa lebih besar. Saya melengkapi juga beberapa jenis tanaman yang belum lengkap seperti cingcau, jenis tanaman herbal thyme. Untuk cabe jenis domba sudah memasuki panen yang dalam satu pohonnya banyak buahnya.

Saya mulai membuat rancangan untuk kebun dilantai 2 rumah. Tadinya ingin  ditanami dengan cabai dengan tujuan memperbanyak hasil panen yang bisa dijual. Luas diluar lebih mungkin untuk ditanami Strawbeey masukan dari tetangga strawberry itu tanamannya menggantung kalau buahnya ada ditanah bisa busuk.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman, kalau tahun ini adalah shio babi tanah yang bagus untuk memulai bisnis. Berbagi soal dunia bisnis paling tidak dengan teman yang dikenal akan terus membuka perpektif bahwa tujuan bisnis itu adalah untuk laku. Point penting dari bisnis itu bagaimana kedepannya bisa maju. Membuat catatan keuangan adalah penting.

Ada satu waktu di mana saya merasa kesal dan marah juga cemas pada saat teman mulai. Saya diajak untuk membuka stand di acara kumpul alumni anggota sipil tepatnya di komplek KPAD karena ini acaranya di komplek tentara maka saya disarankan untuk datang tepat waktu. Esok harinya setengah jam sebelum acara dimulai, saya sudah datang ke lokasi.

Saya kira teman juga akan datang selang beberapa menit. Aula untuk kumpul alumni luasnya tidak terlalu besar. Sudah lewat satu jam teman saya tidak datang juga dihari itu dia juga ada acara dokumentasi arisan. Saya terus menunggu hingga satu jam. Pelajaran pentingngan, tidak perlu menunggu untuk menanyakan sesuatu.

Senin, 21 Januari 2019

Nurhadi Aldo

Hal paling menyenangkan saat waktu luang adalah menenggelamkan diri dalam kesenangan duniawi. Seperti pergi jalan-jalan atau menikmati secangkir kopi. Kalau ditambah dengan membaca artikel yang baik bisa menyejukan pikiran. Pernah tumbuh keinginan dalam diri ini menjadi pekerja akhir pekan. Anggaplah ini sebagai pengganti hari biasa yang jarang sekali padat. Untuk menulis satu catatan saja sulitnya minta ampun banyak godaan juga faktor malas yang lebih dominan.

Salah satu bacaan favorit saya adalah opini dari A.S. Laksana yang pernah diterbitkan oleh Jawa Pos dalam rubrik bernama "Ruang Putih" kecakapannya dalam merangkai cerita tidak diragukan lagi. Saya membaca tulisannya di situs Beritagar.com judulnya Pendidikan Bermutu Untuk Cebong dan Kampret yang isinya tentang pendidikan bagi anak Indonesia, nilai nilai apa saja yang harus diajarkan, soal Vanessa Angel, sampai sindiran yang dibalut komedi.

Selama bertahun-tahun sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menghasilkan manusia yang bernilai. Belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun tidak juga membuat murid-murid lancar berbahasa inggris. Banyak sekali sekolah swasta dengan konsep ramah lingkungan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya saja, untuk anak miskin jangankan sekolah di sana. Makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun.

Selesai membaca, saya membuat beberapa Cuitan isinya tentang pengalaman seseorang melamar kerja sampai 750 kali sampai akhirnya diterima kerja. Itu seperti peristiwa ajaib yang benar benar terjadi. Cuitan selanjutnya hanya keisengan mengungkapkan diri sebagai follower baru dari Nurhadi Aldo salah seorang caleg yang ramai dibicarakan. Saya sering mendengar namanya, tapi tidak tahu apa aja kontroversinya. Menurut saya, beberapa isi cuitannya tidak biasa dan jenaka. Memang tidak mudah untuk menjadi caleg yang lucu kebanyakannya hanya pencitraan semata.

Dua cuitan iseng saya ini direspon oleh akun twitter @irfantp seorang teman yang berkerja di Jakarta, tapi selalu betah di Bandung. Kebiasaannya menulis satu paragraf dilanjut dengan tidur begitu terus sampai tulisannya selesai. Rahasia menulisnya adalah tidur. Cuitan saya dibalas dengan kritikan dan sinisme. Kritik soal penggunaan kalimat yang tidak efekif. Sinisme karena telah terbawa oleh tren pemberitaan Nurhadi Aldo. Komentar itu membuka celah untuk sedikit membahasnya.

Kalimat yang efektif digunakan semata mata untuk mengurangi kalimat yang tidak efektif. Sebutlah itu pemborosan kata. Seorang yang menulis untuk tujuan tertentu, misalnya artikel, berita, tulisan akademik, dll memang perlu memperhatikan hal ini. Sedangkan untuk sosial media yang sifatnya pribadi perlukah memperhatikan hal itu? Saya rasa tidak perlu juga, karena bahasa itu mencerminkan diri kita. Seorang akademisi jelas berbeda dengan komedian untuk menunjukan siapa dirinya di sosial media. Lupakan aturan dan tetek bengek bahasa yang memberatkan. Membuat bahasa bergerak sebebas bebasnya terasa lebih menyenangkan.

Ketika bicara soal tren, ada baiknya bercermin pada Tirto.id tempat bekerja teman saya ini. Diawal-awal menulis, Irfan dibebaskan untuk menulis apa saja berdasarkan data dan buku yang ia baca. Semua sifatnya tidak harus kebaruan. Waktu berputar, umur bertambah kerja media perlu menyeimbangkan dengan perkembangan tren. Pola kerja dari pemberitaan harus dirubah oleh pihak redaksi, semua ulasan yang sifatnya lama harus bisa relevan dengan isu yang terjadi saat ini. Menulis tentang teh tidak bisa dari sisi sejarahnya saja harus ada relevansi dengan isu terkini bangkrutnya perusahaan teh sariwangi. Menolak atau keluar dari kubangan tren bagi pekerja industri media nasional adalah omong kosong. Belum lagi pola pergaulan yang menggiring pada tren konsumtif, membeli brand tertentu atau pergi menghabiskan waktu di cafe yang sedang tren.

Tidak ada tulisan lanjutan yang akan membawa pada kesimpulan. Anggap saja tulisan ini sebagai tarikan nafas sebelum menulis beberapa resensi film dan cerita menohok lainnya. Terakhir, ada pesan dari Nurhadi Aldo "Salam cinta untuk sang pemilik cinta, salam rindu untuk sang baginda, salam sayang untuk kamu yang tersayang."

Minggu, 20 Januari 2019

Senin, 31 Desember 2018

Desember di Daily Routine

Saya tidak pernah beberapa kali memaksakan diri untuk datang ke sebuah coffee shop atau katakanlah kedai kecuali untuk hal hal tertentu. Baik itu kopi atau cerita yang ditularkan oleh orang-orang. Bagi yang tidak mengenal Daily Routine hanyalah sebuah tempat biasa saja, sama seperti tempat ngopi kebanyakan. Saya pernah juga melewati daerah Kanayakan yang juga menjadi tempat dari Daily Routine ini.

Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang  kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.

AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.

Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.

Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.

Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.

Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.

Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.

Kamis, 27 Desember 2018

Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)


Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.

Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.

Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.

Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.

Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.

Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.

Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.

Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.

Senyumannya mirip Raisa 

Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.

Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.

Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.

Selasa, 23 Oktober 2018

Trikuto

Di Cihapit semua serba ada, saya kira dari awalnya pasar yang sebatas nama tanpa bayangan apa-apa. Sampai ke pasar yang saya perhatikan detail setiap lokasinya. Cihapit punya kue balok dan surabinya, juga yang paling detail terpampang retail ayam goreng dengan berbagai macam pilihan sambal. Kalau datang di pagi hari, saya biasa membeli kue balok dilanjutkan membeli bahan-bahan untuk keperluan kedai seperti sirup, thai tea, susu, dll.

Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.

Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.

Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.

Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.

Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.

Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.

Senin, 22 Oktober 2018

Rumah Kedua Bukan Istri Kedua


Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.

Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.

Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.

Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.

Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha

Minggu, 21 Oktober 2018

Sabtu, 29 September 2018

Survei dan Kekesalan

Saya sadar betul akan pentingnya survei lapangan dalam sebuah tur atau pemanduan. Servei punya tujuan untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus juga menentukan titik titik penting. Titik penting bisa untuk tempat penceritaan atau membawa perjalanan sehingga peserta dalam kondisi aman. Dengan tanpa Agus siang hari itu, saya berangkat bersama Gista untuk survei.

Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.

Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.

Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.

Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.

Senin, 17 September 2018

Kemuliaan Sejati

Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.

Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.

Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.

Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.

Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.

Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.

Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"

Selamat istirahat kamu

Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung

Kamis, 13 September 2018

Heran

Suatu waktu, saya dibuat heran saat disodori sebuah tawaran untuk menjual kopi. Kopi yang sama sekali belum saya ketahui jenisnya, tugas saya adalah menjualnya. Kopi itu ternyata didapatkan dari Kapal Selam, ada kopi Gayo, Toraja, Bali dan kopi Lembang. Ada tujuan untuk mengajak berbisnis kopi. Dalam menjual kopi, saya punya pertimbangan tidak bisa disodori begitu saja. Bahkan seolah ada paksaan juga didalamnya. Perlu ada obrolan kecil untuk merumuskan konsep juga mengenal kopi yang kita jual.

Saya sedang dalam langkah membangun usaha yang baik dengan omset juga sistem yang harus diterapkan. Jika sebatas usaha biasanya maka hasilnya akan biasa juga. Saya mulai punya rekanan usaha yang paling tidak mengerti apa yanga ada dibalik pikiran saya ini, dia juga cenderung tenang tidak ada paksaan. Langkah lain yang mulai saya coba juga adalah fokus membuat produk entah itu biji kopi atau kopi dalam kemasan.

Lepas dari kopi juga usaha lain yang ingin dijalani, sebenarnya masih ada keinginan dalam hati untuk melanjutkan kembali proses berkarya. Proses kreatif entah itu melakukan proses peliputan, menjadi kontributor atau menulis cerpen dengan cerita yang memikat. Saya sadar betul jika proses kreatif contohnya membaca terus ditinggalkan apalagi tidak diniatkan maka yang ada semua tidak akan pernah terlaksana berakhir pada rencana. Sementara perubahan demi perubahan terus terjadi.

Setelah semua obrolan saat Kamisan selesai, saya melanjutkan kembali membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, saya tidak ingin terus berdiam di bab awal, Bandung tempo dulu punya cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri bab per babnya dari yang saya baca seperti telaga Bandung, alun alun yang telah berubah fungsi, pembangunan kota yang harus mempertimbangkan alam, kuliner khas di Bandung dan masih banyak lagi. Point penting yang saya ambil dari pembacaan hari ini, penulisan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya menggunakan kata kata yang sederhana. Tentu saja dalam penulisan karya Ilmiah populer tentunya harus menggunakan kata kata yang dijumplalitkan.

Generasi muda juga tentunya harus memperhatikan pertimbangan kotanya. Sejarah masa dulu jadi pembelajaran untuk kedepannya.

13 Septmber 2018