Saya tidak pernah beberapa kali memaksakan diri untuk datang ke sebuah coffee shop atau katakanlah kedai kecuali untuk hal hal tertentu. Baik itu kopi atau cerita yang ditularkan oleh orang-orang. Bagi yang tidak mengenal Daily Routine hanyalah sebuah tempat biasa saja, sama seperti tempat ngopi kebanyakan. Saya pernah juga melewati daerah Kanayakan yang juga menjadi tempat dari Daily Routine ini.
Dalam beberapa kesempatan saya mendengar cerita dari orang orang tentang sosok Ucok yang dikenal lihai dari segi menyeduh kopinya. Dalam video instagram, Edi Brokoli bilang kalau hasil seduhannya itu bulat. Bulat di sini bagi saya diartikan ada banyak struktur rasa kopi. Ada juga Ridwan yang berkomentar tentang seduhan Ucok Routine katanya "Pulen" jelas itu tidak merujuk pada seduhan kopi yang gagal. Barangkali.
AKhir Desember, saya sengajakan untuk datang ke Daily dengan mengajak seorang teman yaitu Wahyu, Tadinya akan datang kesana hari Jumat. Jadinya malah hari Sabtu. Sudah mendekati tahun baru daerah Dago dipastikan akan macet juga. Jalan jalan alternatif ditempat agar bisa cepat sampai juga agar tidak pulang terlalu malam.
Saya datang dengan harapan akan ada Ucok di meja bar, atau paling tidak bertemu dengan perempuan yang menyeduh juga di Routine. Pagar berwarna hijau kebiruan setengah terbuka, kesejukan dan suasana hijau sudah bisa dirasakan. Jelas di depan mata bangku bangku itu yang menjadi khasnya, kemudian meja bar yang dibuat seserhana mungkin, warna putih dominan. Harapan ketika itu menjadi nyata.
Ucok sedang menyeduh kopi, wahyu langsung melaju menuju meja bar, bertemu langsung teman yang dikenalnya. Ucok, saya menuju ke bangku kosong yang letaknya berada di depan meja bar. Tidak banyak kopi yang ditawarkan hanya beberapa origin saja, tempat penyimpanan kelernya juga biasa saja diatasnya ada tulisan. SIngle origin yang tersedia ketika itu Ciwidey, Kamojang dan Solok. Wahyu memilih kopi Solok yang diseduh dengan metode Kalita Wave.
Saya bergerak perlahan menuju meja bar lalu memesan kopi Kamojang yang sama sama diseduh dengan Kalita Wave. Semoga saja saat menyesapnya tadi pikiran ini tidak terpengaruh oleh beberapa sugesti dari orang-orang. Kopi Solok wahyu lebih dulu selesai diseduh oleh Ucok lalu diantarkan ke meja kami. Langsung saja kopi itu disesapnya, rasanya tidak jauh katanya.
Dari saat pertama kali duduk, saya sudah melihat seekor kucing hitam putih duduk bersantai. Beberapa tanaman hias di sekitar halaman seperti sengaja dipilih untuk menciptakan kesan santai. Saya perlu menunggu beberapa waktu saat antrian itu selesai, Kalita Wave langsung dibuat oleh Ucok. Saat air mulai dituangkan, Ucok langsung mengaduk atau sering disebut setir dengan alat bantu sendok kayu dengan cepat. Wajahnya tampak serius menatap kopi. Begitu juga dengan barista lainnya.
Ucok mengantarkan langsung hasil seduhannya ke meja saya, pertama kali menyesap saya merasakan hasil seduhan yang kuat. Rasa dan teksturnya tidak main-main. Kopi Kamojang yang rasanya floral dibuat tipis dan rasanya menjadi manis. Saya meminumnya sudah dalam keadaan dingin. Sepanjang di Daily Routine, saya bertukar ceria dengan Wahyu yang belakang saya tahu pernah bersekolah di STM, di tahun ini juga sedang menyelesaikan kurikulum pelajaran Kewirausahan untuk tahun depan.
Senin, 31 Desember 2018
Kamis, 27 Desember 2018
Resensi Film: Love Per Square Foot (2018)
Ini paragraf pertama saya menulis resensi film India yang ditayangkan lewat saluran Netflix sambil ditemani suara manja RAISA yang sudah menjadi istri orang. Memang kisah cinta itu tidak selalu berakhir indah gais.
Yang saya pahami, Netflix ini sebagai media distribusi film-film dunia yang bisa ditonton langsung di chanel mereka dengan cara berlangganan. Karena rasa penasaran akan film action Indonesia, The Night Comes For Us yang tayang di sini, saya mulai mencari tahu tentang Netflix itu. Daya tarik dari film ini salah satunya dari aktor juga sutradaranya. Tapi, untuk bicara soal film action rasanya di lain waktu saja.
Apakah Netflix menayangkan film India? Film berjudul Love Per Square Foot akan menjawab itu semua. Bumbu bumbu dalam film India nyanyian dan tari tariannya masih akan ditemukan di film ini. Pembuatan film digarap secara modern, khas dengan warna warna terang. Adegan awal dibuka oleh sesosok lelaki, berkaos dalam, dibagian belakangnya dilengkapi dengan sayar merah seperti layaknya superman. Atau bisa diartikan juga seorang pahlawan yang tengah berjuang.
Pagi hari, seorang pemuda yang tinggal di rumah sempit dengan kamar mandi kecil tidak berhentinya bertengkar dengan orang tuanya karena berebut kamar mandi. Kemudian adegan berpindah pada seorang perempuan bergaun pengantin lalu ditemani ibunya yang punya kesan religius. Pada saat selesai difoto, tiba tiba saja bagian atas rumah seperti rusak gaun kemudian dipenuhi oleh reruntuhan pasir.
Film yang menggambarkan kondisi sosial India yang hidup di kota di mana tokoh Sanjay (Vicky Kaushal) punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia sampai rela mengajukan kredit apartemen dengan cicilan yang luar biasa besar. Punya cicilan besar di Indonesia mungkin masih bisa tertawa haha hihi.
Di kantornya Sanjay menjalin hubungan diam diam dengan bosnya. Hubungannya hanya sebagai budak seks semata. Bosnya itu adalah Rashi Khurana (Alankrita Sahai) sampai satu waktu di pesta dia bertemu dengan Karina D'Souza (Angira Dhar) yang punya mimpi punya rumah sendiri. Dia juga punya seorang ibu yang dikenal dengan religus.
Love Per Square Foot memang mengangkat isu masalah di India tentang keterbatasan lahan tingga. Juga harga kredit yang memang mahal. Perjuangan Sanjay untuk mengajukan kredit sempat ditolak oleh pihak bank tempat Karina bekerja. Karena tekad kuatnya, Sanjay tidak menyerah Sanjay melihat peluang bisa mengikuti lotre dengans syarat pendaftarannya surat resmi sebagai suami istri.
Momen inilah yang membuat benih cinta Sanjay dan Karina mudah tumbuh. Karina perlahan mulai melupakan kekasihnya saat merasa sudah nyaman bersama Sanjay. Sanjay juga merasakan hal yang sama, sampai datang waktu Karina berani menyatakan cintanya.
![]() |
Senyumannya mirip Raisa |
Hubungan mereka berdua dihadapkan dengan masalah saat Sanjay harus bertemu dengan orangtua Karina yang memeluk agama katolik ditambah orangtua Sanjay beragama Hindu. Ibu Karina biasa makan daging, sedangkan keluarga Sanjay memilih tidak makan daging. Konfilik terasa pelik di waktu yang bersamaan, Rashi mwngaku sedang hamil anak dari Sanjay. Terjadi aksi kejar kejalan yang menjadi bumbu komedi dalam film besutan sutradara Anand Tiwari.
Sanjay yang sudah putus asa, akhirnya merelakan setengah dari apartment miliknya kepada Karina. Di hari pernikahan yang dibuat sederhana, Cinta Sanjay dan Karina dipersatukan setelah pengakuan perasaan Sanjay sebenarnya. Bagi saya, film drama komedi India ini cukup menghibur, adegan tari tarinnya juga tidak dibuat berlebihan. Lagi lagi diakhir film sosok seorang pria bersayar layaknya seperti seorang superman kembali ditambilkan yang berhadapan dengan Sanjay yang membalas dengan senyuman.
Sekian dulu resensinya, sampai ketemu di resensi selanjutnya.
Selasa, 23 Oktober 2018
Trikuto
Di Cihapit semua serba ada, saya kira dari awalnya pasar yang sebatas nama tanpa bayangan apa-apa. Sampai ke pasar yang saya perhatikan detail setiap lokasinya. Cihapit punya kue balok dan surabinya, juga yang paling detail terpampang retail ayam goreng dengan berbagai macam pilihan sambal. Kalau datang di pagi hari, saya biasa membeli kue balok dilanjutkan membeli bahan-bahan untuk keperluan kedai seperti sirup, thai tea, susu, dll.
Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.
Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.
Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.
Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.
Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.
Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.
Di Cihapit memang ada pasar lokasinya di dalam masuk lewat gang kecil. Dari segi penataannya dibilang rapi dibandingkan dengan pasar lainnya, sayur dan buah yang dijualnya juga segar-segar. Di dalam pasar ada tempat makan yang gudegnya begitu menggoda, waktu tepat untuk datang kesini tentu di jam makan siang, obrolan obrolan yang terjadi juga akan menarik untuk disimak atau sekedar dikomentari.
Belum banyak yang tahu, dibalik hiruk pikuk ekonomi yang berputar terselip kedai kopi yang lokasinya menyatu dengan toko kelontong dan jajanan pasar. Nama tokonya Trikuto, mesin kopi berukuran besar menjadi pemandangan yang menggoda, beum lagi ada toples yang berisikan kopi. Seseorang peracik memulai membuat kopi yang sudah dipesan oleh pegawai kepolisian yang kantornya berdekatan.
Saya masuk disapa oleh pegawai perempuan disana, saya ditawari untuk memesan sesuatu. Tentu saja jika seorang wanita menawarkan kopi, belum menjamin akan mengerti jenis kopi apa yang dinginkan pembeli. Dari tiga toples kopi yang tersedia kala itu, java collective, kerinci radjo dan toraja pulu pulu, saya lebih memilih toraja pulu pulu untuk diseduh manual pilihannya hanya ada satu yaitu metode seduhan ala juara Jepang, alat ini hampir mudah ditemukan di setiap kedai kopi, yup benar sekali metodenya V60.
Beberapa jajanan pasar terasa menggoda, meja dan kursi lokasinya ada di belakang, terasa sederhana meja dengan warna kayu asli dan kursi berwarna memberi sedikit ketenangan saat duduk. Dibalik meja bar, hanya ada satu orang yang menyeduh kopi. Terdengar suara kopi yang masuk mesin penggiling kemudian berselang juru seduh sibuk dengan telponnya seperti sedang dikejar oleh sesuatu.
Kehadiran kedai kopi di dalam toko Trikuto sudah saya ketahui lebih awal, karena tempat ini memang dikelola oleh seorang roaster istilah untuk orang yang menyangrai kopi. Saat kopi mulai dinikmati, kedatangan pemiliknya mulai mengagetkan saya. Masih dengan gaya khasnya, jas kulit hitam dan kacamata. Dia langsung minta komentar tentang kopi juga berencana akan merubah metode roastingnya agar nantinya rasa kopi bisa keluar dengan maksimal.
Obrolan saya tidak berlama-lama namun sedikit bertanya tentang apakah di sini menjual juga alat seperti rokpresso, alat itu ternyata hanya sebatas jadi pajangan dan tidak dijual sama sekali juga ada mesin steamer yang akan dijual. Saat segelas kopi toraja pulu pulu habis saya membayarnya dengan harga Rp 20.000 kemudian saya dimintai komentar tentang kopinya itu sendiri. Jajanan pasar belum saya sempat jejali, rata rata yang datang ke sini memang pelanggan setia yang sudah lama datang kesini.
Senin, 22 Oktober 2018
Rumah Kedua Bukan Istri Kedua
Urusan alat kopi terutama untuk keperluan peminum kopi rumahan istilah lainnya home brewer, saya tidak pernah kehabisan stok. Beberapa kenalan kerap membantu dari segi stok barang yang dicari. Beberapa hari kebelakang, ada permintaan penggiling kopi dari beberapa online, saya bisa mendapatkannya lewat seorang teman bernama, Rama seorang pengusaha sekaligus pemilik kedai Rumah Kedua. Kata 'Rumah' yang melekat cukup memberi gambaran akan suasana kedai itu sendiri. Lokasinya berdekatan dengan bandara Husein Sastanegara. Bar dibuat sederhana seperti sebuah kamar yang ditambahi meja bar juga ada meja dan kursi layaknya seperti ruangan keluarga.
Kedatangan saya kesana disuguhi dengan orbolan tentang kopi, menyoal kompetisi belum lama ada Coffee Archipelago di Enhai dan lomba cup taster. Ketika itu, saya mencoba seduhan kopi Sunda Aromanis yang diroasting oleh Dikopian, rumah kedua dimilik oleh omnya yang rumahnya berada dipinggir. Namun sayangnya taman ruang tidak begitu rimbun hanya pepohonan besar saja yang tersisa.
Dalam kompetisi kopi, cup tester memang tidak begitu menarik bahkan cenderung membosankan. Manual brew jauh lebih menarik bagi para peminum kopi di Indonesia. Namun sebenarnya cup tester bisa menjadi ajang untuk mengujuji seberapa besar kejelian seseorang yang sudah punya gelar Q Grader untuk mengecap dan menemukan cup yang berbeda. Yang menjadi faktor penentunya adalah ketepatan, waktu dan keberuntungan.
Rama dan Polo berencana untuk menggelar roadshow Cup Tester's se Jawa Barat dengan mencari sponsor. Beberapa kota sudah dibidik lebih didahulukan yang punya komunitas kopi yang kuat seperti Tasikmalaya, Garut dan Cianjur. Kota melalui tangkal kopi sukses dengan cara besarnya Aerocamp sedangkan di Garut ada basis koperasi kopi Klasik Beans yang terus melakukan gerakan edukasi dan konservasi kopi. Sedangkan Cianjur baru saja menggelar kompetisi manual brew, kabar buruknya sponsor utama memutuskan tidak berpartisipasi di h-3 acara. Acara terus berlangsung dengan dukungan dari keuangan pribadi masing-masing.
Saya mengakhiri kunjungan sesudah magrib, suasana di jalan Jatayu terasa semakin sepi. Sejak tahun 1950 di sini memang sudah menjadi tempat tinggal, pasar Jatayu dikenal dengan barang barang bekasnya. Lidah saya berkesempatan mencicipi menu baru yaitu afogato yang disajikan dengan roti, roti tawarnya buatan sendiri. Tidak hanya kedai, Rama jug apunya usaha penyewaan alat alat outdoor. Saya baru tahu jenis jenis bahan sleeping bag seperti daktor untuk yang paling hangat dari bahan bulu angsa itu tergantung dari suhu alamnya seperti apa biasanya untuk 5 derajat tepatnya dengan bulu angsa. Dengan sedikit bercanda saya katakan saja pada awalnya mengira nama kedainya adalah Istri Kedua bukan Ru tmah Kedua terlihat seperti humor receh bukan? hahaha
Minggu, 21 Oktober 2018
Sabtu, 29 September 2018
Survei dan Kekesalan
Saya sadar betul akan pentingnya survei lapangan dalam sebuah tur atau pemanduan. Servei punya tujuan untuk mengetahui kondisi lapangan sekaligus juga menentukan titik titik penting. Titik penting bisa untuk tempat penceritaan atau membawa perjalanan sehingga peserta dalam kondisi aman. Dengan tanpa Agus siang hari itu, saya berangkat bersama Gista untuk survei.
Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.
Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.
Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.
Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.
Survei dimulai dari Braga pendek di Braga pendek tidak ada penceritaan di daerah ini. Salah satu bangunan yang dilewati juga masuk Cagar Budaya adalah bank BJB juga hotel Sarinah yang baru selesai. Baru beberapa menit berjalan rasanya perut terasa lapar, saya beristirahat tepat di depan roda batagor. Rasa batatogrnya biasa aja ditambah bumbunya sedikit. Batagor kering memang benar benar dibuat kering.
Di kala itu juga di jalan Braga ada yang sedang melaksanakan pra wedding. Baik pasangan pengantin dan dua orang foto grafernya masih sama sama mencari lokasi pemotretaan yang dinginkan.Ujung jalan Braga panjang membawa saya pada titik penceritaan awal, sebelah kanan ada bank Indoneia yang berdiri megah dan di depannya berdiri bank Jabar Syariah. Pada masa dulu itu adalah tempat menjual bahan bahan mentah seperti bahan bahan minyak, minyak kelapa, minyak sawit kemudian kepemilikian berpindah sampai akhirnya bisa menjadi. bank Jabar Syariah seperti sekarnag ini.
Di sebelah Bank BJB Syariah ada gedung Kertamukti kalau pada masanya dulu sebelum gedung ini menjadi dinas Sumber Daya Air dulunya adalah rumah gedung milik Soesman seorang jurgan yang punya banyak kuda bagus. Dari sebuah tulisan ringkas tidak banyak cerita tentang keluarga Soesman ini, Saat sudah sampai di Gedung Indonesia Menggugat dipiggir jalannya sedang ada pembangunan trotoar, Kalau satu grup jumlahnya 20 orang cukup berat juga menggiring orang satu persatu melewati trotoar dan menyebrang.
Tidak lama menulis, tulisan saya sudah terlalu serius tidak ada unsur surealis dan satir. Saya sudahi dulu tulisannya besok itu waktunya Historical Walks, semoga pemanduannya lancar dan ceritanya mengalir.
Senin, 17 September 2018
Kemuliaan Sejati
Hari Senin saya bangun pagi, sekitar jam 6 lebih menurut saya itu masih pagi karena tidak ada aturan waktu yang mengharuskan untuk pergi ke tempat kerja. Kondisi saya memang masih sebagai pengangguran jika ada skoringnya entah apa sudah masuk ke dalam tahap pengangguran sejati atau belum. Setiap hari Senin entah ada pikiran pikiran apa yang menganggu, jelasnya hari ini segala pekerjaan kecil seperti beres beres rumah, mengepel, menyiram, memberi makan ikan dan satkalu hal lagi tugas menggarap kebun belum saya kerjakan. Ada bibit cabai yang masih terbengkalai belum disiapkan media tanamnya sekali pun polybagnya sudah ada beberapa hari yang lalu. Sa memang belum beli tanahnya, baru tersedia sekam dan pupuk kandang.
Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.
Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.
Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.
Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.
Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.
Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"
Selamat istirahat kamu
Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung
Saya bisa saja tidak pergi kemana mana hari ini, tapi ada dorongan lain yang membuat saja pergi. Paling tidak pergi ke kedai kopi mana saja untuk sekedar ngopi sembari mengumpulkan semangat. Paling mudahnya saya pergi mengejar kedai kopi yang buka pagi hari adanya di Pos Kopi, sesuai dengan namanya tempatnya menyatu dengan kantor Pos cabang di daerah Kopi. Pemiliknya masih muda, kopi kopinya kebanyakan diambil dari daerah Cimaung seperti Puntang, Sunda Typica, ada juga Papandayan dan yang terbaru Yellow Cattura.
Di sini saya biasa memesan kopi filter, kopi yang diseduh tanpa ampas. Obrolan yang terjadi masih sebatas tentang kopi, kadang saya juga menanyakan perihal kedai kopi yang dikelolanya ada perubahan dari waktu ke waktu dari yang hanya memiliki alat itu saja kemudian berkembang. Keinginan pemiliknya ingin memiliki ROKPRESSO untuk membuat espresso manual. Di hari ini juga ada kabar kalau tempatnya akan naik, maka diputuskan akan mencari tempat baru.
Kopi Papandayan yang habis saya pesan menandai kegiatan lain harus berlanjut. Niat saya hari Senin ini adalah melanjutkan membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang tebalnya minta ampun, buku itu isinya tentang kota Bandung tempo dulu dibagi dalam beberapa bab. Kekuatan membaca saya memang payah, untuk menyiasatinya harus dengan menyicil beberapa lembar per hari. Membaca buku itu punya tujuan untuk mengenal seperti apa kota Bandung tempo dulu juga sebagai perenungan tentang sebuah kota, apakan yang ditulis didalamanya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal yang yang ingin saya capai adalah menggunakan isi dari buku sebagai bahan pemanduan lebih tepatnya media bercerita dan membuat interpretasi yang menarik jika suatu waktu menjadi pemandu wisata. Karena sering kali ada pesan yang kerap keluar dari siapa saja "Selagi Masih Muda" waktu muda digunakan untuk waktu berjuang atau untuk mengerjar cinta bagi yang berbakat menjadi pejuang cinta.
Dihari yang kerap sepi dari pembeli, saya mulai berpikir untuk menggali cara cara lain. Mungkin dengan bekerja tetap atau mencari peluang lewat menulis. Kalau digeluti dengan serius atau paling tidak terlatih membuat konten setiap hari, peluang peluang itu akan datang dengan sendiri. Beberapa buku baru mulai saya tilik, film yang sekiranya membuka perspektif akan isu isu baru, saya coba masukan dalam daftar. Gaya menulis baru atau menemukan pola menulis harus saya coba juga. Semua jalan bisa berlaku asalkan membawa perubahan yang baik.
Oh iya, di akhir September ini akan ada acara Heritage Walks dalam rangka ulang tahun Bandung ke 208, saya akan belajar menjadi pemandu dengan 20 peserta. Pada saat rapat yang penting saat memandu itu menguasai materi dan suaranya keras. Mungkin mulai besok saya juga akan berlatih teriak mati-matian, semoga tidak sampai habis suaranya. Doaakan saja.
Tulisan ini akan ditutup oleh kutipan dari seorang penulis Amerika Serikat, Ernest Hemingway "Kemuliaan sejati terletak pada kemampuanmu menjadi lebih unggul dari dirimu yang sebelumnya"
Selamat istirahat kamu
Senin, 17 September 2018. Pasir Jaya, Bandung
Kamis, 13 September 2018
Heran
Suatu waktu, saya dibuat heran saat disodori sebuah tawaran untuk menjual kopi. Kopi yang sama sekali belum saya ketahui jenisnya, tugas saya adalah menjualnya. Kopi itu ternyata didapatkan dari Kapal Selam, ada kopi Gayo, Toraja, Bali dan kopi Lembang. Ada tujuan untuk mengajak berbisnis kopi. Dalam menjual kopi, saya punya pertimbangan tidak bisa disodori begitu saja. Bahkan seolah ada paksaan juga didalamnya. Perlu ada obrolan kecil untuk merumuskan konsep juga mengenal kopi yang kita jual.
Saya sedang dalam langkah membangun usaha yang baik dengan omset juga sistem yang harus diterapkan. Jika sebatas usaha biasanya maka hasilnya akan biasa juga. Saya mulai punya rekanan usaha yang paling tidak mengerti apa yanga ada dibalik pikiran saya ini, dia juga cenderung tenang tidak ada paksaan. Langkah lain yang mulai saya coba juga adalah fokus membuat produk entah itu biji kopi atau kopi dalam kemasan.
Lepas dari kopi juga usaha lain yang ingin dijalani, sebenarnya masih ada keinginan dalam hati untuk melanjutkan kembali proses berkarya. Proses kreatif entah itu melakukan proses peliputan, menjadi kontributor atau menulis cerpen dengan cerita yang memikat. Saya sadar betul jika proses kreatif contohnya membaca terus ditinggalkan apalagi tidak diniatkan maka yang ada semua tidak akan pernah terlaksana berakhir pada rencana. Sementara perubahan demi perubahan terus terjadi.
Setelah semua obrolan saat Kamisan selesai, saya melanjutkan kembali membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, saya tidak ingin terus berdiam di bab awal, Bandung tempo dulu punya cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri bab per babnya dari yang saya baca seperti telaga Bandung, alun alun yang telah berubah fungsi, pembangunan kota yang harus mempertimbangkan alam, kuliner khas di Bandung dan masih banyak lagi. Point penting yang saya ambil dari pembacaan hari ini, penulisan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya menggunakan kata kata yang sederhana. Tentu saja dalam penulisan karya Ilmiah populer tentunya harus menggunakan kata kata yang dijumplalitkan.
Generasi muda juga tentunya harus memperhatikan pertimbangan kotanya. Sejarah masa dulu jadi pembelajaran untuk kedepannya.
13 Septmber 2018
Saya sedang dalam langkah membangun usaha yang baik dengan omset juga sistem yang harus diterapkan. Jika sebatas usaha biasanya maka hasilnya akan biasa juga. Saya mulai punya rekanan usaha yang paling tidak mengerti apa yanga ada dibalik pikiran saya ini, dia juga cenderung tenang tidak ada paksaan. Langkah lain yang mulai saya coba juga adalah fokus membuat produk entah itu biji kopi atau kopi dalam kemasan.
Lepas dari kopi juga usaha lain yang ingin dijalani, sebenarnya masih ada keinginan dalam hati untuk melanjutkan kembali proses berkarya. Proses kreatif entah itu melakukan proses peliputan, menjadi kontributor atau menulis cerpen dengan cerita yang memikat. Saya sadar betul jika proses kreatif contohnya membaca terus ditinggalkan apalagi tidak diniatkan maka yang ada semua tidak akan pernah terlaksana berakhir pada rencana. Sementara perubahan demi perubahan terus terjadi.
Setelah semua obrolan saat Kamisan selesai, saya melanjutkan kembali membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, saya tidak ingin terus berdiam di bab awal, Bandung tempo dulu punya cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri bab per babnya dari yang saya baca seperti telaga Bandung, alun alun yang telah berubah fungsi, pembangunan kota yang harus mempertimbangkan alam, kuliner khas di Bandung dan masih banyak lagi. Point penting yang saya ambil dari pembacaan hari ini, penulisan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya menggunakan kata kata yang sederhana. Tentu saja dalam penulisan karya Ilmiah populer tentunya harus menggunakan kata kata yang dijumplalitkan.
Generasi muda juga tentunya harus memperhatikan pertimbangan kotanya. Sejarah masa dulu jadi pembelajaran untuk kedepannya.
13 Septmber 2018
Rabu, 05 September 2018
Ngopi Bareng KAI 2
Kejadian konyol yang saya alami hari ini adalah menyobek
uang kertas, tentu saja itu terjadi tidak sengaja. Tidak main main juga uang
yang disobek nilai mata uangnya cukup besar yaitu seratus ribu. Uang yang telah
sobek itu membuat saya berpikir untuk menempelkannya kembali atau dibelanjakan
sesuatu. Ini ada pengaruhnya dengan nilai tukar tolar yang mencapai Rp 15.000 uang
sobekan seratus ribu saya simpan dulu didalam dompet.
Siang hari di hari Rabu, saya belum menyesap kopi. Saya
sejenak datang ke Pos Kopi yaitu kedai kopi yang lokasinya berada didalam
kantor pos. Konon yang saya lihat dari Instagram ada stok kopi baru yaitu Sunda
Typica. Saat datang untuk ngopi, saya selalu bertanya tentang perihal kopi
baru, ada 4 pcak kopi yaitu puntang, patuha, sunda typical dan yellow cattura.
Untuk yellow cattura ini diperkenalkan pada saat pemerintahan Ahmad Heriawan
Sebagai gubernur Jabar. Semua kopi diambil dari Cimaung, kebanyakan mix
varietas itu bisa mencapai 4 varietas. Lini S, Sigararutang, Ateng, dll.
Metode penyeduhannya biasa dengan filter, V60 alat yang umum
digunakan. Dengan metode menyediuh ala Testu Kasuya rumusnya 4:6 saya mencoba
kopi sunda typicanya. Aroma yang disajikan memang wangi. Di sela sela menyeduh
kopi kemasan yang banyak dipesan diantarnya adalah robusta, tidak jauh dari
kedai ada juga yang mengolah kopi dalam bentuk kemasan jalur distribusinya
lewat GOJEK. Di meja display dijual gula aren yang membuat saya tertarik untuk
mencobanya.
Bagi sebagian orang minum kopi dengan gula merah menambah
nilai tersendiri, karena gula merah bubuk ini diambil dari Baduy. Selesai
ngopi, saya diberikan sampel kopi puntang natural. Kopi ini seperti yang
diceritakan pernah sampai dicupping oleh seorang Q Grader, untuk cupping
diperlukan sampai 50 cup. Ada cupping dan ada juga tasting. Saat sudah
ditemukan note apa saja yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama sebagai
branding dari kopi. Seperti rasa lemon yang muncul dalam kopi bisa dibuat nama
Puntang Lemonade. Seperti branding kopi yang dibuat oleh Space Roastery,
roaster dari Yogya dengan kopinya “Halu Pink Banana”
Malam harinya, ada technical meeting kecil kecil dalam
rangka acara bagi bagi kopi gratis dalam rangka acara KAI. Tepatnya tanggal
10-11 September 2018. Acara ini memang terbilang mendadap dari 20 peserta yang
ikut 10 orang ditempatkan dalam kereta api dan sisanya membuka stand penjualan
di stasiun. Adapun kopi yang dibagikan gratis totalnya 250 cup kurang lebih 3
kg. Saya berkenalan juga dengan om Budi yaitu salah satu pengolah dari Cikole,
kopi dari Tangkuban Perahu tepatnya. Karena lokasi dekat dengan kawah kadang
ada rasa belerang yang menempel.
Pada saat pembagian, anehnya orang yang mendapat kesempatan
di kereta adalah orang orang yang tidak hadir dilokasi.
5 September 2018
Selasa, 24 Juli 2018
Sistematika
Jangkauan pemikiran saya mungkin belum sampai untuk membaca sistematika korporasi atau pemerintah dalam menjalankan programnya untuk misi tertentu. Yang paling sering terjadi adalh ekpos tiada henti bahkan kadang berlebihan tentang tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Indonesia. Saya pikir menjual angka kemiskinan adalah cara termudah untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari pihak asing. Dengan begitu pinjaman uang untuk membangun negara akan dipermudah. Lalu muncul pertanyaan setelah pinjaman uang itu cair, apakah akan sampai kepada rakyat yang benar benar miskin? Silahkan jawab sendiri.
Dunia semakin canggih, dunia teknologi menjadi penguasa saat ini. Bukti kekuasaannya mudah ditemukan, seseorang yang tidak bisa lepas dari handphonenya. Tidak ketinggalan bermain games tidak mengenal tempat dan waktu. Itulah kebahagiaan baru. Naik mobil yang harganya ratusan juta bisa dilakukan dengan bermodalkan aplikasi saja. Liburan dan travelling sebagai bukti eksistensi, setelah lelah bekerja leha leha ditempat liburan nan indah adalah obat paling ampuh.
Untuk menjawab kegelisahan itu, saya diminta ikut kelas literasi, kelas untuk berdiskusi pembauran berbagai pemikirian yang diadakan di Pasir Jaya sebagai sekretariat baru Komunitas Aleut. Tak ada jam pastinya yang jelas kelas akan dilaksanan pada malam hari, yang datang yang punya waktu luang. Setiap malam Minggu jelas waktu saya teramat luang karena tidak ada wanita yang dikencani apalagi untuk sebuah kencal yang nakal.
Malam itu masih terasa seperti perkumpulan biasa, masing masing mengerjakan pekerjaannya. Ada yang tertawa-tawa, ada yang sudah merencanakan untuk mengejar cinta kala itu. Satu topik hangat yang dibicarakan adalah tentang penghancuran rumah hasil rancangan Ir. Soekarno sangat disayangkan memang sebagai bangunan cagar budaya (BCB)yang dilindungi dalam kategori B dengan mudahnya dihancurkan, bagi pemiliknya rumah yang bentuknya kembar itu tidak punya arti sejarah.
Sejak tahun 1983 ada sekitar 8 rumah hasil rancangan Ir. Soekarno yang dihancurkan. Sukarno memang dikenal sebagai seorang Insiyur yang beberapa hasil karyarnya tersebar di Bandung. Beberapa orang teman kala itu membuat gerakan lewat sosial media tentang penghancuran rumah Bangunan Cagar Budaya ini. Gerakan kecil ini paling tidak bisa membuat masyarakat tahu tentang rumah yang pernah diarsiteki oleh Ir. Soekarno.
Pembahasan tentang topik ini terus berlanjut sampai mengumpulkan beberapa buku tentang karya Soekarno. Kelas Literasi sepertinya akan ditunda atau dipindah ke lain hari. Upaya pembodohan secara sistematis itu belum terbahas dengan tuntas. Malam minggu selalu ada topik diluar kisah percintaan yang layak untuk dibahas, bagi yang belum tidur melanjutkan obrolan di grup Whatsapp.
Obrolan dalam grup Whatsapp saya baca satu persatu pagi harinya. Teman teman yang tergabung dalam grup menceritakan tentang sosok orangtua mereka. Pola didik, kedekatan, pendekatan semua diceritakan dengan jujur. Bagi sebagian ada yang mengalami kekerasan pada waktu kecil, kedekatan tidak hanya melulu melekat pada sosok ibu kadang ayah bisa lebih mengerti tentang cara menghadapi ibu dalam segara kondisi. Jujur saja, setelah membaca semua cerita itu, saya merasa tersentuh juga turut ingin menceritakan sosok bapak dan mamah yang mendidik saya yang belum menikah ini.
Perbedaan cara didik dan pertengkaran kecil sering terjadi. Kedua orang saya terutama mamah adalah orangtua yang paling tidak bisa merelakan anak anaknya jauh darinya. Juga sering kali cerewet atau bawel saya menyebutnya hanya karena hal hal sepele. Saya yang tidak rajin ini sudah jutaan kali dinasehatinya.
Singkatnya dibalik kelebihan dan kekurangan, kedua orangtua saya menyenangkan dan saya menyayangi mereka. Belum banyak yang bisa saya berikan sebagai anak, hanya doa tulus dan ucapan terima kasih banyak.
Sabtu, 21 Juli 2018
Dunia semakin canggih, dunia teknologi menjadi penguasa saat ini. Bukti kekuasaannya mudah ditemukan, seseorang yang tidak bisa lepas dari handphonenya. Tidak ketinggalan bermain games tidak mengenal tempat dan waktu. Itulah kebahagiaan baru. Naik mobil yang harganya ratusan juta bisa dilakukan dengan bermodalkan aplikasi saja. Liburan dan travelling sebagai bukti eksistensi, setelah lelah bekerja leha leha ditempat liburan nan indah adalah obat paling ampuh.
Untuk menjawab kegelisahan itu, saya diminta ikut kelas literasi, kelas untuk berdiskusi pembauran berbagai pemikirian yang diadakan di Pasir Jaya sebagai sekretariat baru Komunitas Aleut. Tak ada jam pastinya yang jelas kelas akan dilaksanan pada malam hari, yang datang yang punya waktu luang. Setiap malam Minggu jelas waktu saya teramat luang karena tidak ada wanita yang dikencani apalagi untuk sebuah kencal yang nakal.
Malam itu masih terasa seperti perkumpulan biasa, masing masing mengerjakan pekerjaannya. Ada yang tertawa-tawa, ada yang sudah merencanakan untuk mengejar cinta kala itu. Satu topik hangat yang dibicarakan adalah tentang penghancuran rumah hasil rancangan Ir. Soekarno sangat disayangkan memang sebagai bangunan cagar budaya (BCB)yang dilindungi dalam kategori B dengan mudahnya dihancurkan, bagi pemiliknya rumah yang bentuknya kembar itu tidak punya arti sejarah.
Sejak tahun 1983 ada sekitar 8 rumah hasil rancangan Ir. Soekarno yang dihancurkan. Sukarno memang dikenal sebagai seorang Insiyur yang beberapa hasil karyarnya tersebar di Bandung. Beberapa orang teman kala itu membuat gerakan lewat sosial media tentang penghancuran rumah Bangunan Cagar Budaya ini. Gerakan kecil ini paling tidak bisa membuat masyarakat tahu tentang rumah yang pernah diarsiteki oleh Ir. Soekarno.
Pembahasan tentang topik ini terus berlanjut sampai mengumpulkan beberapa buku tentang karya Soekarno. Kelas Literasi sepertinya akan ditunda atau dipindah ke lain hari. Upaya pembodohan secara sistematis itu belum terbahas dengan tuntas. Malam minggu selalu ada topik diluar kisah percintaan yang layak untuk dibahas, bagi yang belum tidur melanjutkan obrolan di grup Whatsapp.
Obrolan dalam grup Whatsapp saya baca satu persatu pagi harinya. Teman teman yang tergabung dalam grup menceritakan tentang sosok orangtua mereka. Pola didik, kedekatan, pendekatan semua diceritakan dengan jujur. Bagi sebagian ada yang mengalami kekerasan pada waktu kecil, kedekatan tidak hanya melulu melekat pada sosok ibu kadang ayah bisa lebih mengerti tentang cara menghadapi ibu dalam segara kondisi. Jujur saja, setelah membaca semua cerita itu, saya merasa tersentuh juga turut ingin menceritakan sosok bapak dan mamah yang mendidik saya yang belum menikah ini.
Perbedaan cara didik dan pertengkaran kecil sering terjadi. Kedua orang saya terutama mamah adalah orangtua yang paling tidak bisa merelakan anak anaknya jauh darinya. Juga sering kali cerewet atau bawel saya menyebutnya hanya karena hal hal sepele. Saya yang tidak rajin ini sudah jutaan kali dinasehatinya.
Singkatnya dibalik kelebihan dan kekurangan, kedua orangtua saya menyenangkan dan saya menyayangi mereka. Belum banyak yang bisa saya berikan sebagai anak, hanya doa tulus dan ucapan terima kasih banyak.
Sabtu, 21 Juli 2018
Kamis, 19 Juli 2018
Jalan Menuju Batu Nisan
Sudah hampir 8 tahun Hani ditinggalkan ayahnya ketika itu masih berstatus sebagai mahasiswa pada masa-masa UTS dan UAS. Hani menyarankan pada Riska untuk segera mengurus surat kematian dengan menfoto kopinya. Surat ini nantinya bisa digunakan untuk mengurus gaji karena ayahnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Surat bisa diserahkan langsung kepada dinas pertamanan dan pemakanan, Disdukcapil, dan Taspen. Padang menjadi tempat peristirahat terakhir ayahnya Hani ini.
Malam hari itu Riska harus segera pulang ke rumah dan bergegas pergi ke rumah sakit. Tidak banyak hal yang ia ceritakan, keesokan harinya di sebuah grup Whatsapp Riska minta doa untuk kesembuhan ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit. Abang menyarankan kepada beberapa teman agar siap siaga kalau pun diperlukan bantukan. Sore menjelang malam kabar duka itu datang, Amanda seolah berat menyampaikan kabar duka itu. Tidak ada yang bisa menahan akan datangnya kematian, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Saya tidak dapat menbayangkan kondisi dirumah sakit setelah kejadian itu terjadi. Seorang ayah meninggalkan anak perempuan yang menjaganya dilain ada beberapa temannya juga turut menemani sebagai bentuk simpati dan dukungan secara batin. Ucapan duka dan doa perlahan datang, teman yang lain juga diminta untuk memandu dirumah sakit dan sebagian langsung begegas ke rumah duka. Di ruangan Elizabet ICU Lantai 3 kamar 3 almarhum ayahnya Riska meninggal.
Rumah duka, rumah yang ditinggali oleh ayah dan ibu Riska letaknya ada di pinggir jalan. Rumahnya masuk menjorok ke dalam, dari luar terlihat beberapa orang yang berdiri. Dari dalam entah apa yang sedang dibicarakan, ada kesedihan di sana. Hal yang harus disegerakan setelah seseorang meninggal adalah memandikannya. DKM punya tugas untuk membantu mengurusi ini semua atau paling tidak RT dan RW setempat. Beberapa peralatan seperti kain kafan, kafas alat pemandian mayit harus siap sedia.
Ada proses lain yang harus ditempuh, tidak hanya memandikan. Tapi, juga mengkafani, menyolatkan dan mencarikan tempat pemakaman untuk almarhum. Saya tidak mendengar langsung obrolan apa yang terjadi, dari yang didengar dari anggi pihak keluarga seperti saling melempar atau mengandalkan. Maka urusan memandikan jenazah sepenuhnya ditangani olah orang jadi Percikan Iman lewat Yayasan Istiqomah. Peran Yayasan utamanya yang bergerak dalam keagamaan akan amat membantu bagi umat yang tidak tahu atau buta tentang sebuah perkara. Baik itu Zakat, Umroh, pembagian harta warisan dan juga tentang mengurusi jenazah.
Saya dan teman-teman yang datang pada waktu itu dimulai dari Akay, Aip, Gista, Ana, Mei, Nisa, Yasna, Upi, dll semuanya belum makan malam. Kita semua datang sebagai bentuk dukungan moril, kita makan malam bersama dengan lahap malam itu ada yang makan nasi goreng dan kwetiaw. Dalam kondisi seperti ini bantuan, dukungan dan doa dari teman teman akan bisa meringankan duka dari keluarga yang ditinggalkan. Semoga, akan banyak kelompok masyarakat yang terbentuk untuk saling mau membantu sesama dengan tulus, untuk semua tidak terjadi dengan sendirinya tanpa dibangun dan ada yang menggerakan.
Kamis, 19 Juli 2018
Malam hari itu Riska harus segera pulang ke rumah dan bergegas pergi ke rumah sakit. Tidak banyak hal yang ia ceritakan, keesokan harinya di sebuah grup Whatsapp Riska minta doa untuk kesembuhan ayahnya yang sedang dirawat dirumah sakit. Abang menyarankan kepada beberapa teman agar siap siaga kalau pun diperlukan bantukan. Sore menjelang malam kabar duka itu datang, Amanda seolah berat menyampaikan kabar duka itu. Tidak ada yang bisa menahan akan datangnya kematian, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Saya tidak dapat menbayangkan kondisi dirumah sakit setelah kejadian itu terjadi. Seorang ayah meninggalkan anak perempuan yang menjaganya dilain ada beberapa temannya juga turut menemani sebagai bentuk simpati dan dukungan secara batin. Ucapan duka dan doa perlahan datang, teman yang lain juga diminta untuk memandu dirumah sakit dan sebagian langsung begegas ke rumah duka. Di ruangan Elizabet ICU Lantai 3 kamar 3 almarhum ayahnya Riska meninggal.
Rumah duka, rumah yang ditinggali oleh ayah dan ibu Riska letaknya ada di pinggir jalan. Rumahnya masuk menjorok ke dalam, dari luar terlihat beberapa orang yang berdiri. Dari dalam entah apa yang sedang dibicarakan, ada kesedihan di sana. Hal yang harus disegerakan setelah seseorang meninggal adalah memandikannya. DKM punya tugas untuk membantu mengurusi ini semua atau paling tidak RT dan RW setempat. Beberapa peralatan seperti kain kafan, kafas alat pemandian mayit harus siap sedia.
Ada proses lain yang harus ditempuh, tidak hanya memandikan. Tapi, juga mengkafani, menyolatkan dan mencarikan tempat pemakaman untuk almarhum. Saya tidak mendengar langsung obrolan apa yang terjadi, dari yang didengar dari anggi pihak keluarga seperti saling melempar atau mengandalkan. Maka urusan memandikan jenazah sepenuhnya ditangani olah orang jadi Percikan Iman lewat Yayasan Istiqomah. Peran Yayasan utamanya yang bergerak dalam keagamaan akan amat membantu bagi umat yang tidak tahu atau buta tentang sebuah perkara. Baik itu Zakat, Umroh, pembagian harta warisan dan juga tentang mengurusi jenazah.
Saya dan teman-teman yang datang pada waktu itu dimulai dari Akay, Aip, Gista, Ana, Mei, Nisa, Yasna, Upi, dll semuanya belum makan malam. Kita semua datang sebagai bentuk dukungan moril, kita makan malam bersama dengan lahap malam itu ada yang makan nasi goreng dan kwetiaw. Dalam kondisi seperti ini bantuan, dukungan dan doa dari teman teman akan bisa meringankan duka dari keluarga yang ditinggalkan. Semoga, akan banyak kelompok masyarakat yang terbentuk untuk saling mau membantu sesama dengan tulus, untuk semua tidak terjadi dengan sendirinya tanpa dibangun dan ada yang menggerakan.
Kamis, 19 Juli 2018
Kamis, 26 April 2018
Rumah Mimpi Ucay
Ucay nama panggilan itu lebih melekat dari nama aslinya. Pagi itu dia sudah lebih dulu berada diruangan mengambil tempat duduk dipojok. Hari itu saya melihatnya kembali, kita duduk berdekatan terakhir pertemuan saat ada relokasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ke kosan Dua Saudara. Diawal-awal obrolan nama-nama seperti Ganjar, Tiara, Agung, Isman, dll terus ditanyakannya.
Dia bekerja di lembaga pemerintahan yaitu BKKBN sudah hampir satu tahun. Kunjungan dinasnya telah membawanya menuju kota Bali, Aceh dan Lampung. Disamping itu didaerahnya sendiri, dia membangun sudah gerakan yaitu ruang mimpi tujuannya untuk menggerakan anak anak dari daerah. Keinginan terbesarnya sebenarnya bukan bekerja melainkan membuka usaha, satu satunya harapan yang harus dijalani saat ini adalah bekerja di dinas pemerintahan. Setiap kunjungan kerja tidak jarang harus pergi menggunakan tiket promo dari maskapai Lion Air dan Airasia.
Ucay masih sering bertemu dengan Opik karena sudah pernah mengerjakan project bersama website Bandungtimes.com dan Cimahicity.com, Opik yang sudah lama menikah sempat tinggal dilampung selama 6 Bulan setelah melahirkan kembali lagi ke Bandung. Sehari harinya bergantung pada usaha potong rambut lebih seperti Barber Shop hanya dibuat lebih santai. Jika siang hari ia tidur malamnya bekerja didepan laptop, entah mengerjakan apa.
Pemerintah kota Bandung 2 tahun sebelumnya telah menyebarkan surat edaran kepada masyarakat di Taman Sari isinya memberitahukan akan dibangunnya rumah susun. Masyarat dulu yang pernah punya majikan orang Belanda kadang mewarisi tanah warisan dari majikannya yang disebut Tanah Adat. Ada isu yang mengatakan tanah adat surat kepemilikan tanahnya sering dipermasalahkan mungkin tujuan pembangunan ini juga pemerintah ingin mengetahui lahan-lahan yang sebenarnya milik pemerintahan kota.
Radar Bandung pernah menjadi tempat bernaungnya selama 1 setengah tahun. Tugas sebagai pengelola web memberikan keleluasaan baginya untuk meliput langsung juga ke lapangan, tanpa terlibat langsung dalam desk politik lebih kepada musik, budaya dan gaya hidup.
Anak-anak yang kekurangan tempat bermain mencuri perhatiannya untuk mendirikan gerakan Rumah Mimpi bersama dengan temannya. Gerakan ini sudah membangun jaringan dengan Rumah Bintang, salah satu program yang sudah dibuatnya terkait olahraga, anak-anak yang satu naungan dikumpulkan dalam sebuah kompetisi sepakbola. Ucay akan terus bermimpi bersama rumah mimpinya.
Dia bekerja di lembaga pemerintahan yaitu BKKBN sudah hampir satu tahun. Kunjungan dinasnya telah membawanya menuju kota Bali, Aceh dan Lampung. Disamping itu didaerahnya sendiri, dia membangun sudah gerakan yaitu ruang mimpi tujuannya untuk menggerakan anak anak dari daerah. Keinginan terbesarnya sebenarnya bukan bekerja melainkan membuka usaha, satu satunya harapan yang harus dijalani saat ini adalah bekerja di dinas pemerintahan. Setiap kunjungan kerja tidak jarang harus pergi menggunakan tiket promo dari maskapai Lion Air dan Airasia.
Ucay masih sering bertemu dengan Opik karena sudah pernah mengerjakan project bersama website Bandungtimes.com dan Cimahicity.com, Opik yang sudah lama menikah sempat tinggal dilampung selama 6 Bulan setelah melahirkan kembali lagi ke Bandung. Sehari harinya bergantung pada usaha potong rambut lebih seperti Barber Shop hanya dibuat lebih santai. Jika siang hari ia tidur malamnya bekerja didepan laptop, entah mengerjakan apa.
Pemerintah kota Bandung 2 tahun sebelumnya telah menyebarkan surat edaran kepada masyarakat di Taman Sari isinya memberitahukan akan dibangunnya rumah susun. Masyarat dulu yang pernah punya majikan orang Belanda kadang mewarisi tanah warisan dari majikannya yang disebut Tanah Adat. Ada isu yang mengatakan tanah adat surat kepemilikan tanahnya sering dipermasalahkan mungkin tujuan pembangunan ini juga pemerintah ingin mengetahui lahan-lahan yang sebenarnya milik pemerintahan kota.
Radar Bandung pernah menjadi tempat bernaungnya selama 1 setengah tahun. Tugas sebagai pengelola web memberikan keleluasaan baginya untuk meliput langsung juga ke lapangan, tanpa terlibat langsung dalam desk politik lebih kepada musik, budaya dan gaya hidup.
Anak-anak yang kekurangan tempat bermain mencuri perhatiannya untuk mendirikan gerakan Rumah Mimpi bersama dengan temannya. Gerakan ini sudah membangun jaringan dengan Rumah Bintang, salah satu program yang sudah dibuatnya terkait olahraga, anak-anak yang satu naungan dikumpulkan dalam sebuah kompetisi sepakbola. Ucay akan terus bermimpi bersama rumah mimpinya.
Kamis, 12 April 2018
Writing About Ana
Tidak ada hubungannya sama sekali judul berbahasa ingris yang mengharuskan isinya juga berbahasa inggris. Dalam menulis catatan atau apa saja yang ada didalam blog, saya lebih senang menggunakan kata-kata yang lepas. Tidak kaku seolah berbicara pada pembaca, ya kalau perlu seperti obrolan sehari-hari saja agar terasa lebih dekat.
Sudah seminggu tepatnya, saya tidak mendapatkan kabar terbaru tentang ana, kabar itu bisa saja didapatkan dengen mengecek instagramnya atau memberanikan diri bertanya langsung lew at aplikasi chating kekinian. Di instagram lewat feed paling atas, saya hanya mendapati postingan foto terbaru yang lokasinya diambil di Bumi Herbal Dago (BHD). Yang tampak lalu bersembunyi adalah foto kucing. Dibalik foto itu memang ada maksud sengaja dari tangan fotografer untuk mengabadikan hewan yang menurut sebagian orang itu lucu.
Kedatangan Ana setiap hari Kamis memang selalu saya harapkan. Selintas saja dalam pikiran kadang sosok itu muncul beberapa detik saja tidak pernah lama, saya memberiakan ana datang karena dirinya sendiri. Datang Kamisan karena ingin berkumpul sehabis pulang kerja. Saat menuruni tangga, tatapan mata saya melihat jelas kehadirannya yang tengah sudah duduk dengan tenang. Itulah Ana, tak ada kata-kata yang ingin saya ucapkan cukup merasakan keberadaannya di ruangan ini.
Dari wajah itu langsung terpikir untuk mengirimi pesan entah itu keisengan atau keseriusan, saya menawarinya secangkir kopi. Menyeduh kopi itu harus melibatkan cinta, cinta paling dalam kalau perlu. Kamisan berlangsung dengan penuh hangat beberapa orang yang setia turut hadir kala itu. Aip, Akay, Upi, Gista, Ervan, Tegar, Anggi, Enji, Nisa, Windy turut terasa kala itu. Sampai akhir Kamisan, saya tak punya nyali berlama-lama menatap wajahnya.
Kamisan berakhir, ada yang melanjutkan obrolan dan ada yang harus segera pulang. Saya duduk berdiri didekat meja bar. Satu persatu orang berlalu lalang ada yang keatas atau sekedar menuju tempat cuci tangan. Dari tempat duduknya dia berjalan, arah tujuannya untuk mencuci tangan. Lalu, ada yang berusaha menghampiri, sosok itu lalu bertanya "Ada kopi apa?" jawaban yang saya keluarkan malah tidak karuan, saya menjawab pertanyaan itu dengan mengawang-awang.
Antara dua jenis kopi single origin huta bata dan aceh natural saya lebih merekomendasikan huta raja collective, kalau kata seorang teman namanya itu seperti kopi frinsa collective. Dia kembali ke tempat duduknya, saya merasa melewatkan kesempatan untuk mengobrol lebih jauh. Yang jelas ada sedikit kegembiraan kala itu.
Jaket warna biru dongker memberi kesan manis, dia duduk di jok belakang motor. Suara gas terdengar, tatapan matanya masih belum beranjak dari depan kedai. Saya perhatikan terus motor itu, motor mulai melaju. Dia melampaikan tangan, semacam pertanda akan pergi. Lambaian tangan penting itu seperti punya pesan penting, bagi saya membalasnya adalah hal yang perlu. Lampaian tangan itu mungkin saya untuk untuk semua teman, tapi bagi saya itu sebuah arti.
Sudah seminggu tepatnya, saya tidak mendapatkan kabar terbaru tentang ana, kabar itu bisa saja didapatkan dengen mengecek instagramnya atau memberanikan diri bertanya langsung lew at aplikasi chating kekinian. Di instagram lewat feed paling atas, saya hanya mendapati postingan foto terbaru yang lokasinya diambil di Bumi Herbal Dago (BHD). Yang tampak lalu bersembunyi adalah foto kucing. Dibalik foto itu memang ada maksud sengaja dari tangan fotografer untuk mengabadikan hewan yang menurut sebagian orang itu lucu.
Kedatangan Ana setiap hari Kamis memang selalu saya harapkan. Selintas saja dalam pikiran kadang sosok itu muncul beberapa detik saja tidak pernah lama, saya memberiakan ana datang karena dirinya sendiri. Datang Kamisan karena ingin berkumpul sehabis pulang kerja. Saat menuruni tangga, tatapan mata saya melihat jelas kehadirannya yang tengah sudah duduk dengan tenang. Itulah Ana, tak ada kata-kata yang ingin saya ucapkan cukup merasakan keberadaannya di ruangan ini.
Dari wajah itu langsung terpikir untuk mengirimi pesan entah itu keisengan atau keseriusan, saya menawarinya secangkir kopi. Menyeduh kopi itu harus melibatkan cinta, cinta paling dalam kalau perlu. Kamisan berlangsung dengan penuh hangat beberapa orang yang setia turut hadir kala itu. Aip, Akay, Upi, Gista, Ervan, Tegar, Anggi, Enji, Nisa, Windy turut terasa kala itu. Sampai akhir Kamisan, saya tak punya nyali berlama-lama menatap wajahnya.
Kamisan berakhir, ada yang melanjutkan obrolan dan ada yang harus segera pulang. Saya duduk berdiri didekat meja bar. Satu persatu orang berlalu lalang ada yang keatas atau sekedar menuju tempat cuci tangan. Dari tempat duduknya dia berjalan, arah tujuannya untuk mencuci tangan. Lalu, ada yang berusaha menghampiri, sosok itu lalu bertanya "Ada kopi apa?" jawaban yang saya keluarkan malah tidak karuan, saya menjawab pertanyaan itu dengan mengawang-awang.
Antara dua jenis kopi single origin huta bata dan aceh natural saya lebih merekomendasikan huta raja collective, kalau kata seorang teman namanya itu seperti kopi frinsa collective. Dia kembali ke tempat duduknya, saya merasa melewatkan kesempatan untuk mengobrol lebih jauh. Yang jelas ada sedikit kegembiraan kala itu.
Jaket warna biru dongker memberi kesan manis, dia duduk di jok belakang motor. Suara gas terdengar, tatapan matanya masih belum beranjak dari depan kedai. Saya perhatikan terus motor itu, motor mulai melaju. Dia melampaikan tangan, semacam pertanda akan pergi. Lambaian tangan penting itu seperti punya pesan penting, bagi saya membalasnya adalah hal yang perlu. Lampaian tangan itu mungkin saya untuk untuk semua teman, tapi bagi saya itu sebuah arti.
Kamis, 05 April 2018
Review Singkat The Flash Season 4 Episode 16
TV Show apa yang pernah kamu tonton? Kalau saya diantaranya Sherlock Holmes, Marvel Legend of Tomorrow, Black Mirror dan lebih seringnya menonton The Flash mulai dari season 1 sampai season 4 sudah sampai episosde 16, banyak hal yang saya sukai dari The Flash ini yang paling diingat adalah saat pembukannya dengan menyebut nama Barry Allen sebagai the Flash manusia tercepat yang pernah ada. Season 4 ini The Flash dan timnya di Star Lab harus berhadapan dengan musuh besarnya yaitu Devold seorang yang punya kecerdasaan diatas rata-rata dia juga ada pada saat kejadian ledakan pada waktu itu.
Episode ke 16 di buka dengan perampokan yang terjadi di Bank, pelakunya ada manusia buatan yang punya kekuatan api. Brankas bank yang terbuat dari baja yang tebal bisa dibukanya. Sebelum uang yang ada di brankas diambil oleh manusia api, ada salah seorang pegawai bank yang mencegahnya, ia kemudian bersentuhan tahan dengan manusia api setelah itu saat manusia api akan menyerangnya kembali kekuatna apinya mendadak menghilang. Saat hilang kekuatan polisi kemudian bisa menangkapnya dengan mudah.
Pagi harinya penyelidikan di lokasi kejadian dilakukan oleh Detektif Joe bersama dengan Sisko, Sisko menemukan yang membakar brankas ini adalah manusia buatan yang punya kekuatan panas diatas 900 Farenheit. Kemudian manusia api itu ditanya apakah ia pernah ikut dalam satu bus di kejadian itu. Lelaki tadi malah melemparkan pertanyaan balik, dia sudah punya kekuatan itu beberapa bulan yang lalu. Sementara itu tim The Flash di Starlab masih meributkan stategi untuk mengalahkan Devold. Sisa 3 orang lagi dari penumpang bus belum ditemukan. Harry kemudian mengusulkan untuk membuat topi untuk meningkatan tingkat kecerdasan seseorang, dia melihat kecerdasan Devrg sold dirahih dari topi buatan itu. Maka Harry menguslkan untuk membuat hal yang serupa dengan diuji terlebih dahulu kepada tim.
Pelaku pembobolan bank sudah ditemukan kemudian. Dia ditanya apakah dia punya kekuatan api, pada saat itu pelaku malah mengancam Irish dihadapan detektif Jo, dengan cepat detektif langsung menyalakan sinyal bahaya, datanglah The Flash menyelamatkan Irish. Pada waktu itu yang terjadi kekuatan The Flash berpindah pada Irish. The Flash hilan kecepatannya, kini tangannya Irish bergerak cepat seperti The Flash.
Sisi menarik dari episode 16 ini The Flash kini pindah peran pada Irish, di Star Lab Irish mulai berlatih untuk menggunakan kecepatannya. Dia merasakan sesuatu yang lain, Irish harus mulai berhadapan dengan para penjahat. Pada waktu itu di sebuah gedung terjadi kebakaran, maka ini jadi tugas pertamanya untuk menyelamatkan banyak orang. Irish kemudian menyelamatkan orang keluar dari gedung dengan kecepatan dia mulai menciptakan angin untuk mematamkan api, Irish terkena reruntuhan gedung. Dia diselamatkan oleh Sisco.
Semua kekuatan yang dimilikinya itu lengkap dengan masa lalu yang pernah terjadi di speed force. Di starlab Sisco masih membaca majalah sains, begitu juga Harry masih dengan percobaannya untuk menciptakan helm untuk membuat jadi jenius. Harry yang terus berekperimen merasa gagal, lalu mencoba meminta bantuan Sisco untuk menyemppurnakannya. Sisco lalu menolak karena takut akan terjadi hal yang sama pada Devolt. Episode k1-16 belas ini Devold tidak muncul. Dibalik tubuh barunya, Devolt terus berpikir untuk menghancurkan The Flash.
Sebagai serial TV yang mudah dimengerti alur ceritanya. Sebenarnya The Flash ini bisa memberikan pengetahuan baru tentang kegiatan para ilmuan dan berbagai macam kasus dan tindak kejahatan
yang terjadi di kepolisian. Dari serial ini, saya masih penasaran pada sosok Harryson Walce, apa dia masuk atau menjadi otak dibalik kejadian ledakna di bus pada waktu itu. Diakhir cerita dua nama penumpang lain masih disebut yang akan berlanjut pada episode selanjutnya.
Manusia api yang mengeluarkan seluruh kekuatan aslinya dikalahkan oleh Irish dengan mengirimkan air dari sungai.
Sabtu, 31 Maret 2018
Tulisan Penutup Bulan Maret
Cimenyan konon ceritanya menurut orang dulu ada pohon menyan disini. Pemilih rumah ini yang aslinya berasal dari Antapani lalu disewa oleh bu Karlina sebagai tempat usaha. Saya masih menunggu kedatangan seseorang di sini sambil ditemani ngobrol sesekali bersama seorang ibu yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja di rumah yang sering juga digunakan untuk tempat shooting.
Jumat, 30 Maret 2018
Bagaimana Sebaiknya Membuat Poster Yang Baik?
Kamis, 29 Maret 2018
Pada dasarnya membuat desain poster atau flyer itu sama seperti menulis perlu ada ide sayang dituangkan. Ketika ide sudah ditemukan maka akan mudah untuk membuat desainnya. Menjelang tengah malam saya mencoba memainkan aplikasi desain photoshop saja tidak ada aplikasi lainnya. Aplikasi canggih seperti illustrator belum sama sekali saya coba operasikan. Saya akan membuat desain flyer untuk acara ngaleut yaitu kegiatan mingguan berjalan kaki menyelusuri beberapa tempat bersejarah. Temanya tentang dunia perbankan sebenarnya akan ngaleut kerana api namun sayang tidak jadi.
Sebelum mendesain saya biasanya membuka pinterest lebih dulu untuk menambah referensi baru tentang desain baik itu dari font, warna sampai gampar apa yang cocok digunakan seperti dipikirkan lebih dulu. Dalam menambah jenis font baru, saya bisa mengunduhnya dari dafont. Dari segi pemilihan warna saya cenderung mengikuti pakem warna desain poster yang pernah dibuat dengan sedikit modifikasi dan penambahan.
Karena unsur desain yang dilibatkan perihal dunia perbankan tempo dulu, satu-satunya orang yang punya datang lengkap baik itu tulisan terutama foto adalah Alexxx, saya langsung mengontak untuk meminta materi foto yang dibutuhkan. Beberapa foto koleksi lama, dikirimkannya. Bagi saya proses kreatif dalam mendesainnya yang paling menyenangkan itu ketika sendiri, hanya ada beberapa suara yang kadang lewat selebihmnya fokus pada desain sambil terus menemukan alternatif-alternatif baru dalam membuat desainnya yang menyenangkan.
Saya memulainya dengan memilih jenis huruf yang pas sambil memainkan beberapa warna dan beberapa pola desain. Awal-awal mendesain masih terasa belum lepas, kadang juga masih mengumpulkan beberapa materi seperti logo dan ikon sosial media. Dari satu desain yang belum selesai, saya mencoba membuat desain dengan pola berbeda. Perlahan saya mulai menangkan desain itu. Saya melanjutnya dengan mengganti dari satu warna ke warna lainnya. Masih dengan pilihan warna yang terang.
Mengumpulkan materi desain dengan rapih bisa membantu dalam mengerjakan proses desain yang cepat. Baik foto, logo dan hal lainnya kadang bisa menyita waktu dalam proses mendesain. Belum lagi kendala lain bisa datang dari koneksi internet ada gangguan dari sekitar. Membuat desain yang baik bisa dimulai dengan memperkaya keragaman visual sembari mencoba banyak pola, penguasaan teknik juga mutlak diperlukan. Dari segi perangkat dan peranti pendukung lainnya.
Proses kreatif yang berlanjut akan menunjukan karya desain bukan hanya indah dipandang mata juga punya makna yang mendalam bagi yang bisa membacanya. Formula dan teori terasa tidak berguna tanpa mulai mendesain dari hal paling sederhana. Memainkan warna contohnya, asalkan jangan memainkan hati wanita.
Pada dasarnya membuat desain poster atau flyer itu sama seperti menulis perlu ada ide sayang dituangkan. Ketika ide sudah ditemukan maka akan mudah untuk membuat desainnya. Menjelang tengah malam saya mencoba memainkan aplikasi desain photoshop saja tidak ada aplikasi lainnya. Aplikasi canggih seperti illustrator belum sama sekali saya coba operasikan. Saya akan membuat desain flyer untuk acara ngaleut yaitu kegiatan mingguan berjalan kaki menyelusuri beberapa tempat bersejarah. Temanya tentang dunia perbankan sebenarnya akan ngaleut kerana api namun sayang tidak jadi.
Sebelum mendesain saya biasanya membuka pinterest lebih dulu untuk menambah referensi baru tentang desain baik itu dari font, warna sampai gampar apa yang cocok digunakan seperti dipikirkan lebih dulu. Dalam menambah jenis font baru, saya bisa mengunduhnya dari dafont. Dari segi pemilihan warna saya cenderung mengikuti pakem warna desain poster yang pernah dibuat dengan sedikit modifikasi dan penambahan.
Karena unsur desain yang dilibatkan perihal dunia perbankan tempo dulu, satu-satunya orang yang punya datang lengkap baik itu tulisan terutama foto adalah Alexxx, saya langsung mengontak untuk meminta materi foto yang dibutuhkan. Beberapa foto koleksi lama, dikirimkannya. Bagi saya proses kreatif dalam mendesainnya yang paling menyenangkan itu ketika sendiri, hanya ada beberapa suara yang kadang lewat selebihmnya fokus pada desain sambil terus menemukan alternatif-alternatif baru dalam membuat desainnya yang menyenangkan.
Saya memulainya dengan memilih jenis huruf yang pas sambil memainkan beberapa warna dan beberapa pola desain. Awal-awal mendesain masih terasa belum lepas, kadang juga masih mengumpulkan beberapa materi seperti logo dan ikon sosial media. Dari satu desain yang belum selesai, saya mencoba membuat desain dengan pola berbeda. Perlahan saya mulai menangkan desain itu. Saya melanjutnya dengan mengganti dari satu warna ke warna lainnya. Masih dengan pilihan warna yang terang.
Mengumpulkan materi desain dengan rapih bisa membantu dalam mengerjakan proses desain yang cepat. Baik foto, logo dan hal lainnya kadang bisa menyita waktu dalam proses mendesain. Belum lagi kendala lain bisa datang dari koneksi internet ada gangguan dari sekitar. Membuat desain yang baik bisa dimulai dengan memperkaya keragaman visual sembari mencoba banyak pola, penguasaan teknik juga mutlak diperlukan. Dari segi perangkat dan peranti pendukung lainnya.
Proses kreatif yang berlanjut akan menunjukan karya desain bukan hanya indah dipandang mata juga punya makna yang mendalam bagi yang bisa membacanya. Formula dan teori terasa tidak berguna tanpa mulai mendesain dari hal paling sederhana. Memainkan warna contohnya, asalkan jangan memainkan hati wanita.
Selasa, 27 Februari 2018
Fenomena Yang Sama Terulang Kembali
Dibalik jurnal harian yang sifatnya personal, terkadang timbul keinginan untuk menulis sesuatu yang terkait dengan isu yang terjadi sekarang ini. Saya menyerap sajian berita dengan berbagai cara, membaca, menguping sampai dengan menonton televisi. Politik dalam negeri sudah terlalu sering disiarkan dengan kepentingan yang berbeda beda rasanya ingin muntah. Masalah terbaru atau sebutlah fenomena yang paling mengganggu pikiran adalah pemberitaan tentang orang gila yang membantai ulama terjadi di Cicalengka, daerah yang dekat dengan Rancaekek daerah yang juga belum tergambar di pikiran saya. Seorang ulama di ponpes Al Hidayah KH. Hilmi dibantai oleh seorang lelaki bernama Asep di masjid seusai salat subuh.
Dalam pikiran saya tentu timbul pertanyaan siapa dalam dibaling itu semua. Fenomena seperti itu bukan dari segi pelaku saja yang harus ditelusuri ini terkait dengan aktor intelektual yang ada didibelakangnya.
Menceritakan latarbelakang dari seorang Asep mengalami siklus yang sama seperti lain punya keluarga dan pernah menikah, diusia 27 tahun kesehatan jiwanya terganggu kemudian menjalani pengobatan berjalan sampai pernah beberapa minggu di rumah sakit jiwa Saparua, Lembang. Asep tinggal
Acara AIMAN yang ditayangkan oleh KOMPAS TV sedikit membantu saya dalam menguasai alur kasus yang terjadi. Sang pembawa acara datang langsung ke tempat kejadian perkara dan bertanya pada kiai Dkudung yang merupakan adik kandung dari kiai Hilmi, cerita yang dikeluarkan terasa mengalir tidak ada unsur dibuat buat.
Kepolisian turut ikut bicara dalam kasus ini, cara kominikasi yang disampaikan menggunakan kerangka yang mencari aman. Kasus teror pada ulama terjadi di Jawa Barat totalnya ada 15 dari total yang ada, hanya 2 yang benar-benar terjadi yaitu di Cicalengka dan di Cigondewah yang menyerah ulama persis pak prawoto.
Akar masalah seperti ini sebelumnya pernah terjadi, ada yang menyangkut pautkan dengan kasus PKI yang bangkit lagi. Ada yang mengaiktkan dengan tahun politik yang semakin memanas dan mungkin saja kejadian semcam ini dibaut untuk membuat ketakutan para waerga sehingga peran dari seorang pelindung kepolisian menjadi penting.
Masyarkat yang kontra akan PKI akan mendukung sepenuhnn ya isu yang dibangun berkaitan dengan bangkitnya kembali partai komunis Indonesia. Teror awal yang konon dilukan juga didaerah lain pada awalnya dimulai dengan membuat coretan di dinding. Daerah daerah lain juga kena imbasnya sepeti Jakarta, Depok dan Jawa Tengah.
Kiai Hasim yang masih mengalami trauma semoga bisa cepat semmbuh. Teror-teror semcam ini dan isu jangan janganlah dijadikan senjata untucerik jualan suara di pilkada nanti,
Dalam pikiran saya tentu timbul pertanyaan siapa dalam dibaling itu semua. Fenomena seperti itu bukan dari segi pelaku saja yang harus ditelusuri ini terkait dengan aktor intelektual yang ada didibelakangnya.
Menceritakan latarbelakang dari seorang Asep mengalami siklus yang sama seperti lain punya keluarga dan pernah menikah, diusia 27 tahun kesehatan jiwanya terganggu kemudian menjalani pengobatan berjalan sampai pernah beberapa minggu di rumah sakit jiwa Saparua, Lembang. Asep tinggal
Acara AIMAN yang ditayangkan oleh KOMPAS TV sedikit membantu saya dalam menguasai alur kasus yang terjadi. Sang pembawa acara datang langsung ke tempat kejadian perkara dan bertanya pada kiai Dkudung yang merupakan adik kandung dari kiai Hilmi, cerita yang dikeluarkan terasa mengalir tidak ada unsur dibuat buat.
Kepolisian turut ikut bicara dalam kasus ini, cara kominikasi yang disampaikan menggunakan kerangka yang mencari aman. Kasus teror pada ulama terjadi di Jawa Barat totalnya ada 15 dari total yang ada, hanya 2 yang benar-benar terjadi yaitu di Cicalengka dan di Cigondewah yang menyerah ulama persis pak prawoto.
Akar masalah seperti ini sebelumnya pernah terjadi, ada yang menyangkut pautkan dengan kasus PKI yang bangkit lagi. Ada yang mengaiktkan dengan tahun politik yang semakin memanas dan mungkin saja kejadian semcam ini dibaut untuk membuat ketakutan para waerga sehingga peran dari seorang pelindung kepolisian menjadi penting.
Masyarkat yang kontra akan PKI akan mendukung sepenuhnn ya isu yang dibangun berkaitan dengan bangkitnya kembali partai komunis Indonesia. Teror awal yang konon dilukan juga didaerah lain pada awalnya dimulai dengan membuat coretan di dinding. Daerah daerah lain juga kena imbasnya sepeti Jakarta, Depok dan Jawa Tengah.
Kiai Hasim yang masih mengalami trauma semoga bisa cepat semmbuh. Teror-teror semcam ini dan isu jangan janganlah dijadikan senjata untucerik jualan suara di pilkada nanti,
Kamis, 08 Februari 2018
Secangkir Long Black di Kamar Tujuh Koffie
"Cilamaya disebalah mana pak?"
"Dari sini puter balik kebawah, Cilamaya jalannya nggak panjang dibelakang gedung sate"
Saya lalu mulai menikmati sepiring baso tahu hokkie untuk mengurangi lapar sore itu. Saat itu disebalah saya duduk seorang bapak yang umurnya cukup tua, saya mengomentari tentang gedung sate yang ukurannya cukup besar. Sebelumnya pada pedagang bebas berjualan didalam, bapak penjualnya ikut bercerita pada saat mengirmkan pesanan baso tahu para pegawai gedung sate, dia dibuat bingung untuk mengelilingi gedungnya. Dibuat diputar putar, menuruni tangga demi tangga yang lokasinya masih jauh. Masa pemerintahan Walikota Aa Tarmana dan Dada Rosada pernah dialaminya. Begitu juga walikota Ateng Wahyudi,
Dari obrolan walikota berlanjut ke obrolan presiden, bapak ini pernah merasakan hidup dimasa pemerintahan Soeharto yang tumbang menurutnya tahun 1997. Pada masa pak Harto orang orang yang sedikit saja menentang pemerintah akan bilang banyak mahasiswa ITB yang hilang. Ia berpikiran pola pemerintahan untuk mengilangkan seseorang itu dengan iming iming akan diberi pekerjaan, saat ia dibawa kesuatu tempat langsung menembaknya ditempat. Musisi sepeti Iwan Fals saja sempat dipenjara beberapa kali begitu juga Rhoma Irama, karena lagu Oemar Bakri dan Bento iwan Fals ditahan Rhoma Irama karena lagu yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Setiap pemerintahan dalam sudut pandang masyarakat biasa punya kekejaman masing-masing. Pada era SBY konon terjadi kriminalisasi KPK, pada masa Jokowi kasus penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga diusut tuntas. Pelaku sekaligus aktor intelektualnya belum terungkap. Waktu Pilkada juga Pilpleres menjadi waktu yang rawan mengingat belum ada saingan berat bagi seorang Jokowi selain dari Prabowo. Mengulang masa lalu, saya kira Prabowo seharusny jadi presiden Indonesia karena ada kecurangan maka Jokowilah yang terpilih. Dengar dari cerita Megawatilah yang berperan untuk itu semua, daerah Papua yang pro prabowo hasil TPS dibuat kelaut oleh orang suruhannya. Daerah Madura yang semuanya mendukung ketua Gerinda itu hasil perhitangan suaranya hilang.
Lewat penjual baso tahu tadi membuat orbolan baru yang cukup sekian lama tidak terjalanin. Mengawali pertanyaan kecil tentu menjadi efektif. Saya melanjutkan ke Cilamaya tepatnya Kamar Tujuh Koffie dengan niatan menyelesaikan tulisan. Lokasi kedainya ada di area hotel bumi asil dengan bangunan lama yang masih asri dan dipertahankan. Saya memilih tempat duduk diluat yang masih kosong lalu memesan secangkir kopi long black didalam. Kedai itu lebih menyerupai coffee shop didalamnya tidak banyak tempat duduk memang sengaja dibuat seperti bar. Saya menunggau secangkir long black diantarkan sambil mulai membuka laptop untuk mencari cari informasi tentnag beasiswa LPDB.
Tidak lama berselang datanglah Ghera, ketika itu belum ada kursi yang kosong. Saya ikut mencarikan tempat duduk, dia memesan kopi aja saya tergantung dari selera barista yang membuat kopinya. Dia baru pulang dari survei, datangnya tidak sendirian bersama sama dengan teman-temannya ada Ricky, kemudian seorang pria yang anggota aleut juga pada era Atria. bersama pacarany juga yang berhijab. Didepannya ada Ricky Arnold yang pernah bekerja di Provoke. Wajah saya sendiri sebenarnya tidak asing lagi karena katanya pernah ditemuai saat meliput bersama disebuah acara.
Pekerjaan Ghera memag dibilang cukup banyak, saya diminta untuk menuliskan tentang topik destitnasi. Semua berkaitan dengan wisatawan. Obrolan juga seidkit menyinggung tentang media hari ini.
Topik obrolan seru adalah tentnag keyakinan, ada yang dalam otaknya sudha tertanam mitoligo kalau orang Cina itu dari RRC dan kristen maka pergaulan semacam ini bagi beberapa orang amat dihindari. Lalu ulasan tentang banyak orang berhijrah dengan landasan utamanya tentnag kematian kalau dari segi perempuannya sendiri karena persoalan jatuh cinta lalu berhijrah. Semua itu berlanjut pada permasalah bagaimana seseorang bisa menikah dengan seseorang yang tidka dikenalanya dengan baik.
Dampak dari itu kadang sulit bagi yang menikah menemukan kekeurangan dari pasangnya. Disela sela obrolan "Perempuan itu harus rela dimadu dan lelaki diracun" seketika saja syaa tertawa. Ada yang menganggap kenapa tidak dikomunikasikan saja segala kekurangan pasangan agar mudah dimengerti nantinya. Tentu saja utnuk dirananh rumah tangga hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk ukurna Psikolog saja bisa cerangan apalagi bagi orang bisa. Tidak pernah ada cinta yang jalinannya manis tuan dan nona.
Datanglah seorang perempuan yang mengeluhkan kondisi rumahnya yang berisik akan sura sound dari trans tv. Kasus tentang pembunuhan seorang guru juga sempat dibahas. bahkan sadisnya sampai ada permainan untuk menghantam guru.
"Dari sini puter balik kebawah, Cilamaya jalannya nggak panjang dibelakang gedung sate"
Saya lalu mulai menikmati sepiring baso tahu hokkie untuk mengurangi lapar sore itu. Saat itu disebalah saya duduk seorang bapak yang umurnya cukup tua, saya mengomentari tentang gedung sate yang ukurannya cukup besar. Sebelumnya pada pedagang bebas berjualan didalam, bapak penjualnya ikut bercerita pada saat mengirmkan pesanan baso tahu para pegawai gedung sate, dia dibuat bingung untuk mengelilingi gedungnya. Dibuat diputar putar, menuruni tangga demi tangga yang lokasinya masih jauh. Masa pemerintahan Walikota Aa Tarmana dan Dada Rosada pernah dialaminya. Begitu juga walikota Ateng Wahyudi,
Dari obrolan walikota berlanjut ke obrolan presiden, bapak ini pernah merasakan hidup dimasa pemerintahan Soeharto yang tumbang menurutnya tahun 1997. Pada masa pak Harto orang orang yang sedikit saja menentang pemerintah akan bilang banyak mahasiswa ITB yang hilang. Ia berpikiran pola pemerintahan untuk mengilangkan seseorang itu dengan iming iming akan diberi pekerjaan, saat ia dibawa kesuatu tempat langsung menembaknya ditempat. Musisi sepeti Iwan Fals saja sempat dipenjara beberapa kali begitu juga Rhoma Irama, karena lagu Oemar Bakri dan Bento iwan Fals ditahan Rhoma Irama karena lagu yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.
Setiap pemerintahan dalam sudut pandang masyarakat biasa punya kekejaman masing-masing. Pada era SBY konon terjadi kriminalisasi KPK, pada masa Jokowi kasus penyiraman air keras penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga diusut tuntas. Pelaku sekaligus aktor intelektualnya belum terungkap. Waktu Pilkada juga Pilpleres menjadi waktu yang rawan mengingat belum ada saingan berat bagi seorang Jokowi selain dari Prabowo. Mengulang masa lalu, saya kira Prabowo seharusny jadi presiden Indonesia karena ada kecurangan maka Jokowilah yang terpilih. Dengar dari cerita Megawatilah yang berperan untuk itu semua, daerah Papua yang pro prabowo hasil TPS dibuat kelaut oleh orang suruhannya. Daerah Madura yang semuanya mendukung ketua Gerinda itu hasil perhitangan suaranya hilang.
Lewat penjual baso tahu tadi membuat orbolan baru yang cukup sekian lama tidak terjalanin. Mengawali pertanyaan kecil tentu menjadi efektif. Saya melanjutkan ke Cilamaya tepatnya Kamar Tujuh Koffie dengan niatan menyelesaikan tulisan. Lokasi kedainya ada di area hotel bumi asil dengan bangunan lama yang masih asri dan dipertahankan. Saya memilih tempat duduk diluat yang masih kosong lalu memesan secangkir kopi long black didalam. Kedai itu lebih menyerupai coffee shop didalamnya tidak banyak tempat duduk memang sengaja dibuat seperti bar. Saya menunggau secangkir long black diantarkan sambil mulai membuka laptop untuk mencari cari informasi tentnag beasiswa LPDB.
Tidak lama berselang datanglah Ghera, ketika itu belum ada kursi yang kosong. Saya ikut mencarikan tempat duduk, dia memesan kopi aja saya tergantung dari selera barista yang membuat kopinya. Dia baru pulang dari survei, datangnya tidak sendirian bersama sama dengan teman-temannya ada Ricky, kemudian seorang pria yang anggota aleut juga pada era Atria. bersama pacarany juga yang berhijab. Didepannya ada Ricky Arnold yang pernah bekerja di Provoke. Wajah saya sendiri sebenarnya tidak asing lagi karena katanya pernah ditemuai saat meliput bersama disebuah acara.
Pekerjaan Ghera memag dibilang cukup banyak, saya diminta untuk menuliskan tentang topik destitnasi. Semua berkaitan dengan wisatawan. Obrolan juga seidkit menyinggung tentang media hari ini.
Topik obrolan seru adalah tentnag keyakinan, ada yang dalam otaknya sudha tertanam mitoligo kalau orang Cina itu dari RRC dan kristen maka pergaulan semacam ini bagi beberapa orang amat dihindari. Lalu ulasan tentang banyak orang berhijrah dengan landasan utamanya tentnag kematian kalau dari segi perempuannya sendiri karena persoalan jatuh cinta lalu berhijrah. Semua itu berlanjut pada permasalah bagaimana seseorang bisa menikah dengan seseorang yang tidka dikenalanya dengan baik.
Dampak dari itu kadang sulit bagi yang menikah menemukan kekeurangan dari pasangnya. Disela sela obrolan "Perempuan itu harus rela dimadu dan lelaki diracun" seketika saja syaa tertawa. Ada yang menganggap kenapa tidak dikomunikasikan saja segala kekurangan pasangan agar mudah dimengerti nantinya. Tentu saja utnuk dirananh rumah tangga hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk ukurna Psikolog saja bisa cerangan apalagi bagi orang bisa. Tidak pernah ada cinta yang jalinannya manis tuan dan nona.
Datanglah seorang perempuan yang mengeluhkan kondisi rumahnya yang berisik akan sura sound dari trans tv. Kasus tentang pembunuhan seorang guru juga sempat dibahas. bahkan sadisnya sampai ada permainan untuk menghantam guru.
Langganan:
Postingan (Atom)